Ketika Kedokteran Berhenti, Agama Mulai Berbicara
Tulisan dari Azra Qiwamil Qisthi Harahap SH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Ilmu pengetahuan mengajarkan kita bagaimana manusia mati. Agama mengajarkan kita mengapa kematian harus dimaknai."
Kematian selalu menjadi peristiwa yang menyisakan dua jenis pertanyaan. Pertama, pertanyaan yang dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan yaitu Apa penyebab kematiannya? Bagaimana proses biologisnya? Organ apa yang berhenti berfungsi terlebih dahulu? Kedua, pertanyaan yang tidak mudah dijawab oleh laboratorium: Apakah hidup benar-benar berakhir? Apa makna kematian? Adakah kehidupan setelahnya?
Selama ini, perhatian kita lebih banyak tertuju pada kelompok pertanyaan pertama. Ketika seseorang meninggal dunia, keluarga menunggu penjelasan dokter, hasil pemeriksaan medis, atau diagnosis penyakit yang menjadi penyebabnya. Penjelasan itu penting, bahkan menjadi dasar dalam pengambilan keputusan medis dan hukum. Namun, sesudah semua penjelasan itu selesai diberikan, masih tersisa ruang sunyi yang tidak mampu dijangkau oleh ilmu kedokteran.
Ruang itulah yang menarik perhatian Dr. H. Hakim Muda Harahap, M.S.I. dalam bukunya Lentera Kematian. Menariknya, penulis tidak langsung mengajak pembaca berbicara tentang alam kubur, sakaratul maut, atau kehidupan akhirat. Ia justru memulai pembahasannya dari dunia medis melalui kajian thanatologi, yaitu cabang ilmu kedokteran yang mempelajari kematian. Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa kematian memiliki beberapa klasifikasi, seperti kematian biologis, kematian klinis (mati suri), kematian seluler, hingga kematian batang otak. Semua klasifikasi itu membantu memastikan kapan seseorang benar-benar dinyatakan meninggal.
Pilihan untuk memulai dari pendekatan medis menurut saya bukan sekadar penyusunan bab yang sistematis. Ada pesan penting yang ingin disampaikan yaitu, sebelum berbicara tentang makna kematian, kita perlu memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan kematian dari sudut pandang ilmu pengetahuan. Agama tidak mengajarkan manusia mengabaikan sains, tetapi justru menghargai pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Namun, pada titik tertentu, ilmu pengetahuan memiliki batas.
Thanatologi mampu menjelaskan perubahan biologis yang terjadi ketika seseorang meninggal. Dokter dapat mengidentifikasi kapan jantung berhenti berdetak, kapan aktivitas otak berakhir, atau kapan seluruh sel tubuh kehilangan fungsinya. Akan tetapi, ilmu kedokteran tidak dibangun untuk menjawab pertanyaan tentang tujuan hidup, makna kematian, atau nasib manusia setelah kematian. Sebagaimana dijelaskan dalam Lentera Kematian, ilmu medis hanya mampu memastikan kematian dari sisi lahiriah, sedangkan persoalan yang bersifat eskatologis berada di luar wilayah kajiannya.
Di sinilah saya melihat adanya kesalahpahaman yang cukup sering terjadi. Sebagian orang menganggap bahwa jika sains belum dapat membuktikan sesuatu, maka sesuatu itu tidak ada. Sebaliknya, ada pula yang menolak sains karena merasa agama telah memiliki semua jawaban. Padahal, keduanya bekerja dengan cara dan tujuan yang berbeda.
Sains menjelaskan mekanisme, sedangkan agama menawarkan makna.
Ketika seorang dokter mengatakan bahwa penyebab kematian adalah gagal jantung, penjelasan itu tidak bertentangan dengan keyakinan seorang mukmin bahwa setiap kematian terjadi atas izin Allah. Keduanya berbicara pada tingkat yang berbeda. Yang satu menjelaskan bagaimana sebuah peristiwa terjadi, sementara yang lain menjelaskan mengapa peristiwa itu memiliki arti bagi kehidupan manusia.
Perbedaan ini sering luput kita pahami. Akibatnya, sains dan agama diposisikan seolah-olah berada dalam arena pertandingan. Padahal, keduanya justru saling melengkapi. Kita memerlukan kedokteran agar mampu menyelamatkan kehidupan selama masih ada kesempatan. Namun ketika kehidupan itu benar-benar berakhir, kita membutuhkan agama untuk memahami bagaimana seharusnya menyikapi kematian tersebut.
Di tengah kemajuan teknologi medis saat ini, manusia memang mampu memperpanjang harapan hidup. Berbagai penyakit yang dahulu mematikan kini dapat diobati. Operasi yang dulu dianggap mustahil sekarang menjadi prosedur rutin. Akan tetapi, seluruh kemajuan itu belum pernah berhasil menghapus satu kenyataan yaitu, setiap manusia tetap akan meninggal.
Dalam bagian awal bukunya, Dr. Hakim Muda Harahap mengingatkan pembaca melalui daftar panjang tokoh-tokoh yang telah wafat. Para nabi, sahabat, tabi'in, imam mazhab, ulama, sufi, raja, presiden, hingga pemimpin dunia, semuanya telah mendahului kita. Daftar itu bukan sekadar catatan sejarah, melainkan sebuah pengingat bahwa kematian adalah pengalaman paling demokratis dalam kehidupan manusia. Ia tidak memilih berdasarkan jabatan, kekayaan, ilmu, atau kekuasaan.
Barangkali, pelajaran terbesar dari kematian bukanlah bahwa hidup akan berakhir, melainkan bahwa hidup memiliki batas. Kesadaran akan batas inilah yang sering hilang dalam kehidupan modern. Kita begitu sibuk menyusun target, mengejar karier, memperluas pengaruh, hingga lupa bahwa semua rencana itu berada di bawah satu kepastian yang tidak pernah bisa ditunda.
Dalam Islam, mengingat kematian bukan dimaksudkan untuk membuat manusia pesimis terhadap kehidupan. Sebaliknya, kesadaran akan kematian justru melahirkan tanggung jawab moral. Orang yang sadar bahwa hidupnya terbatas akan lebih berhati-hati dalam berbicara, lebih jujur dalam bekerja, lebih mudah meminta maaf, dan lebih bijaksana dalam menggunakan waktu. Mengingat kematian bukan berarti membenci kehidupan, melainkan menghargai setiap kesempatan hidup yang masih diberikan Allah.
Karena itu, saya melihat bahwa gagasan utama dalam buku Lentera Kematian bukanlah mempertentangkan agama dengan ilmu kedokteran. Justru sebaliknya. Buku ini mengajarkan bahwa memahami kematian memerlukan dua lensa sekaligus. Lensa pertama adalah ilmu pengetahuan yang membantu kita memahami proses biologis secara objektif. Lensa kedua adalah agama yang membantu kita menemukan makna di balik peristiwa yang tidak dapat diukur oleh alat-alat medis.
Sebab, kedokteran memang dapat memberi tahu kapan seseorang meninggal. Namun, hanya agama yang mampu mengingatkan bahwa sebelum kematian datang, masih ada kehidupan yang harus dipertanggungjawabkan.
Barangkali karena itulah, ketika kedokteran berhenti menjelaskan prosesnya, agama mulai mengajak manusia memahami maknanya.
Artikel ini terinspirasi dari salah satu gagasan dalam buku Lentera Kematian karya Dr. H. Hakim Muda Harahap, M.S.I. Gagasan tersebut kemudian dikembangkan melalui analisis dan refleksi penulis.

