Konten dari Pengguna

Siapa yang Kita Percaya di Tengah Banyaknya Sumber Pengetahuan?

Azra Qiwamil Qisthi Harahap SH

Azra Qiwamil Qisthi Harahap SH

Mahasiswa Magister Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta yang tertarik pada dunia kepenulisan, khususnya topik pendidikan, sosial, hukum Islam, dan isu-isu keislaman dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azra Qiwamil Qisthi Harahap SH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi banyaknya sumber pengetahuan. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi banyaknya sumber pengetahuan. Foto: Pixabay

Hari ini kita hidup di zaman ketika pengetahuan terasa sangat dekat. Informasi dapat diakses kapan saja melalui media sosial, mesin pencari, kanal video, hingga berbagai platform diskusi digital. Dalam satu hari saja, seseorang bisa membaca pendapat dari pakar, tokoh publik, influencer, bahkan orang yang sama sekali tidak dikenal sebelumnya. Semua hadir dalam ruang yang sama dan sering kali tampak memiliki bobot yang setara.

Di titik inilah muncul pertanyaan penting: di tengah banyaknya sumber pengetahuan seperti sekarang, siapa sebenarnya yang kita percaya?

Dulu, sumber pengetahuan relatif lebih jelas. Guru di sekolah, buku pelajaran, atau tokoh yang diakui keilmuannya menjadi rujukan utama masyarakat. Informasi memang tidak selalu cepat diperoleh, tetapi ada proses yang membantu orang mengenali mana sumber yang dapat dipercaya dan mana yang perlu dipertanyakan. Hari ini situasinya berubah. Informasi menjadi sangat mudah diakses, tetapi sekaligus semakin sulit dipilah.

Masalahnya bukan lagi kekurangan pengetahuan, melainkan kelebihan informasi.

Ketika semua orang bisa berbicara di ruang publik digital, batas antara pengetahuan, opini, dan pengalaman pribadi sering kali menjadi kabur. Pendapat yang disampaikan dengan percaya diri bisa terlihat seperti kebenaran. Informasi yang sering muncul bisa terasa lebih meyakinkan, meskipun belum tentu memiliki dasar yang kuat. Dalam situasi seperti ini, masyarakat sering kali tidak kesulitan menemukan jawaban, tetapi kesulitan menentukan siapa yang layak dipercaya.

Ketika Otoritas Pengetahuan Tidak Lagi Mudah Dikenali

Perubahan besar di era digital bukan hanya soal kecepatan informasi, tetapi juga perubahan cara masyarakat mengenali otoritas pengetahuan. Jika dulu seseorang dipercaya karena keahlian dan proses keilmuan yang jelas, sekarang kepercayaan sering kali dibentuk oleh popularitas, jumlah pengikut, atau seberapa sering seseorang muncul di ruang publik.

Akibatnya, tidak jarang seseorang lebih mudah mempercayai informasi yang disampaikan tokoh populer daripada penjelasan yang berasal dari sumber yang lebih kompeten. Bukan karena masyarakat menolak pengetahuan, tetapi karena cara mengenali pengetahuan yang dapat dipercaya memang sedang berubah.

Di sinilah pentingnya kembali memahami bahwa pengetahuan tidak hanya dilihat dari siapa yang berbicara, tetapi juga dari bagaimana sebuah pernyataan dapat dipertanggungjawabkan. Pengetahuan yang dapat dipercaya biasanya lahir dari proses yang terbuka untuk diperiksa, memiliki dasar yang jelas, dan tidak hanya bergantung pada pendapat pribadi semata.

Kemampuan membedakan antara sumber yang kredibel dan yang sekadar meyakinkan menjadi semakin penting di tengah derasnya arus informasi hari ini. Tanpa kemampuan tersebut, masyarakat mudah berpindah dari satu pendapat ke pendapat lain tanpa benar-benar memahami dasar persoalannya.

Karena itu, tantangan masyarakat modern bukan lagi mencari informasi sebanyak mungkin, tetapi belajar menentukan informasi mana yang layak dipercaya. Sekolah, kampus, media, dan ruang diskusi publik memiliki peran penting untuk menumbuhkan kebiasaan ini, agar masyarakat tidak hanya cepat menerima informasi, tetapi juga mampu menilainya secara lebih bijak.

Maka, pertanyaan tentang siapa yang kita percaya sebenarnya juga berkaitan dengan bagaimana cara kita memahami pengetahuan itu sendiri. Di tengah banyaknya sumber informasi hari ini, kepercayaan bukan hanya soal siapa yang paling sering didengar, tetapi siapa yang paling dapat dipertanggungjawabkan penjelasannya. Dan di situlah kualitas cara berpikir masyarakat diuji.