Konten dari Pengguna

Apa Itu Therapeutic Drug Monitoring? Cara Dokter Memastikan Obat Bekerja Optimal

Azranaila Salsabila

Azranaila Salsabila

Pharmacy Major.State Islamic University Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azranaila Salsabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada sebuah paradoks dalam pengobatan yang jarang disadari pasien obat yang sama, dalam dosis yang sama, bisa bekerja sempurna pada satu orang tetapi tidak efektif sama sekali pada orang lain, atau justru beracun pada orang ketiga. Ini bukan kegagalan medis. Ini adalah konsekuensi dari fakta biologis yang sederhana namun sering diabaikan pada setiap tubuh manusia memproses obat dengan cara yang sedikit berbeda.

Ilustrasi Therapeutic Drug Monitoring (TDM)  pada pasien.Photo by Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Therapeutic Drug Monitoring (TDM) pada pasien.Photo by Gemini AI

Untuk menjembatani paradoks ini, dunia farmasi klinik mengembangkan sebuah pendekatan yang disebut Therapeutic Drug Monitoring (TDM) atau dalam bahasa Indonesia Pemantauan Kadar Obat dalam Darah. Dan bagi pasien yang mendapat obat-obatan tertentu, prosedur ini bisa menjadi perbedaan antara pengobatan yang berhasil dan komplikasi yang serius.

Masalah yang Mendasari ialah Tidak Semua Orang Sama di Mata Obat

Ketika dokter meresepkan obat, dosis yang diberikan didasarkan pada rata-rata populasi yang diteliti dalam uji klinis. Tapi "rata-rata" dalam sains tidak berarti "berlaku untuk semua." Faktor seperti usia, berat badan, fungsi ginjal dan hati, genetik, kondisi penyakit lain, serta obat-obatan lain yang dikonsumsi bersamaan semuanya memengaruhi bagaimana tubuh menyerap, mendistribusikan, memetabolisme, dan mengeluarkan obat.

Untuk sebagian besar obat, variasi ini masih bisa ditoleransi karena "rentang aman" obat tersebut cukup lebar. Tetapi untuk sekelompok obat tertentu yang disebut obat indeks terapi sempit, variasi kecil dalam kadar darah bisa memiliki konsekuensi yang sangat besar sedikit di bawah rentang terapeutik dan obat tidak bekerja sama sekali sedikit di atasnya dan obat menjadi toksik.

Obat Apa Saja yang Memerlukan TDM?

Tidak semua obat memerlukan pemantauan kadar darah secara rutin. TDM paling kritis dilakukan pada obat-obatan dengan tiga karakteristik utama: indeks terapi sempit, variabilitas farmakokinetik yang tinggi antar individu, dan hubungan yang jelas antara kadar darah dengan efek klinis maupun toksisitas.

Beberapa contoh paling umum dalam praktik klinis sehari-hari adalah digoksin obat jantung yang pada kadar terlalu tinggi bisa menyebabkan aritmia fatal fenitoin antikonvulsan untuk epilepsi yang efektivitas dan toksisitasnya sangat bergantung pada kadar plasma, litium ialag penstabil suasana hati untuk gangguan bipolar yang jendela terapeutiknya sangat sempit antara efektif dan meracuni ginjal, serta aminoglikosida antibiotik untuk infeksi berat yang pada kadar berlebih dapat merusak ginjal dan pendengaran secara permanen.

Bagaimana Prosedur TDM Dilakukan?

Secara teknis, TDM melibatkan pengambilan sampel darah pasien pada waktu yang sangat spesifik dan ketepatan waktu pengambilan ini adalah kunci akurasi seluruh prosedur. Ada dua titik pengambilan yang paling sering digunakan kadar puncak (peak), yaitu saat konsentrasi obat tertinggi dalam darah biasanya beberapa jam setelah pemberian dan kadar lembah (trough), yaitu tepat sebelum dosis berikutnya diberikan saat konsentrasi obat paling rendah.

Sampel darah ini kemudian dianalisis di laboratorium untuk mengukur konsentrasi zat aktif obat secara presisi. Hasilnya dibandingkan dengan rentang terapeutik yang sudah ditetapkan untuk obat tersebut dan jika kadarnya berada di luar rentang, dokter dan apoteker klinik bekerja sama untuk menyesuaikan dosis, mengubah frekuensi pemberian, atau mengevaluasi faktor-faktor yang memengaruhi metabolisme obat pada pasien tersebut.

Peran Apoteker Klinik yang Sering Tidak Terlihat

Di balik prosedur TDM yang terlihat sederhana, ada peran apoteker klinik yang sangat krusial dan sering tidak disadari pasien. Apoteker klinik bertugas melakukan perhitungan farmakokinetik individual menggunakan data kadar obat dalam darah, berat badan, fungsi ginjal, dan parameter lainnya untuk merekomendasikan dosis yang paling tepat untuk pasien spesifik tersebut, bukan dosis rata-rata populasi.

Di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, TDM sudah diterapkan untuk pemantauan antibiotik seperti sefotaksim dan siprofloksasin pada pasien rawat inap membuktikan bahwa pemantauan konsentrasi obat dalam darah dapat menetapkan regimen dosis yang lebih sesuai dan meningkatkan hasil terapi secara bermakna. Untuk TB resistan obat, jurnal Farmasi Indonesia (2025) merekomendasikan TDM untuk bedakuilin dan linezolid mengingat variasi farmakokinetik yang signifikan dan potensi efek samping serius pada kedua obat tersebut.

Therapeutic Drug Monitoring adalah jembatan antara "dosis standar" dan "dosis yang tepat untuk kamu" perbedaan yang dalam kondisi tertentu bisa berarti perbedaan antara pulih dan masuk ke unit perawatan intensif. Di era pengobatan presisi yang semakin berkembang, TDM bukan sekadar prosedur tambahan ialah standar perawatan yang seharusnya menjadi bagian rutin dari manajemen obat-obatan kritis di seluruh fasilitas kesehatan Indonesia.