Konten dari Pengguna

Dia Minta Maaf, Tapi Kenapa Kesalahannya Terulang?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azliah Azzarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Maaf ya, aku janji nggak akan mengulanginya lagi."

Kalimat seperti ini mungkin terdengar akrab bagi banyak orang. Setelah pertengkaran, kebohongan, atau sikap yang menyakiti, permintaan maaf sering kali menjadi penutup konflik. Sesaat hubungan terasa membaik, suasana kembali tenang, dan harapan pun muncul bahwa semuanya akan berubah menjadi lebih baik.

Fenomena ini sering terjadi, baik dalam hubungan asmara, pertemanan, maupun keluarga. Permintaan maaf memang penting karena menunjukkan pengakuan atas kesalahan. Akan tetapi, permintaan maaf bukanlah bukti bahwa seseorang benar-benar berubah. Perubahan baru dapat terlihat ketika perilaku ikut berubah secara konsisten.

Generated Gpt AI

Dalam psikologi, perubahan perilaku membutuhkan kesadaran, komitmen, dan usaha yang nyata. Seseorang yang benar-benar ingin memperbaiki diri biasanya tidak hanya mengucapkan kata "maaf", tetapi juga berusaha memahami dampak dari tindakannya, mencari penyebab perilakunya, dan menghindari mengulanginya di kemudian hari.

Sebaliknya, ada orang yang meminta maaf hanya untuk meredakan konflik. Setelah situasi kembali tenang, mereka kembali melakukan tindakan yang sama karena akar masalahnya tidak pernah diselesaikan. Dalam kondisi seperti ini, permintaan maaf menjadi semacam "jalan pintas" agar hubungan tetap berjalan tanpa ada perubahan yang berarti.

Pola tersebut sering disebut sebagai cycle of abuse atau siklus perilaku yang berulang. Siklus ini biasanya dimulai dari munculnya masalah, dilanjutkan dengan konflik, kemudian pelaku meminta maaf dan berjanji akan berubah. Korban mulai percaya dan memberikan kesempatan baru. Namun, setelah keadaan membaik, perilaku yang sama kembali muncul sehingga siklus tersebut terus berulang.

Yang membuat situasi ini semakin rumit adalah harapan. Banyak orang bertahan karena percaya bahwa orang yang mereka sayangi suatu saat akan berubah. Harapan tentu bukan sesuatu yang salah. Namun, ketika harapan terus dipertahankan tanpa melihat tindakan nyata, seseorang berisiko terjebak dalam hubungan yang tidak sehat.

Tidak semua orang yang mengulang kesalahan memiliki niat buruk. Ada yang memang sedang berjuang mengubah kebiasaan buruk, mengelola emosi, atau belajar berkomunikasi dengan lebih baik. Karena itu, penting untuk melihat apakah ada perkembangan yang konsisten dari waktu ke waktu, bukan hanya mendengar janji yang diucapkan setiap kali terjadi konflik.

Ada beberapa pertanyaan yang bisa menjadi bahan refleksi. Apakah permintaan maaf itu diikuti dengan perubahan perilaku? Apakah orang tersebut berusaha memperbaiki kesalahannya, atau hanya mengulang pola yang sama? Apakah hubungan tersebut membuatmu merasa lebih aman dan dihargai, atau justru terus dipenuhi rasa cemas dan kecewa?

Hubungan yang sehat tidak ditandai dengan tidak pernah melakukan kesalahan. Semua orang bisa keliru. Yang membedakan adalah kesediaan untuk bertanggung jawab dan berusaha berubah. Permintaan maaf seharusnya menjadi awal dari perubahan, bukan sekadar kalimat yang terus diulang setiap kali kesalahan yang sama terjadi.

Pada akhirnya, setiap orang berhak memberi kesempatan kedua. Namun, kesempatan juga perlu disertai batasan yang jelas. Sebab, memaafkan adalah pilihan yang mulia, tetapi mengabaikan pola yang terus menyakiti diri sendiri bukanlah bentuk kasih sayang, melainkan pengorbanan yang bisa menguras kesehatan emosional.