Banyak Anak Muda Bilang Kantornya ‘Toxic’: Ada yang Salah dengan Budayanya?”
Tulisan dari nachika siffa azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini, istilah toxic workplace semakin sering muncul di linimasa media sosial. Banyak anak muda membagikan pengalaman kerja yang penuh tekanan, mulai dari jam kerja tidak jelas, beban tugas berlebihan, hingga atasan yang sulit diajak berdiskusi. Tak jarang, keluhan ini justru dibalas dengan anggapan bahwa generasi muda terlalu sensitif atau tidak tahan banting.
Padahal, jika dilihat lebih dalam, masalahnya tidak selalu soal mental karyawan. Banyak lingkungan kerja terasa toxic karena sistem kerja yang sejak awal memang tidak sehat. Target terus meningkat tanpa perencanaan matang, pembagian tugas yang tidak seimbang, serta tuntutan selalu siap di luar jam kerja sering dianggap sebagai hal wajar. Dalam jangka panjang, pola seperti ini membuat karyawan kelelahan, baik secara fisik maupun mental.
Di sejumlah kantor, profesionalisme masih dimaknai secara keliru. Loyalitas sering diartikan sebagai kesediaan untuk lembur tanpa batas, tidak banyak bertanya, dan selalu mengiyakan perintah atasan. Ketika ada karyawan yang mencoba menyampaikan keberatan atau meminta kejelasan, mereka justru dicap kurang berdedikasi. Budaya semacam ini perlahan menciptakan tekanan psikologis yang membuat lingkungan kerja terasa tidak aman.
Generasi muda cenderung lebih cepat menyadari kondisi tersebut. Mereka tumbuh di era keterbukaan informasi, di mana pengalaman kerja bisa dibandingkan dengan mudah lewat cerita orang lain. Ketika realitas di kantor tidak sejalan dengan gambaran kerja yang sehat dan manusiawi, wajar jika muncul rasa kecewa. Bukan karena tidak mau berjuang, tetapi karena sadar bahwa bekerja tidak seharusnya selalu mengorbankan kesehatan mental.
Perusahaan yang mampu bertahan biasanya mulai melihat persoalan ini dari sudut pandang yang lebih objektif. Alih-alih menyalahkan karyawan, mereka membenahi sistem kerja: target dibuat lebih realistis, pembagian peran diperjelas, serta batasan jam kerja dihargai. Lingkungan kerja yang sehat bukan berarti tanpa tekanan, melainkan tekanan yang masuk akal dan dikelola dengan komunikasi yang baik.
Pada akhirnya, label “toxic” sering muncul sebagai respons atas sistem kerja yang sudah lama bermasalah. Anak muda hanya menjadi pihak yang paling berani menyuarakannya. Jika perusahaan ingin mempertahankan talenta dan reputasi, yang perlu dibenahi bukan mental generasi mudanya, melainkan budaya dan cara kerja yang selama ini dianggap normal, padahal melelahkan.

