Konten dari Pengguna

Diskriminasi Usia di Tempat Kerja

Azra Aulia Rahman

Azra Aulia Rahman

Psychology Graduate

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azra Aulia Rahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pekerja yang stres setelah sekian kali ditolak lamaran kerjanya. Sumber: Canva oleh rattanakun
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pekerja yang stres setelah sekian kali ditolak lamaran kerjanya. Sumber: Canva oleh rattanakun

Meskipun perbincangan seputar keberagaman dan inklusi telah memperoleh perhatian yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, satu kelompok demografi sering kali terabaikan: pekerja yang lebih tua. Diskriminasi usia, stereotip, prasangka, dan diskriminasi terhadap individu atau kelompok berdasarkan usia mereka, tetap menjadi masalah yang meluas di tempat kerja, yang tidak hanya memengaruhi individu tetapi juga ekonomi dan masyarakat secara keseluruhan.

1. Mitos dan Kenyataan

Diskriminasi usia sering kali dipicu oleh stereotip yang sudah ketinggalan zaman. Pekerja yang lebih tua sering kali dianggap tidak produktif, menolak perubahan, tidak cakap dalam teknologi, atau kurang memiliki dorongan dan inovasi. Namun, asumsi-asumsi ini jarang didasarkan pada kenyataan. Sebuah studi oleh AARP menemukan bahwa pekerja yang lebih tua menunjukkan tingkat kemahiran teknologi yang sama dengan rekan-rekan mereka yang muda, etos kerja yang kuat, dan berwawasan luas serta pengalaman berharga yang lebih banyak daripada mereka yang lebih muda (AARP, 2016).

2. Dampak pada Individu dan Perekonomian

Bagi pekerja yang lebih tua, diskriminasi usia dapat terwujud dalam berbagai cara, mulai dari tidak dipromosikan hingga menghadapi praktik perekrutan yang diskriminatif dan bahkan mengalami bullying dan pelecehan terkait usia. Penelitian oleh Federal Reserve Bank of San Fransisco mengungkapkan bahwa pekerja yang lebih tua menghadapi periode pengangguran yang jauh lebih lama dibandingkan dengan individu yang lebih muda (Neumark, Burn, & Button, 2017). Hal ini tidak hanya mengakibatkan masalah finansial tetapi juga berdampak pada self esteem, kesehatan mental, dan kesejahteraannya.

Dampak ekonomi dari diskriminasi usia juga sama memprihatinkannya. Ketika pekerja yang terampil dan berpengalaman dipaksa keluar dari dunia kerja sebelum waktunya, perusahaan kehilangan keahlian dan pengetahuan yang berharga. Hilangnya tenaga kerja ini dapat menghambat inovasi dan membatasi pertumbuhan ekonomi.

3. Upaya Kolektif

Menangani diskriminasi usia memerlukan pendekatan interdisipliner yang melibatkan kesadaran individu, perubahan organisasi, dan intervensi kebijakan.

  • Menentang Stereotip: Individu dapat secara aktif menentang asumsi yang diskriminatif terhadap usia. Mendidik diri sendiri dan orang lain tentang realitas penuaan dan merayakan kontribusi pekerja yang lebih tua sangatlah penting. Dilakukannya kampanye sangat membantu untuk menentang stereotip khususnya di praktik rekrutmen, aspek paling merugikan bagi pekerja yang berusia lebih tua.

  • Membina Tempat Kerja yang Inklusif: Organisasi dapat menerapkan praktik perekrutan yang inklusif terhadap usia, memberikan pelatihan tentang keberagaman usia, dan membuat program bimbingan yang menjembatani kesenjangan antargenerasi. Menghargai pengalaman dan menawarkan kesempatan untuk meningkatkan dan melatih keterampilan sangatlah penting.

  • Kerangka Kebijakan dan Hukum: Pemerintah berperan penting dengan memperkuat undang-undang terhadap diskriminasi usia, menegakkan hukum yang didasari oleh HAM mengenai Hak Untuk Bekerja (The Right To Work), mempromosikan keberagaman usia di tempat kerja, dan mendukung program yang membantu pekerja yang lebih tua tetap terlibat dan bekerja.

4. Masa Depan Pekerjaan: Merangkul Keberagaman Usia

Seiring bertambahnya usia penduduk, merangkul keberagaman usia bukan lagi sekadar masalah keadilan sosial, tetapi kebutuhan ekonomi. Menciptakan tempat kerja yang inklusif di mana individu dari segala usia merasa dihargai, dihormati, dan diberdayakan untuk menyumbangkan keterampilan mereka akan sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Dengan menghapus diskriminasi usia dan memanfaatkan potensi tenaga kerja antargenerasi, kita dapat membangun keberlangsungan yang lebih adil, setara, dan sejahtera bagi semua.

Referensi:

AARP. (2016). Disrupting Aging at Work.

(Neumark, Burn, & Button, 2017). Age Discrimination and Hiring of Older Workers. The Federal Reserve Bank of San Fransisco.