Konten dari Pengguna

Sekolah Mengajarkan Jawaban, Tapi Siapa yang Mengajarkan Cara Bertanya?

Azra Qiwamil Qisthi Harahap SH

Azra Qiwamil Qisthi Harahap SH

Mahasiswa Magister Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta yang tertarik pada dunia kepenulisan, khususnya topik pendidikan, sosial, hukum Islam, dan isu-isu keislaman dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azra Qiwamil Qisthi Harahap SH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi siswa bertanya. Foto: Istock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi siswa bertanya. Foto: Istock

Sejak sekolah, kita terbiasa mencari jawaban yang benar. Kita menghafal rumus, memahami definisi, mengingat peristiwa sejarah, lalu mengerjakan soal dengan target hasil yang tepat. Hampir seluruh proses belajar diarahkan pada satu tujuan yaitu, menemukan jawaban yang benar secepat mungkin. Namun ada satu hal penting yang justru jarang dilatih sejak awal, yaitu bagaimana menyusun pertanyaan yang baik.

Padahal pertanyaan adalah awal dari pengetahuan.

Tanpa pertanyaan, belajar mudah berubah menjadi hafalan. Kita mungkin mampu menjawab soal dengan benar, tetapi belum tentu memahami mengapa jawaban itu benar dan dalam kondisi apa jawaban itu bisa berubah. Di sinilah muncul persoalan yang jarang disadari yaitu, apakah sekolah selama ini benar-benar melatih kita berpikir, atau lebih banyak melatih kita menjawab?

Dalam praktiknya, jawaban benar sering menjadi ukuran utama keberhasilan belajar. Siswa yang cepat menjawab dianggap memahami pelajaran, sementara siswa yang banyak bertanya sering merasa ragu untuk menyampaikan rasa ingin tahunya. Lama-kelamaan, kebiasaan ini membentuk cara berpikir yang lebih terbiasa menerima daripada menelusuri.

Padahal sejak awal perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan justru lahir dari pertanyaan. Rasa ingin tahu mendorong manusia mempertanyakan hal-hal yang sebelumnya dianggap biasa, lalu membuka cara baru memahami dunia. Karena itu, kemampuan bertanya sebenarnya bukan keterampilan tambahan dalam belajar, tetapi inti dari proses berpikir itu sendiri.

Di Era Informasi Cepat, Kemampuan Bertanya Menjadi Kunci

Ilustrasi era digital. Foto: Istock

Masalahnya menjadi lebih terasa di era sekarang. Informasi datang begitu cepat melalui media sosial, berita digital, dan berbagai platform lainnya. Kita membaca banyak hal setiap hari, tetapi tidak semuanya benar-benar membantu kita memahami kenyataan.

Tidak semua informasi adalah pengetahuan. Sebagian hanya potongan fakta tanpa konteks, sebagian lagi opini yang terlihat meyakinkan, bahkan tidak sedikit yang keliru tetapi tersebar luas karena sering diulang. Dalam situasi seperti ini, kemampuan bertanya menjadi sangat penting agar kita tidak mudah percaya begitu saja.

Kemampuan bertanya membantu kita memeriksa sumber informasi, memahami latar belakang persoalan, dan melihat kemungkinan sudut pandang lain. Tanpa kemampuan bertanya, diskusi mudah berubah menjadi perdebatan tanpa arah, dan masyarakat lebih mudah terpengaruh oleh informasi yang paling cepat dan paling populer.

Di sinilah sekolah sebenarnya memiliki peran penting. Sekolah bukan hanya tempat mencari nilai, tetapi ruang awal membangun cara berpikir. Jika sejak kecil siswa dibiasakan bertanya mengapa suatu aturan dibuat, bagaimana suatu peristiwa terjadi, atau apakah ada sudut pandang lain yang bisa dipertimbangkan, maka belajar tidak berhenti pada hafalan, tetapi berkembang menjadi pemahaman.

Maka, kualitas sebuah masyarakat tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak jawaban yang dimilikinya, tetapi oleh seberapa berani ia bertanya. Karena mungkin yang kita butuhkan hari ini bukan lebih banyak jawaban, melainkan lebih banyak pertanyaan yang jujur agar kita tidak mudah percaya sebelum benar-benar memahami.