Konten dari Pengguna

Bank Syariah Untung dari Mana Sih Kalau Tak Ada Bunga? Cerita di Balik Dapurnya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azuma Furqani Ramadanta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sore itu aku lagi nongkrong di warkop deket kantor, ngopi santai sama teman kampus beda fakultas, teman yang sekarang kerja jadi account officer di salah satu bank syariah. Awalnya cuma ngobrolin kabar dan kerjaan, eh tau-tau nyerempet ke pertanyaan yang bikin aku penasaran dari dulu: kalau bank konvensional untungnya jelas dari bunga pinjaman, bank syariah cari makan dari mana? Masa iya bisnis tanpa bunga bisa jalan dan tetep untung?

"Ternyata nggak sesederhana itu," kata temenku sambil nyeruput kopinya. Bank syariah tetep untung kok, cuma landasannya beda total sama yang biasa kita kenal. Dia jelasin, secara fungsi bank syariah dan bank konvensional itu sama-sama jadi perantara keuangan; ngumpulin dana dari nasabah yang kelebihan duit, terus nyalurin ke yang lagi butuh modal. Bedanya ada di akad, alias perjanjian, yang dipakai buat tiap transaksi. Prinsip syariah bilang uang itu bukan komoditas yang bisa "dibungakan" gitu aja, untungnya harus lahir dari aktivitas ekonomi yang riil kayak jual beli, kerja sama usaha, sewa-menyewa, atau jasa.

Credit: Personal Edit
zoom-in-whitePerbesar
Credit: Personal Edit

Biar tidak ngambang, dia ngasih contoh konkret satu-satu, kayak dia lagi cerita kasus-kasus yang beneran dia tangani sehari-hari.

Pertama, dia cerita soal Pak Ahmad yang mau beli rumah harga Rp500 juta tapi tidak punya cash. Di bank syariah, bukan Pak Ahmad yang dipinjemin duit terus disuruh bayar bunga tiap bulan. Bank syariah malah beli dulu rumahnya dari pengembang seharga Rp500 juta, terus dijual lagi ke Pak Ahmad seharga Rp700 juta, dicicil 10 tahun alias 120 bulan, jadi sekitar Rp5,8 juta per bulan. Selisih Rp200 juta itu yang jadi untung bank, namanya margin, dan skema jual-beli kayak gini disebut murabahah. Yang bikin aku manggut-manggut, kata dia, angka margin itu udah disepakati dan fix dari awal sampai lunas, tidak kayak cicilan bank konvensional yang bisa naik-turun ngikutin suku bunga acuan. Jadi nasabah tau persis total yang harus dibayar sejak hari pertama tanda tangan, tidak ada kejutan di tengah jalan.

Belum abis kopi, dia lanjut cerita soal Ibu Rina yang mau buka cabang restoran baru, butuh modal Rp100 juta. Dia punya Rp40 juta sendiri, sisanya Rp60 juta dari bank syariah. Tapi ini bukan pinjam-meminjam biasa, karena dua-duanya nyetor modal, bank jadi ikut mitra usaha lewat akad yang namanya musyarakah. Nisbah (Rasio) bagi hasilnya disepakati di depan, misalnya 30% buat bank dan 70% buat Ibu Rina, dihitung dari laba usaha. Bulan pertama untung Rp10 juta, bank kebagian Rp3 juta. Tapi begitu lagi sepi dan untungnya cuma Rp5 juta, bagian bank juga otomatis nyusut jadi Rp1,5 juta, bahkan kalau rugi karena faktor di luar kelalaian Ibu Rina, bank ikut nanggung porsi kerugiannya. "Jadi kita bener-bener ikut deg-degan bareng nasabah," kata dia sambil ketawa. Buat aku ini yang bikin skemanya kerasa lebih adil, bank ikut ngerasain naik-turunnya bisnis nasabah, bukan cuma nagih setoran tetap kayak debt collector.

Credit: Personal Edit

Dia juga sempet cerita soal perusahaan konstruksi yang butuh ekskavator buat proyek tiga tahun. Bank syariah beli alatnya dulu, terus disewain Rp15 juta per bulan, jadi total sewa selama 36 bulan itu sekitar Rp540 juta. Di akhir masa sewa, alatnya bisa dihibahkan atau dijual ke perusahaan itu dengan harga simbolis. Skema sewa kayak gini namanya ijarah, dan untung bank di situ murni dari akumulasi biaya sewa dikurangi harga beli alatnya.

Yang terakhir, ada juga pendapatan dari jasa harian, mirip fee-based income di bank konvensional. Tiap kali kita bayar listrik, transfer, atau tarik tunai lewat mobile banking, biasanya ada biaya admin sekitar Rp2.500 sampai Rp6.500 yang dikenakan sebagai ujrah, alias upah atas jasa yang dilakukan bank buat nasabah, namanya wakalah. Di produk gadai syariah alias rahn juga gitu, bank nggak ambil untung dari uang yang dipinjemin, tapi dari biaya penyimpanan dan perawatan emas yang dititipin nasabah.

"Tapi semua akad ini tidak bisa dipakai sembarangan lho," tambah temanku. Tiap bank punya Dewan Pengawas Syariah yang ngawasin biar tiap produk beneran sesuai prinsip syariah, tidak cuma ganti nama doang tapi substansinya tetep kayak bunga.

Dari obrolan santai sore itu, aku jadi paham bank syariah tidak "kalah canggih" soal cari untung dibanding bank konvensional. Cuma landasannya beda, semua harus tempel ke transaksi riil, bukan sekadar uang beranak uang. Buat aku pribadi, ini yang bikin sistem syariah menarik buat dipelajari, apalagi di tengah isu suku bunga global yang naik-turun. Rasanya, model bisnis yang berpijak di sektor riil kayak gini punya daya tahan yang beda pas guncangan ekonomi datang.

Credit: Personal Edit