Konten dari Pengguna

Keras atau Bebas? Dilema Pola Asuh Anak di Zaman Sekarang

Azra Qiwamil Qisthi Harahap SH

Azra Qiwamil Qisthi Harahap SH

Mahasiswa Magister Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta yang tertarik pada dunia kepenulisan, khususnya topik pendidikan, sosial, hukum Islam, dan isu-isu keislaman dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azra Qiwamil Qisthi Harahap SH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ibu dan anak. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu dan anak. Foto: Pixabay

Pola asuh anak di zaman sekarang sering menjadi perdebatan. Di tengah perubahan yang begitu cepat, banyak orang tua merasa berada diposisi yang serba salah saat harus menentukan cara mendidik anak.

Pernah nggak sih, orang tua merasa bingung harus bersikap seperti apa? Mau tegas takut anak jadi tertekan atau menjauh, tapi kalau terlalu dibebaskan juga khawatir anak kehilangan arah. Dilema seperti ini rasanya makin sering muncul di kehidupan sehari-hari.

Perubahan zaman memang membawa tantangan tersendiri. Akses teknologi yang luas, lingkungan pergaulan yang semakin beragam, hingga cara komunikasi yang terus berkembang membuat orang tua dituntut untuk lebih adaptif. Cara mendidik yang dulu dianggap efektif, belum tentu relevan untuk anak-anak masa kini.

Di satu sisi, ada orang tua yang memilih pola asuh tegas. Aturan dibuat jelas, disiplin ditegakkan, dan anak dibiasakan untuk patuh. Tujuannya tentu baik, agar anak tumbuh dengan batasan yang kuat dan memahami mana yang benar dan salah. Namun, jika dilakukan tanpa pendekatan yang tepat, sikap keras justru bisa membuat anak merasa tertekan dan enggan terbuka kepada orang tua.

Di sisi lain, tidak sedikit orang tua yang memilih memberikan kebebasan. Anak diberi ruang untuk berekspresi, menentukan pilihan, dan belajar dari pengalaman. Pendekatan ini sering dianggap lebih sesuai dengan perkembangan zaman karena memberi kepercayaan kepada anak. Namun, tanpa batasan yang jelas, kebebasan juga berisiko membuat anak kebingungan dalam memahami tanggung jawab.

Di titik inilah dilema muncul. Tidak sedikit orang tua akhirnya bersikap tidak konsisten, kadang tegas, kadang longgar, tergantung situasi. Padahal, bagi anak, konsistensi justru menjadi hal penting agar mereka memahami nilai yang sedang diajarkan.

Ilustrasi pola asuh anak yang diterapkan oleh hakim muda harahap kepada anak-anaknya, azra, falih, ghina. Foto: Dokumen Pribadi

Menariknya, dilema pola asuh seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim, Burhanuddin az-Zarnuji menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya soal menyampaikan ilmu, tetapi juga tentang adab dan cara membimbing. Artinya, bagaimana cara mendidik sama pentingnya dengan apa yang diajarkan.

Hal serupa juga ditegaskan oleh Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin. Ia menyebut bahwa anak adalah amanah, dengan hati yang masih bersih dan mudah dibentuk. Dari sini terlihat bahwa peran orang tua bukan sekadar mengatur, tetapi juga membentuk karakter dengan pendekatan yang bijak.

Jika dilihat lebih dalam, persoalan pola asuh sebenarnya bukan soal memilih antara keras atau bebas. Yang lebih penting adalah bagaimana orang tua mampu menempatkan keduanya secara seimbang. Ada saat di mana anak memang perlu ditegaskan, tetapi ada juga momen ketika anak perlu didengar dan diberi ruang.

Misalnya, dalam hal prinsip seperti sopan santun, tanggung jawab, dan nilai moral, ketegasan tetap diperlukan. Namun, dalam hal minat, hobi, atau cara anak mengekspresikan diri, memberi ruang justru dapat membantu anak berkembang dengan lebih percaya diri.

Selain itu, cara berkomunikasi juga menjadi faktor yang tidak kalah penting. Banyak konflik antara orang tua dan anak sebenarnya bukan disebabkan oleh aturan, melainkan oleh cara penyampaiannya. Anak yang diajak berdialog cenderung lebih memahami dibandingkan anak yang hanya menerima perintah tanpa penjelasan.

Karena itu, yang paling dibutuhkan anak bukan hanya aturan atau kebebasan, tetapi kehadiran orang tua secara utuh. Bukan sekadar hadir secara fisik, tetapi juga secara emosional yang mau mendengar, memahami, dan tidak terburu-buru menghakimi.

Mengasuh anak memang tidak memiliki rumus yang pasti. Setiap anak memiliki karakter yang berbeda, dan setiap keluarga memiliki dinamika masing-masing. Namun satu hal yang bisa menjadi pegangan adalah anak tidak selalu membutuhkan orang tua yang sempurna, tetapi mereka membutuhkan orang tua yang mau belajar dan terus berusaha memahami.

Di antara pilihan keras dan bebas, selalu ada jalan tengah. Dan sering kali, di situlah proses tumbuh yang paling sehat bagi anak terjadi.