Gen Z Tak Hanya Mengejar Gaji: Mengapa Work-Life Balance Kini Jadi Prioritas?

Saya merupakan mahasiswa universitas pamulang program studi Ilmu Komunikasi
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Azliah Azzarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Melihat survei pada tahun 2025 yang melibatkan lebih dari 23.000 responden dari 44 negara menunjukkan bahwa Gen Z mencari tiga hal utama dalam pekerjaan, yaitu uang, makna, dan kesejahteraan. Menariknya hanya 6% Gen Z yang menjadikan posisi kepemimpinan sebagai tujuan utama karier mereka.
Sebaliknya, sebagian besar lebih mengutamakan keseimbangan hidup dan kesempatan untuk terus belajar.
Survei tersebut juga menemukan bahwa 89% Gen Z menganggap memiliki tujuan atau makna dalam pekerjaan sangat penting bagi kepuasan kerja dan kesejahteraan hidup mereka. Artinya besar gaji bukan lagi satu-satunya alasan seseorang bertahan di sebuah perusahaan. 2025 Gen Z and millennial survey | Deloitte Insights.
Kesadaran terhadap pentingnya kesehatan mental menjadi salah satu faktor utama yang mendorong Gen z memilih pekerjaan dengan jam kerja yang lebih fleksibel. Mereka cenderung menghindari budaya hustle culture yang mengharuskan seseorang bekerja tanpa mengenal waktu.
Pandemi COVID-19 menjadi titik balik bagi banyak pekerja muda. Sistem kerja jarak jauh (remote working) membuat mereka menyadari bahwa produktivitas tidak selalu ditentukan oleh lamanya waktu berada di kantor.
Kini, fleksibilitas bekerja dari rumah, jam kerja yang lebih manusiawi, hingga perusahaan yang peduli terhadap kesehatan mental menjadi nilai tambah yang sangat diperhitungkan ketika memilih pekerjaan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pandemi mengubah ekspektasi pekerja terhadap hubungan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Meski sering dianggap tidak terlalu mementingkan uang, kenyataannya Gen Z tetap memperhatikan aspek finansial. Deloitte mencatat bahwa 48% Gen Z masih merasa belum memiliki kondisi finansial yang aman. Namun, mereka ingin memperoleh penghasilan yang layak tanpa harus mengorbankan kesehatan fisik maupun mental.
Perubahan preferensi Gen Z menjadi tantangan sekaligus peluang bagi perusahaan. Organisasi yang ingin menarik dan mempertahankan talenta muda perlu menyediakan lingkungan kerja yang sehat, fleksibilitas kerja, peluang pengembangan karier, serta budaya kerja yang menghargai keseimbangan hidup.
Perusahaan yang masih mempertahankan budaya kerja dengan jam lembur berlebihan berisiko kehilangan talenta terbaik karena semakin banyak pekerja muda yang berani meninggalkan pekerjaan demi menjaga kualitas hidup mereka.
