Konten dari Pengguna

Pembentukan Konsep Diri Pada Individu Perspektif Psikologi Pendidikan

Azzahra Nurazizah

Azzahra Nurazizah

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, fakultas ilmu tarbiyah dan keguruan, program studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia angkatan 2023.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azzahra Nurazizah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: pngtree
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: pngtree

Konsep diri adalah penilaian individu tentang diri sendiri yang bersifat fisik, psikis, sosial, emosional, aspirasi, dan prestasi. Konsep diri fisik adalah gambaran individu tentang pentingnya kesehatan tubuh dalam hubungannya dengan perilakunya. Konsep diri psikis adalah gambaran individu tentang kemampuan danketidakmampuannya, harga drinya dan hubungannya dengan orang lain. Konsep diri sosial adalah gambaran individu tentang hubungannya dengan orang lain, dengan teman sebaya, dengan keluarga, dan sekitarnya. Konsep diri emosional adalah gambaran individu tentang emosi diri, seperti kemampuan menahan emosi, pemarah, sedih, atau senang, pendendam, pemaaf, dan lainnya. Konsep diri aspirasi adalah gambaran individu tentang pendapat dan gagasan, kreaktivitas, dan cita-cita. Konsep diri prestasi adalah gambaran individu tentang kemajuan dan keberhasilan yang akan diraih, baik dalam masalah belajar mapun kesuksesan hidup.

Konsep diri seseorang tidak stagnan dan tidak berubah sepanjang waktu, sebaliknya, mereka berubah seiring dengan terbantuknya emosi, sosisal, kognitif, dan personal. Keluarga, sekolah (Pendidikan), teman sebaya, orang dewasa, dan institusi non formal lainnya adalah beberapa tempat yang sangat mempengaruhi terbentuknya konsep diri individu. Konsep diri adalah keseluruhan aspek dari domain yang dapat dipahami dan ditunjuk. Pendefisian diri seperti, “Aku anak yang hebat dan pasti akan berhasil”, akan mendorong anak untuk menghadapi tugas dan beban yang diberikan kepadanya. Pendefinisian diri yang negatif juga cenderung berdampak negatif pada upaya anak untuk menyelesaikan tugas dan langsung jawabnya. Setiap individu tentulah memiliki konsep tentang siapa dirinya, dan konsep tersebut dibentuk atas dasar interaksinya dengan orang lain, terutama orang tuanya. Individu memiliki pengalaman beragam atas hasil interaksi dengan orang lain. Terkadang pengalaman itu membanggakan, menyedihkan, membangun semangat, dan sebagainya. Pengalaman tersebut lalu diolah, direnungkan, denga napa yang sesungguhnya menjadi realitas dalam dirinya. Bagi individu yang masih dalam proses perkembangan, individu cenderung membentuk konsep berpikir tentang dirinya atas dasar penamaan dan penilaian orang lain. Misalnya, jika orang tuanya mengatakan bahwa dirinya pandai dan pemberani, maka pernyataan ini dipersepsi menjadi kepunyaan. Kemudian, anak mendefinisikan dirinya sebagai seorang yang pandai dan pemberani.

REFERENSI

Muawanah, L. Kematangan Emosi, Konsep Diri, dan Kenakalan Remaja. Jurnal Psikologi. Vol. 7. No. 1. (2012).