Konten dari Pengguna

Rajin Sholat Bukan Berarti Seseorang Baik-Baik Saja

Azra Qiwamil Qisthi Harahap SH

Azra Qiwamil Qisthi Harahap SH

Mahasiswa Magister Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta yang tertarik pada dunia kepenulisan, khususnya topik pendidikan, sosial, hukum Islam, dan isu-isu keislaman dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami.

·waktu baca 4 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azra Qiwamil Qisthi Harahap SH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seseorang sedang ibadah. Foto: Istock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seseorang sedang ibadah. Foto: Istock

Di Indonesia, kita masih sering menilai keadaan batin seseorang dari tampilan lahiriahnya. Orang yang rajin sholat dianggap pasti tenang. Yang aktif ikut kajian dianggap pasti kuat. Yang sering membagikan nasihat agama dianggap pasti hidupnya baik-baik saja.

Padahal, tidak selalu begitu.

Ada orang yang tetap sholat lima waktu, tetapi setiap malam sulit tidur karena cemas. Ada yang tetap datang ke majelis ilmu, tetapi pulang dengan kepala yang penuh tekanan. Ada yang terlihat saleh di hadapan banyak orang, tetapi diam-diam sedang lelah menghadapi hidup.

Masalahnya, kita terlalu sering mengira bahwa ibadah yang tertib pasti berarti jiwa yang sehat. Akibatnya, ketika ada orang yang rajin sholat tetapi mengaku sedang rapuh, respons yang muncul sering kali bukan empati, melainkan penghakiman. Ia dianggap kurang tawakal, kurang sabar, atau kurang ikhlas.

Padahal, rajin sholat bukan berarti seseorang tidak punya luka.

Ibadah Itu Penting, Tapi Manusia Tetap Bisa Runtuh

Ilustrasi seseorang sedang lelah. Foto: Istock

Sholat memang menenangkan. Zikir memang menguatkan. Doa memang menjaga harapan. Tapi semua itu tidak otomatis membuat seseorang kebal dari tekanan batin.

Kita perlu jujur bahwa manusia tetap punya batas.

Seseorang bisa rajin beribadah, tetapi tetap cemas. Bisa rutin berdoa, tetapi tetap merasa kosong. Bisa tampak kuat di depan orang lain, tetapi di dalam dirinya sedang menahan sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai.

Di sinilah kita sering keliru. Kita terlalu cepat menjadikan agama sebagai jawaban instan untuk semua hal. Seolah setiap luka batin cukup diselesaikan dengan tambahan nasihat. Padahal tidak semua orang yang sedang lelah itu kurang ibadah. Tidak semua orang yang sedang hancur itu sedang jauh dari Tuhan.

Bisa jadi, justru ia sedang sangat dekat kepada Allah, hanya saja sedang sangat lelah sebagai manusia.

Kesulitan Kadang Membuka Jalan yang Tidak Dibuka oleh Rutinitas

Dalam al-Hikam, Ibn ‘Athaillah al-Sakandari menulis:

رُبَّمَا وَجَدْتَ مِنَ الْمَزِيدِ فِي الْفَاقَاتِ مَا لَا تَجِدُهُ فِي الصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ

“Boleh jadi engkau menemukan tambahan karunia dalam keadaan kekurangan dan kesulitan, yang tidak engkau temukan dalam puasa dan shalat.”

Kalimat ini bukan berarti kesulitan lebih baik daripada sholat dan puasa. Bukan pula berarti ibadah formal tidak penting. Justru sebaliknya, kalimat ini mengingatkan bahwa ada fase-fase dalam hidup ketika manusia dipaksa menjadi lebih jujur di hadapan Allah.

Dalam keadaan lapang, seseorang bisa beribadah sambil masih merasa kuat oleh dirinya sendiri. Tapi dalam keadaan sempit, saat hidup terasa berat dan jalan seperti tertutup, semua topeng itu runtuh. Manusia datang kepada Tuhan bukan dengan citra, melainkan dengan kebutuhan yang paling tulus.

Di situlah kadang lahir sesuatu yang tidak selalu hadir dalam ibadah yang hanya berjalan sebagai rutinitas: kerendahan hati, rasa butuh yang sungguh-sungguh, tangis yang jujur, dan kesadaran bahwa manusia memang tidak selalu kuat.

Jadi, bukan karena sholat dan puasa kurang bernilai. Tetapi karena kesulitan kadang membongkar ego yang masih tersisa, bahkan dalam ibadah kita sendiri.

Yang Rapuh Tidak Selalu Butuh Ceramah

Ilustrasi seseorang sedang rapuh. Foto: Istock

Di tengah masyarakat kita, orang yang sedang lelah justru sering dipaksa merasa bersalah. Ketika ia mengaku cemas, kita bilang kurang tawakal. Ketika ia mengaku hampa, kita bilang kurang zikir. Ketika ia terlihat runtuh, kita buru-buru menasihati, seolah semua masalah selesai hanya dengan satu kalimat religius.

Padahal, tidak semua luka butuh ceramah tambahan.

Kadang, yang dibutuhkan seseorang bukan nasihat yang tergesa-gesa, melainkan ruang aman untuk jujur. Bukan penghakiman yang dibungkus dalil, melainkan kehadiran yang tulus. Bukan pertanyaan tentang kualitas imannya, melainkan kesediaan untuk mendengar tanpa buru-buru menyimpulkan.

Sebab yang membuat seseorang semakin tenggelam kadang bukan hanya masalah yang ia hadapi, tetapi juga respons sosial yang gagal memahami luka itu.

Agama seharusnya hadir sebagai rahmat, bukan beban tambahan. Ia seharusnya membuat orang merasa ditolong, bukan dipermalukan karena sedang tidak kuat.

Kadang, Sholat Adalah Cara Terakhir Seseorang Bertahan

Mungkin, ini bagian yang paling penting untuk kita pahami yaitu, orang yang rajin sholat tidak selalu sedang baik-baik saja.

Kadang, ia rajin sholat justru karena itu satu-satunya cara agar dirinya tidak benar-benar runtuh.

Ia berdiri dalam sholat bukan karena hidupnya ringan, tetapi karena hidupnya terlalu berat. Ia sujud bukan karena semua urusan telah selesai, tetapi karena hanya di hadapan Allah ia bisa jatuh tanpa malu. Ia berzikir bukan karena batinnya sudah pulih, tetapi karena itu satu-satunya cara agar pikirannya tidak pecah.

Karena itu, kita perlu berhenti memakai kesalehan lahiriah sebagai satu-satunya alat ukur untuk membaca kondisi seseorang.

Ibadah tetap mulia. Sholat tetap agung. Tetapi manusia selalu lebih rumit daripada yang tampak.

Ada yang lisannya penuh zikir, tetapi dadanya penuh sesak. Ada yang terlihat tenang, tetapi sedang berperang sendirian. Ada yang rajin sholat, tetapi diam-diam sedang berusaha bertahan hidup.

Dan mungkin, di zaman yang terlalu cepat menilai ini, kita memang perlu lebih banyak empati daripada asumsi.