Konten dari Pengguna

Generasi 20-an dan Dilema Memilih Bank: Konvensional atau Syariah?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azuma Furqani Ramadanta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Bank Syariah. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Bank Syariah. Foto: Shutterstock

Pernah dengar komentar seperti ini di lingkungan sekitar: "Ah, bank syariah sama aja kok. Bagi hasilnya mirip-mirip sama bunga bank biasa." Kalau kamu sering bergaul di lingkungan yang melek keuangan, hampir pasti pernah.

Jujur saja, pertanyaan itu sah. Karena kalau kamu cek angkanya bulan ini, bagi hasil tabungan syariah memang kadang terlihat sangat mirip dengan bunga tabungan konvensional. Lalu bedanya di mana?

Mari kita bongkar ini pelan-pelan. Bukan dari sudut pandang dakwah, tapi dari sudut pandang mekanisme keuangan yang sebenarnya.

Dari Mana Bank Syariah Mendapatkan Uang?

Ini pertanyaan yang wajar dan jarang dijawab dengan jelas. Bank konvensional hidup dari selisih bunga; mereka pinjam uangmu dengan bunga rendah, lalu pinjamkan ke orang lain dengan bunga lebih tinggi. Selisihnya adalah keuntungan mereka.

Bank syariah punya beberapa jalur pendapatan yang berbeda. Pertama adalah margin murabahah di mana bank membeli aset atau barang terlebih dahulu, lalu menjualnya ke nasabah dengan harga lebih tinggi yang sudah disepakati bersama sejak awal. Ini secara prinsip adalah jual beli biasa, bukan bunga. Kedua adalah bagi hasil dari skema mudharabah dan musyarakah, di mana bank ikut "berinvestasi" dalam usaha nasabah dan mendapat porsi dari keuntungannya. Ketiga adalah ujrah atau fee atas jasa-jasa perbankan seperti transfer dan pengelolaan rekening. Dan keempat adalah ijarah yaitu pendapatan dari transaksi sewa aset.

Jadi bank syariah tetap profit. Hanya saja sumber dan mekanisme pendapatannya berbeda secara struktural.

Credit by: unsplash.com

Lalu Apa Bedanya dengan Bagi Hasil dengan Bunga?

Secara konsep, perbedaannya fundamental.

Bunga ditetapkan di awal dan bersifat tetap, contohnya kamu pinjam Rp100 juta dengan bunga 12% per tahun, maka setiap bulan kamu bayar sekitar Rp1 juta sebagai bunga, tidak peduli usahamu sedang untung besar atau merugi. Risiko sepenuhnya ada di pundak peminjam.

Bagi hasil bekerja sebaliknya. Angkanya tidak ditetapkan, melainkan disepakati dalam bentuk nisbah atau rasio. Misalnya 70:30 dari keuntungan usaha yang nyata, 70% untuk nasabah dan 30% untuk bank. Bulan ini untung Rp10 juta? Bank dapat Rp3 juta. Bulan depan usaha sepi dan untung cuma Rp2 juta? Bank hanya dapat Rp600 ribu. Keduanya merasakan naik-turunnya kondisi usaha secara bersamaan.

Perbedaan inilah yang dalam ilmu ekonomi disebut risk-sharing atau pembagian risiko yang lebih adil antara pemilik modal dan pengguna modal. Ini bukan sekadar soal halal atau haram, tapi soal siapa yang menanggung konsekuensi dari setiap keputusan ekonomi.

Credit by: unsplash.com

Tapi Angkanya Sering Mirip, Gimana Penjelasannya?

Ini bagian yang jarang dibahas dengan jujur. Memang benar dalam praktiknya di Indonesia, bagi hasil yang diterima nasabah bank syariah sering terlihat "kebetulan" mirip dengan bunga bank konvensional. Bukan karena prinsipnya sama, tapi karena keduanya beroperasi di ekosistem ekonomi yang sama.

Bank syariah di Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh BI Rate yaitu suku bunga acuan yang ditetapkan Bank Indonesia. Ketika BI Rate naik, imbal hasil produk bank syariah ikut naik. Ketika turun, bagi hasilnya juga cenderung turun. Hal ini karena bank syariah pun harus berkompetisi menarik nasabah yang membandingkan produk mereka dengan bank konvensional.

Jadi kritiknya lebih tepat diarahkan ke implementasi, bukan ke konsepnya. Ibarat kendaraan listrik yang masih mengisi daya dari pembangkit batu bara; teknologinya berbeda, tapi ekosistemnya belum sepenuhnya mendukung perbedaan itu terlihat nyata.

Jadi, Haruskah Berpindah ke Bank Syariah?

Itu bukan pertanyaan yang bisa dijawab satu ukuran untuk semua orang. Yang lebih penting adalah memahami apa yang kamu pilih dan mengapa.

Jika kamu mencari instrumen yang secara prinsip menerapkan keadilan berbagi risiko, bank syariah menawarkan kerangka yang berbeda. Jika kamu semata-mata mengejar return tertinggi tanpa mempertimbangkan mekanismenya, maka perbandingan angka adalah hal yang relevan.

Yang tidak tepat adalah menyamakan keduanya hanya karena angka akhirnya kadang mirip. Itu seperti menyebut kereta api dan mobil "sama saja" karena keduanya bisa membawa kamu dari Jakarta ke Bandung. Tujuannya sama, tapi cara kerjanya dan konsekuensinya berbeda.

Pertanyaan yang lebih produktif bukan "sama atau beda?" tapi "Mekanisme mana yang lebih sejalan dengan nilai dan tujuan keuanganku?" untuk menjawab itu, kamu perlu memahami keduanya bukan hanya percaya pada klaim salah satu pihak.