Konten dari Pengguna

Revisi Lagi, Revisi Lagi: Ketika ACC Skripsi Terasa Seperti Jalan Tanpa Ujung

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azliah Azzarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Generated gemini ai
zoom-in-whitePerbesar
Generated gemini ai

Bagi mahasiswa tingkat akhir, kata “ACC” mungkin menjadi salah satu kata yang paling dinantikan. Setelah berbulan-bulan mengerjakan skripsi, mencari referensi, menyusun bab demi bab, hingga menghadapi berbagai revisi, mendapatkan persetujuan dari dosen pembimbing seharusnya menjadi tanda bahwa perjuangan mulai mendekati garis akhir.

Namun, bagaimana jika yang terjadi justru sebaliknya?

“Revisi lagi, ya.”

Kalimat sederhana tersebut terkadang mampu membuat mahasiswa kembali membuka laptop dengan perasaan campur aduk. Bagian yang sebelumnya dianggap sudah selesai ternyata masih harus diperbaiki. Setelah diperbaiki, muncul catatan baru. Begitu seterusnya hingga mahasiswa merasa bahwa skripsinya tidak pernah benar-benar mencapai titik akhir.

Dosen pembimbing memiliki peran penting untuk memastikan mahasiswa tidak hanya menyelesaikan skripsi, tetapi juga memahami apa yang mereka tulis. Masalahnya bukan pada revisi itu sendiri, melainkan ketika mahasiswa mulai merasa tidak memahami arah revisi yang diberikan.

Satu revisi selesai, muncul revisi lain. Ketika mahasiswa bertanya bagian mana yang masih kurang, terkadang jawabannya terasa terlalu umum seperti “diperbaiki lagi”, “kurang tepat”, atau “coba baca lagi".

Skripsi bukan hanya persoalan akademik. Di balik lembaran penelitian yang terlihat formal, ada mahasiswa yang harus berhadapan dengan rasa lelah, tekanan dari lingkungan, tuntutan keluarga, biaya kuliah, hingga kekhawatiran mengenai masa depan.

Ketika proses bimbingan berlangsung berulang kali tanpa kejelasan mengenai target penyelesaian, tekanan tersebut dapat terasa semakin berat.

Ada mahasiswa yang mulai membandingkan dirinya dengan teman-temannya.

“Teman saya sudah sidang, kenapa saya masih revisi?”

“Kenapa punya orang lain lebih cepat?”

“Apakah saya memang tidak mampu?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat muncul ketika proses skripsi berjalan lebih lama dari yang diharapkan.

Padahal, setiap mahasiswa memiliki kondisi penelitian, dosen pembimbing, metode, serta tingkat kesulitan yang berbeda. Kecepatan seseorang menyelesaikan skripsi tidak selalu bisa dijadikan ukuran kemampuan mahasiswa lainnya.

Karena itu, proses bimbingan seharusnya menjadi ruang belajar, bukan sekadar ruang untuk menunggu keputusan apakah skripsi sudah “layak” atau belum.

Mahasiswa membutuhkan arahan yang jelas agar tahu apa yang harus diperbaiki. Dosen membutuhkan mahasiswa yang serius dan bertanggung jawab terhadap penelitiannya. Keduanya sebenarnya memiliki tujuan yang sama yaitu menghasilkan karya ilmiah yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan.