Konten dari Pengguna

Pengaruh Media Sosial Terhadap Kesehatan Mental Gen Z di Era Digital

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azzahra Husnul Khotimah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari Gen Z. Instagram, TikTok, X, dan berbagai platform lainnya digunakan untuk berkomunikasi, mencari hiburan, serta memperoleh informasi. Namun, di balik manfaatnya, kebiasaan menggunakan media sosial juga perlu diperhatikan, terutama ketika mulai mengganggu waktu istirahat dan cara seseorang menilai dirinya sendiri.

Salah satu hal yang perlu diwaspadai adalah kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Unggahan tentang pencapaian, penampilan, atau kehidupan yang terlihat sempurna bisa membuat seseorang merasa tertinggal. Menurut saya, kita perlu mengingat bahwa unggahan hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Kesulitan dan kegagalan yang mereka alami belum tentu ikut ditampilkan.

Ilustrasi Wanita bermain media sosial pada malam hari Sumber:  ChatGPT
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Wanita bermain media sosial pada malam hari Sumber: ChatGPT

Penggunaan media sosial pada malam hari juga berkaitan dengan kualitas tidur. Penelitian Woods dan Scott (2016) terhadap 467 remaja di Skotlandia menemukan bahwa penggunaan media sosial yang lebih tinggi berkaitan dengan kualitas tidur yang lebih buruk, harga diri yang lebih rendah, serta tingkat kecemasan dan depresi yang lebih tinggi. Meski temuan ini tidak membuktikan bahwa media sosial menjadi satu-satunya penyebab, hasilnya menunjukkan bahwa kebiasaan penggunaannya perlu diperhatikan.

Ilustrasi Wanita sedang melihat pencapaian orang lain melalui media sosial Sumber: ChatGPT

Rasa takut tertinggal atau FOMO juga dapat membuat seseorang merasa perlu terus mengikuti unggahan dan tren terbaru. Menurut saya, keinginan untuk selalu terhubung perlu diberi batas. Kita tidak harus mengetahui semua hal yang terjadi di media sosial, apalagi jika kebiasaan tersebut membuat waktu belajar, beristirahat, dan berinteraksi langsung menjadi terabaikan.

Ilustrasi seorang wanita yang sedang berolahraga Sumber : ChatGPT

Manfaat membatasi penggunaan media sosial ditunjukkan dalam penelitian Hunt dan rekan-rekannya (2018) terhadap 143 mahasiswa University of Pennsylvania. Peserta yang membatasi penggunaan Facebook, Instagram, dan Snapchat menjadi 10 menit per platform setiap hari selama tiga minggu mengalami penurunan kesepian dan gejala depresi dibandingkan kelompok yang menggunakan media sosial seperti biasa. Batas waktu tersebut merupakan pengaturan dalam penelitian, bukan aturan yang pasti cocok untuk semua orang.

Menurut saya, media sosial tidak perlu dijauhi sepenuhnya. Gen Z dapat mulai mengatur waktu penggunaan, mematikan notifikasi yang tidak diperlukan, dan memilih konten yang bermanfaat. Menyediakan waktu untuk berolahraga, menjalankan hobi, serta bertemu teman atau keluarga juga menjadi cara menjaga keseimbangan antara kegiatan digital dan kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, pengaruh media sosial terhadap kesehatan mental tidak bisa disamaratakan pada setiap orang. Namun, penelitian tersebut memberi alasan untuk lebih memperhatikan kebiasaan kita saat menggunakannya. Media sosial sebaiknya membantu kita terhubung dan berkembang, tanpa membuat kita terus merasa kurang hanya karena melihat kehidupan orang lain di layar.

Sumber penelitian:

Woods, H. C., dan Scott, H. (2016). #Sleepyteens: Social media use in adolescence is associated with poor sleep quality, anxiety, depression and low self-esteem. Journal of Adolescence, 51, 41–49. https://eprints.gla.ac.uk/120206/

Hunt, M. G., Marx, R., Lipson, C., dan Young, J. (2018). No More FOMO: Limiting Social Media Decreases Loneliness and Depression. Journal of Social and Clinical Psychology, 37(10), 751–768. https://doi.org/10.1521/jscp.2018.37.10.751

Oleh: Azzahra Husnul Khotimah

NIM: 261011701036