Konten dari Pengguna

Biar Nggak Pusing! Ini Bedanya 4 Akad Syariah yang Sering Kita Temui

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azuma Furqani Ramadanta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Credit: Personal Edit
zoom-in-whitePerbesar
Credit: Personal Edit

Istilah-istilah keuangan syariah sering kali bikin dahi berkerut. Banyak dari kita yang pusing duluan pas denger kata mudharabah, musyarakah, murabahah, atau ijarah. Padahal kalau ditelusuri lebih dalam, akad-akad ini sebenarnya cuma penamaan ilmiah dari bentuk transaksi yang biasa kita lakukan di kehidupan sehari-hari.

Sistem keuangan syariah sendiri dirancang dengan prinsip transparansi dan keadilan tanpa adanya unsur riba atau ketidakpastian. Nah, biar kamu nggak salah kaprah lagi pas mau buka tabungan atau ngajuin pembiayaan di bank syariah, yuk bedah 4 akad utama ini lewat analogi yang gampang dipahami!

Mudharabah: "Aku yang Modalin, Kamu yang Jalanin"

Credit: Personal Edit

Bayangkan kamu punya uang dingin Rp50 juta di rekening, tapi kamu sibuk kerja kantoran dan nggak sempat bikin bisnis. Di sisi lain, temanmu jago banget ngeracik kopi kekinian tapi mentok di modal.

Nah, kolaborasi kalian ini namanya Mudharabah.

Skemanya: Kamu setor modal 100% (shahibul maal), dan temanmu murni menyumbang keahlian serta tenaganya sebagai pengelola (mudharib).

Bagi Hasil: Di awal, kalian sepakat bagi hasil keuntungan; misalnya 60% buat temanmu dan 40% buat kamu.

Gimana Kalau Rugi? Kalau bisnisnya gulung tikar murni karena pasar lagi sepi (bukan karena temanmu korupsi atau malas), kamu rugi secara finansial, sedangkan temanmu rugi waktu dan tenaga.

Musyarakah: "Yuk, Patungan Bikin Usaha Bareng!"

Credit: Personal Edit

Beda cerita kalau kamu dan temanmu sama-sama punya modal dan sama-sama mau turun tangan mengelola bisnis. Akad yang dipakai otomatis berubah jadi Musyarakah.

Skemanya: Ini adalah akad patungan. Kamu dan temanmu sama-sama keluar duit—misalnya masing-masing Rp25 juta dan punya hak suara yang sama untuk ngatur operasional toko.

Bagi Hasil & Risiko: Keuntungan dibagi sesuai kesepakatan awal. Tapi khusus untuk kerugian, wajib ditanggung proporsional sesuai porsi modal yang disetor (dalam hal ini 50:50).

Murabahah: "Beliin Dulu Ya, Nanti Tak Cicil Plus Keuntungan Kamu"

Credit: World Wide Web

Lagi butuh laptop baru seharga Rp10 juta buat kerja, tapi uang di tabungan belum cukup? Akad Murabahah hadir sebagai solusi jual beli secara dicicil.

Skemanya: Kuncinya ada di kejujuran dan keterbukaan. Bank syariah bakal membelikan laptop tersebut dari toko seharga Rp10 juta. Lalu, bank menjualnya ke kamu seharga Rp11,5 juta.

Bukan Bunga: Bank terang-terangan bilang, "Laptopnya harga asli 10 juta, saya ambil margin keuntungan 1,5 juta ya." Kamu setuju, lalu mencicil angsurannya secara tetap (flat) setiap bulan tanpa perlu takut ada kaget suku bunga naik di tengah jalan.

Ijarah: "Sewa Manfaatnya Aja, Nggak Perlu Beli Barang"

Credit: World Wide Web

Memasukkan Ijarah ke dalam daftar ini penting banget, karena nggak semua hal di dunia ini harus kita miliki hak cipta atau fisiknya. Kadang kita cuma butuh manfaatnya.

Skemanya: Ijarah adalah akad sewa-menyewa atau imbal jasa. Contoh sederhananya: kamu bayar sewa ruko bulanan buat usaha, bayar sewa mobil buat liburan, atau bayar gaji karyawan atas jasa yang mereka berikan.

Pengembangannya: Ada juga variasi serunya bernama Ijarah Muntahiya Bittamlik (IMBT). Konsepnya mirip sewa-beli: kamu sewa rumah selama 10 tahun, dan di akhir masa sewa, rumah itu resmi berpindah kepemilikan jadi milik kamu!

Ternyata nggak seseram istilahnya, kan? Inti dari semua akad syariah ini sebenarnya cuma satu: transparansi dan keadilan, jadi nggak ada pihak yang merasa dijebak atau dirugikan di kemudian hari.

Jadi, Kenapa Ini Penting Buat Kamu Tahu?

Paham akad bukan berarti kamu harus jadi ahli fiqih muamalah. Tapi minimal, kamu jadi tahu konsekuensi dari kontrak yang kamu tandatangani siapa menanggung risiko kalau sesuatu nggak sesuai rencana, dan bagaimana sebenarnya keuntungan bank itu terbentuk.

Karena pada akhirnya, literasi keuangan yang baik bukan cuma soal tahu produknya apa tapi juga paham mekanisme di baliknya.