Konten dari Pengguna

Kondangan Akademik: Tradisi Baru Mahasiswa Merayakan Sidang Skripsi Teman

Sumber: Ai
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Ai

Momen sidang skripsi kini tidak lagi identik dengan suasana tegang yang hanya dihadiri dosen penguji dan keluarga. Di berbagai kampus, muncul kebiasaan baru yang dikenal sebagai kondangan akademik, yaitu tradisi datang ke sidang teman untuk memberikan dukungan sekaligus merayakan keberhasilannya setelah dinyatakan lulus. Tak sedikit mahasiswa yang membawa buket bunga, balon, kue, hingga hadiah kecil sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan yang telah dilalui.

Fenomena ini semakin sering terlihat dan banyak dibagikan di media sosial. Foto-foto bersama setelah sidang, ucapan selamat, hingga video kejutan menjadi bagian dari perayaan yang menarik perhatian. Bagi sebagian mahasiswa, momen tersebut bukan sekadar mengikuti tren, melainkan cara menunjukkan bahwa proses menyelesaikan skripsi adalah pencapaian yang layak dirayakan bersama.

Menyusun skripsi bukanlah perjalanan yang mudah. Berbulan-bulan menghadapi revisi, mencari data, berkonsultasi dengan dosen pembimbing, hingga menghadapi rasa lelah dan tekanan menjadi pengalaman yang hampir dirasakan setiap mahasiswa tingkat akhir. Karena itu, kehadiran teman saat sidang sering dianggap sebagai bentuk dukungan moral yang mampu memberikan semangat sebelum maupun setelah ujian berlangsung.

Di sisi lain, kondangan akademik juga memperlihatkan perubahan cara mahasiswa memaknai pencapaian. Jika dahulu kelulusan lebih sering dirayakan secara sederhana bersama keluarga, kini teman-teman juga menjadi bagian penting dari momen tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan pertemanan memiliki peran besar dalam perjalanan akademik seseorang.

Namun, di balik sisi positifnya, fenomena ini juga memunculkan berbagai pandangan. Sebagian mahasiswa merasa senang karena mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekat. Sebaliknya, ada pula yang merasa terbebani oleh ekspektasi untuk memberikan hadiah atau datang ke setiap sidang teman.

Tidak sedikit pula mahasiswa yang membandingkan perayaan dirinya dengan unggahan orang lain di media sosial. Akibatnya, muncul rasa khawatir jika momen kelulusannya tidak semeriah yang mereka lihat. Perbandingan tersebut terkadang membuat makna utama dari sebuah kelulusan bergeser, dari rasa syukur atas pencapaian menjadi keinginan untuk menyamai perayaan orang lain.

Media sosial memang turut memperkuat fenomena kondangan akademik. Unggahan foto buket bunga berukuran besar, dekorasi, atau hadiah yang menarik sering kali menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain. Meski demikian, penting untuk diingat bahwa makna utama dari kondangan akademik bukan terletak pada nilai hadiah yang diberikan, melainkan pada perhatian dan dukungan yang ditunjukkan kepada teman yang sedang merayakan pencapaiannya.

Pada akhirnya, setiap mahasiswa memiliki cara yang berbeda dalam merayakan kelulusannya. Ada yang memilih berkumpul sederhana bersama teman, ada pula yang lebih nyaman merayakannya bersama keluarga. Tidak ada aturan bahwa setiap perayaan harus terlihat mewah atau mengikuti tren yang sedang berkembang.

Kondangan akademik dapat menjadi tradisi yang positif apabila dipahami sebagai bentuk apresiasi, bukan kewajiban. Kehadiran teman, ucapan selamat yang tulus, atau pelukan setelah sidang sering kali jauh lebih bermakna daripada hadiah yang mahal. Sebab, yang paling dikenang dari sebuah pencapaian bukanlah seberapa besar perayaannya, melainkan siapa saja yang turut hadir memberikan dukungan di momen penting tersebut.