Konten dari Pengguna

The Wind Rises: Ketika Ghibli Memilih Mimpi dan Imajinasi di Atas Mantra

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azzalia Shafa Fauziah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Identitas Film

  • Judul Film: The Wind Rises (Kaze Tachinu)

  • Sutradara & Penulis Naskah: Hayao Miyazaki

  • Studio Produksi: Studio Ghibli

  • Tahun Rilis: 2013

  • Durasi: 126 menit

  • Penata Musik: Joe Hisaishi

Studio Ghibli selalu identik dengan kelembutan visual dan cerita yang menyentuh hati saya. Namun, ada satu hal yang membuat The Wind Rises terasa begitu istimewa bagi saya, menempati posisi tersendiri dibandingkan karya-karya Ghibli lainnya. Jika film-film populer seperti Spirited Away atau Howl's Moving Castle memanjakan penonton dengan penyihir dan makhluk ajaib, The Wind Rises justru berani berpijak pada realita dunia nyata.

Tidak ada mantra atau keajaiban magis di sini. "Keajaiban" dalam film ini murni hadir dari benih mimpi, ketekunan, dan perjuangan manusia di tengah gejolak sejarah. Alur asmara yang diangkat pun adalah kisah cinta masa dewasa yang matang, rasional, tapi tetap indah dan rapuh. Inilah yang membuat saya jatuh hati sejak awal, sebuah narasi animasi yang tidak hanya hangat, tetapi juga dewasa dan sangat humanis.

Kisah Tokoh Nyata dan Perjuangan Tanpa Menyerah

Salah satu daya tarik utama film ini bagi saya adalah keberanian Miyazaki mengangkat kisah hidup Jiro Horikoshi, sosok nyata dalam sejarah penerbangan Jepang yang merancang pesawat tempur legendaris Mitsubishi A5M dan A6M Zero. Mengetahui bahwa cerita ini berakar dari rekam jejak insinyur asli di dunia nyata membuat setiap langkah perjuangan Jiro terasa sangat nyata dan menginspirasi.

Saya sangat kagum melihat bagaimana Jiro memelihara mimpinya. Sejak kecil ia bercita-cita menjadi pilot, tapi impian itu harus pupus karena ia menderita ganggguan penglihatan rabun jauh. Namun, ia memilih untuk tidak menyerah. Melalui ruang imajinatif mimpinya, ia dipertemukan dengan desainer pesawat asal Italia, Giovanni Battista Caproni, yang menegaskan bahwa jika Jiro tidak bisa menerbangkan pesawat, ia selalu bisa menciptakannya.

Perjuangan Jiro mewujudkan mimpi itu jauh dari kata mudah. Ia merancang pesawat di tengah rentetan peristiwa kelam dalam sejarah Jepang, mulai dari Gempa Bumi Besar Kanto 1923 yang meluluhlantakkan kota, depresi besar pada 1930 yang melumpuhkan perekonomian dan memiskinkan rakyat, hingga tekanan militer era Showa yang menuntut penciptaan mesin perang di tengah keterbatasan dana dan material. Di tengah segala rintangan dan krisis itu, Jiro tetap teguh berkarya dan terus menggambar rancangan sayap pesawat dengan dedikasinya yang luar biasa.

Dramatisasi Romansa Jiro dan Naoko

Di samping dinamika teknis penerbangan, alur yang paling menyita emosi saya adalah kisah asmara Jiro. Pertemuan pertama mereka terjadi semasa remaja di dalam kereta api, tepat ketika Gempa Kanto 1923 melanda. Di momen itulah tersemat sebuah pesan dari penyair Paul Valéry “Le vent se leve! Il faut tenter de vivre," angin berhembus… seseorang harus berusaha tetap hidup yang menjadi semacam moto penguat sepanjang film. Kalimat filosofis ini bergema berulang kali dalam benak Jiro dan Naoko, juga kerap diselipkan Caproni di ruang imajinatif Jiro sebagai dorongan moral. Pertolongan yang saling diberikan di masa bencana itu kemudian membawa mereka pada pertemuan kembali bertahun-tahun kemudian saat dewasa, membuahkan jalinan cinta yang sangat manis.

Hal yang menarik dan membuat saya semakin mengagumi konstruksi cerita ini adalah kisah asmara tragis bersama Naoko ini sebenarnya bukan bagian dari kehidupan asli Jiro Horikoshi. Di dunia nyata, istri Jiro tidak menderita sakit parah. Miyazaki secara jenius menggabungkan biografi Jiro dengan novel semi-otobiografi berjudul Kaze Tachinu karya Tatsuo Hori. Dramatisasi romansa dengan Naoko yang mengidap tuberkulosis menciptakan guncangan emosional luar biasa bagi penonton. Meski kisah cinta ini berakhir menyedihkan, keindahannya tetap mengendap dan memberi warna bagi yang menontonnya.

Secara visual, saya dibuat terpukau oleh eksekusi animasinya. Gambar rancangan teknis pesawat yang presisi, kepakan sayap di udara, serta pemandangan alam dan kota digarap dengan begitu halus, detail, dan hangat. Meski berlatar era perang dunia dan krisis yang mencekam, atmosfer visual serta alunan musik karya Joe Hisaishi justru menghadirkan kedamaian dan kenyamanan tersendiri saat menontonnya.

Dari keseluruhan alur dan penokohannya, ada tiga pelajaran hidup paling berharga yang saya dapatkan. Pertama, soal kegigihan mewujudkan ambisi, bagaimana seseorang tetap bisa memegang teguh cita-citanya dan melangkah maju di tengah rintangan fisik, bencana alam, maupun keterbatasan zaman. Kedua, soal arti ketulusan dan dukungan, kehadiran Naoko membuktikan bahwa bentuk dukungan terbesar dari pasangan tidak harus berupa keterlibatan langsung dalam pekerjaan teknis, cukup dengan mendampingi, menemani proses pertumbuhan pasangan, dan memberi ruang hangat untuk bersandar. Ketiga, soal sikap rasional dan keteguhan hati menghadapi takdir, saat Jiro harus merelakan kehilangan istri tercintanya dan melihat pesawat ciptaannya hancur akibat perang, ia belajar menerima realita dengan lapang dada dan tetap melanjutkan hidup.

Menurut saya, yang menjadi titik lemah "The Wind Raises" adalah pada durasinya yang panjang dengan alur yang terkesan pelan dan lambat bisa menciptakan kebosanan dan kejenuhan penonton. Selain itu,kisah cinta Jiro yang berakhir menyedihkan bergantung pada keadaan cerita tetap menimbulkan kekecewaan bagi saya.

Penutup

The Wind Rises adalah sebuah mahakarya yang sangat personal, indah, dan penuh makna. Saya jatuh hati pada cara film ini menyusun plot, membentuk karakterisasi, serta menyampaikan motivasi tersirat di setiap babak kehidupan Jiro. Sisipan rentetan peristiwa historikal Jepang pada film ini menambah insight baru bagi saya dengan pengemasan animasinya yang detail dan halus. Meskipun awalnya nampak membosankan, tapi film ini memiliki banyak scene dan hal-hal yang menarik untuk dibahas. Dari film ini saya belajar bahwa meski angin kehidupan berembus kencang membawa cobaan dan duka, kita selalu punya alasan untuk bertahan dan terus menerbangkan mimpi-mimpi kita

Jiro dan Naoko dalam salah satu adegan di The Wind Rises (2013). Sumber: Tangkapan layar dari video Youtube official trailer The Wind Rises, https://youtu.be/RzSpDgiF5y8?si=B2msC1_rqIjnLwdm, diakses 4 Oktober 2026