Konten dari Pengguna

“Nanti Juga Berguna”: Saat Sulit Membuang Barang Hoarding Disorder

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azliah Azzarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Nanti juga berguna.”

Kalimat sederhana ini mungkin sering terdengar ketika seseorang diminta membuang barang yang sudah lama tidak digunakan. Baju yang sudah kekecilan, kardus bekas, kabel yang tidak diketahui fungsinya, hingga barang rusak bisa tetap disimpan karena dianggap suatu hari akan dibutuhkan.

Generated AI
zoom-in-whitePerbesar
Generated AI

Menyimpan barang sebenarnya bukan sesuatu yang aneh. Hampir setiap orang memiliki benda yang disimpan karena memiliki nilai sentimental atau masih mungkin digunakan. Namun, ketika seseorang terus-menerus mengalami kesulitan membuang barang hingga membuat rumah penuh dan mengganggu kehidupan sehari-hari , kondisi tersebut dapat menyebabkan gangguan penimbunan atau gangguan menimbun.

Hoarding disorder merupakan kondisi ketika seseorang mengalami kesulitan yang menetap untuk membuang atau berpisah dari barang-barang karena merasa barang tersebut harus disimpan. Bahkan, pikiran untuk membuangnya dapat menimbulkan tekanan emosional.

Menurut Mayo Clinic, orang dengan kondisi ini dapat terus mengumpulkan barang tanpa mempertimbangkan nilai sebenarnya dari barang tersebut. Akibatnya, ruang yang seharusnya digunakan untuk tidur, memasak, bekerja, atau beraktivitas dapat berubah menjadi tempat penyimpanan. Artinya, persoalannya bukan semata-mata tentang rumah yang berantakan . Ada kesulitan dalam mengambil keputusan, ketidakpastian emosi terhadap barang, serta rasa tidak nyaman ketika harus melepaskannya| mayoclinic.org

Mayo Clinic juga menyebut bahwa orang dengan hoarding disorder terkadang tidak menyadari atau tidak menganggap perilakunya sebagai masalah, sehingga proses untuk mendapatkan bantuan dapat menjadi tantangan tersendiri. Namun, terapi intensif dapat membantu mengubah pola pikir dan perilaku yang berkaitan dengan penimbunan.

Pada akhirnya, hoarding disorder mengajarkan bahwa masalah tidak selalu terlihat dari jumlah barang yang dimiliki seseorang.

Ada orang yang rumahnya penuh barang tetapi masih bisa mengatur dan menggunakannya dengan baik. Sebaliknya, ada kondisi ketika barang yang sebenarnya sudah tidak diperlukan justru menjadi sesuatu yang sangat sulit dilepaskan, kalimat “nanti juga berguna” mungkin terdengar sederhana. Namun, jika hampir semua barang harus disimpan, ruang hidup semakin sempit, aktivitas sehari-hari terganggu, dan membuang satu benda saja menimbulkan tekanan yang besar, permasalahannya mungkin sudah lebih dari sekadar kebiasaan.

Sebab, terkadang yang sulit dibuang bukanlah barangnya, melainkan perasaan, kenangan, ketakutan, dan keyakinan yang melekat pada barang tersebut . Dan ketika barang mulai mengambil alih ruang untuk hidup, mungkin sudah waktunya untuk berhenti bertanya, “Barang ini masih berguna atau tidak?” dan mulai bertanya, “Apakah barang ini masih membuat hidup saya lebih baik?”