Slogan 'Banyak Anak Banyak Rezeki' Mulai Ditinggalkan Gen Z?

Saya merupakan mahasiswa universitas pamulang program studi Ilmu Komunikasi
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Azliah Azzarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
“Banyak anak banyak rezeki” merupakan ungkapan yang cukup familiar bagi masyarakat Indonesia. Slogan ini menggambarkan pandangan bahwa kehadiran anak dalam keluarga bukan hanya menjadi tanggung jawab, tetapi juga dianggap sebagai pembawa rezeki.
Namun, ketika melihat kehidupan generasi muda saat ini, pandangan tersebut mulai mendapat pertimbangan baru. Bagi sebagian Gen Z, memiliki anak bukan sekadar persoalan rezeki yang akan datang setelah kelahiran, tetapi juga tentang kesiapan untuk memenuhi kebutuhan anak dalam jangka panjang.

Gen Z berada pada kondisi yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka hidup ketika biaya kebutuhan sehari-hari, pendidikan, tempat tinggal, kesehatan, hingga kebutuhan anak menjadi hal yang perlu dipertimbangkan sejak awal.
Memiliki anak berarti bukan hanya menyiapkan kebutuhan ketika bayi, tetapi juga memikirkan biaya pendidikan, makanan, kesehatan, tempat tinggal, hingga kebutuhan sosial dan perkembangan anak.
Karena itu, tidak sedikit anak muda yang memilih untuk tidak terburu-buru memiliki anak setelah menikah. Mereka ingin memastikan kondisi finansial dan kehidupan rumah tangga sudah cukup stabil sebelum mengambil keputusan tersebut. Bagi mereka, persoalannya bukan tidak percaya bahwa anak membawa rezeki. Namun, mereka juga merasa bahwa rezeki perlu diusahakan dan direncanakan.
Pandangan Gen Z terhadap pernikahan dan keluarga juga semakin berkembang. Jika dahulu keputusan memiliki anak sering dianggap sebagai bagian otomatis dari kehidupan setelah menikah, kini sebagian anak muda melihatnya sebagai keputusan yang membutuhkan kesiapan.
Kesiapan tersebut tidak hanya berkaitan dengan uang. Ada pula kesiapan mental, waktu, hubungan dengan pasangan, kondisi tempat tinggal, hingga kemampuan memberikan pengasuhan yang baik. Bagi mereka, memiliki anak seharusnya bukan karena tuntutan keluarga atau anggapan bahwa “nanti juga ada rezekinya”, melainkan karena memang sudah siap menjadi orang tua.
