Konten dari Pengguna

Dari Nostalgia Jadi Tren: Mengapa Semua Orang Ingin Kembali ke 2016?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azliah Azzarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Generated AI
zoom-in-whitePerbesar
Generated AI

Ada satu hal menarik yang belakangan kembali ramai di media sosial: 2016. Tahun yang sebenarnya sudah satu dekade berlalu itu tiba-tiba terasa seperti “zaman yang lebih sederhana”. Foto dengan efek kamera jadul, lagu-lagu hits 2016, gaya berpakaian era Tumblr, hingga tren media sosial lama kembali bermunculan.

Di TikTok dan platform media sosial lainnya, nostalgia terhadap 2016 sering muncul dalam bentuk video kompilasi, foto lama, hingga ajakan untuk “kembali ke 2016”. Bagi sebagian orang, ini bukan sekadar mengingat masa lalu. Ada perasaan bahwa kehidupan pada masa tersebut terasa lebih menyenangkan dibandingkan sekarang.

Jika melihat kembali ke 2016, banyak budaya populer yang masih melekat sampai sekarang. Musik seperti Closer dari The Chainsmokers, One Dance dari Drake, Cheap Thrills dari Sia, hingga This Is What You Came For dari Calvin Harris menjadi bagian dari soundtrack kehidupan generasi muda saat itu.

Di dunia internet, Instagram dan Snapchat sedang berkembang pesat. Filter wajah, foto dengan tone tertentu, meme, hingga budaya Tumblr menjadi bagian dari keseharian anak muda. TikTok yang sekarang mendominasi media sosial pun belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari seperti saat ini.

Bagi generasi yang mengalami masa tersebut, 2016 bukan hanya sebuah angka. Tahun itu menyimpan kenangan tentang sekolah, pertemanan, musik, gaya berpakaian, hingga momen-momen sebelum kehidupan digital terasa begitu intens.

Fenomena ini sebenarnya berkaitan dengan nostalgia. Ketika seseorang mengingat masa lalu, yang muncul bukan hanya kejadian, tetapi juga emosi yang menyertainya.

Menariknya, nostalgia sering membuat masa lalu terlihat lebih indah daripada kenyataannya. Kita cenderung mengingat momen menyenangkan dan melupakan berbagai masalah yang pernah terjadi.

Karena itu, ketika kehidupan saat ini terasa penuh tekanan, tidak mengherankan jika masa lalu kembali menjadi tempat pelarian emosional.

Media sosial kemudian memperkuat fenomena tersebut. Algoritma dapat mempertemukan pengguna dengan konten lama secara berulang-ulang. Satu video tentang 2016 dapat memunculkan video lain berisi lagu, fashion, meme, atau foto dari era yang sama.

Gaya foto dengan flash, kamera digital lama, kualitas gambar yang sedikit buram, pakaian bergaya 2010-an, hingga penggunaan lagu-lagu lama kembali digunakan dalam konten media sosial.

Dengan kata lain, orang-orang tidak hanya mengingat 2016. Mereka mencoba menciptakan kembali suasananya, fenomena ini mirip dengan tren Y2K yang sebelumnya populer. Perbedaannya, nostalgia 2016 terasa lebih dekat karena banyak orang yang saat ini masih mengingat pengalaman mereka pada masa tersebut.

Pada akhirnya, tren “kembali ke 2016” mungkin bukan benar-benar tentang ingin memutar waktu. Ini tentang kerinduan terhadap masa ketika hidup terasa lebih sederhana.

Dan mungkin, alasan mengapa 2016 terasa begitu istimewa bukan karena tahun tersebut benar-benar sempurna, tetapi karena setiap orang memiliki kenangan yang membuat masa itu terasa seperti rumah. Kini, setelah sepuluh tahun berlalu, 2016 bukan lagi sekadar tahun di kalender. Ia telah berubah menjadi sebuah simbol: masa lalu yang ingin kita kunjungi kembali, meski hanya melalui layar ponsel.