Klasifikasi NOVA: Tinjauan terhadap Kerangka, Fungsionalitas, dan Aplikasinya

Mahasiswa Program Doktor Ilmu Pangan, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor
·waktu baca 16 menit
Tulisan dari Azzam Akbar Fadhillah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ditulis oleh Azzam Akbar Fadhillah, mahasiswa program studi Doktor Ilmu Pangan, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Klasifikasi NOVA telah banyak digunakan di berbagai ranah pembahasan, dari masyarakat biasa hingga kalangan akademik. Namun, argumen yang akan disampaikan di ulasan ini adalah bahwa penyederhanaan yang berlebihan, kelemahan metodologis, dan bias yang melekat pada sistem ini menjadikannya alat yang tidak memadai dan berpotensi menyesatkan untuk panduan diet dan kebijakan publik. Diperlukan sebuah kerangka kerja yang lebih bernuansa dan berbasis bukti—sebuah kerangka yang mampu membedakan antara formulasi dan pengolahan, memperhitungkan nilai gizi, serta mengakui peran esensial teknologi pangan dalam sistem pangan global yang berkelanjutan dan aman.
Pergeseran Paradigma dari Nutrien ke Pengolahan
Secara historis, ilmu gizi berpusat pada nutrien—seperti lemak, protein, dan vitamin—serta kelompok pangan, seperti buah-buahan dan biji-bijian. Namun, dalam dekade terakhir, sebuah paradigma baru yang revolusioner sekaligus menarik perhatian telah muncul: klasifikasi pangan NOVA. Sistem ini mengusulkan bahwa tingkat pengolahan pangan merupakan penentu kesehatan masyarakat yang lebih signifikan daripada kandungan nutriennya semata (Monteiro, 2009).
Inti sistem yang diajukan oleh Monteiro dan rekan-rekannya adalah bahwa peningkatan global obesitas dan penyakit tidak menular didorong oleh pergeseran pola makan tradisional yang berbasis pangan utuh atau olahan minimal ke pola makan yang didominasi oleh Pangan Ultra-Olahan atau Ultra-Processed Foods (UPFs) (Monteiro et al., 2017; Monteiro et al., 2019). Konsep ini menempatkan proses industri, formulasi produk, dan motif ekonomi di balik produksi pangan sebagai pusat analisis kesehatan masyarakat.
Kerangka Kerja NOVA: Rasionalitas, Definisi, dan Argumen Melawan Pangan Ultra-Olahan
Untuk memahami kritik terhadap sistem NOVA, penting untuk terlebih dahulu memahami prinsip-prinsipnya dari perspektif para penggagasnya. Bagian ini akan menguraikan secara komprehensif logika di balik penciptaan NOVA, definisi dari empat kelompoknya, dan argumen-argumen yang dibangun untuk menentang konsumsi pangan ultra-olahan.
Rasionalitas di Balik Sistem Klasifikasi Baru
Pengembangan NOVA didasari oleh persepsi kelemahan pada klasifikasi konvensional yang berbasis nutrien. Menurut Monteiro et al. (2017), sistem profil nutrien lama dapat menyesatkan karena pangan dengan dampak kesehatan yang sangat berbeda dapat dikelompokkan bersama. Sebagai contoh, dalam kategori "daging dan produk daging", daging ayam segar sering kali disatukan dengan nuget ayam meskipun keduanya memiliki profil kesehatan yang berbeda. Gagasan inti yang mendasarinya adalah bahwa "Isu utamanya bukan pangan, bukan pula nutrien, melainkan pengolahan" (Monteiro, 2009). Selain itu, para penggagas NOVA mengidentifikasi pendorong sosio-ekonomi sebagai faktor krusial. Mereka menyoroti peran perusahaan transnasional, yang sering disebut sebagai "Big Food", dalam membentuk kembali pasokan pangan global. Perusahaan-perusahaan ini dituduh mempromosikan konsumsi produk yang sangat menguntungkan melalui pemasaran agresif, yang pada akhirnya menggeser pola makan tradisional yang lebih sehat (Monteiro et al., 2017). Dengan demikian, NOVA tidak hanya dirancang sebagai alat klasifikasi nutrisi, tetapi juga sebagai kerangka kerja untuk menganalisis dampak sistem pangan industri modern terhadap kesehatan global.
Empat Kelompok Klasifikasi Pangan NOVA
NOVA mengklasifikasikan semua jenis pangan dan produk pangan ke dalam empat kelompok berbeda berdasarkan sifat, tingkat, dan tujuan pengolahan industri yang dijalaninya. Definisi dan contoh untuk setiap kelompok disajikan dalam Tabel 1, yang disintesis dari publikasi-publikasi dasar oleh Monteiro dan rekan-rekannya (Monteiro et al., 2017; Monteiro et al., 2019).
Tuduhan terhadap Pangan Grup 4: Bahaya Pengolahan Ultra
Argumen inti dari kerangka kerja NOVA adalah kritik keras terhadap pangan di Grup 4. Para penggagasnya mengklaim bahwa produk-produk ini berbahaya bagi kesehatan melalui beberapa mekanisme.
Pertama, UPF dianggap "secara intrinsik/asal tidak sehat" karena formulasinya. Menurut Monteiro et al. (2017), UPF bukanlah pangan yang dimodifikasi, melainkan "formulasi" dari sumber energi dan nutrien industri yang murah. Formulasi ini secara khas padat energi, tinggi lemak tidak sehat, pati murni, gula, dan garam, sementara miskin protein, serat pangan, dan mikronutrien.
Kedua, UPF dirancang untuk menjadi sangat lezat (hyper-palatable) dan mendorong konsumsi berlebih. Produk-produk ini diformulasikan agar menimbulkan kebiasaan, bahkan terkadang bersifat "adiktif", yang membuatnya sulit untuk dihindari dan dapat mengganggu sinyal kenyang serta kontrol nafsu makan sehingga mendorong konsumsi energi yang berlebihan (Monteiro et al., 2017). Hal ini memunculkan pertanyaan kritis:
"Kalau membuat makanan menarik menjadi tidak sehat karena masuk kategori 4, kalau begitu gausah bikin makanan yang enak dong supaya ga masuk kategori 4?"
Lebih jauh lagi, jika alasan pangan UPF tidak sehat karena tinggi kalori, tampaknya yang salah bukan makanannya, tetapi pola makan yang tidak menjaga batas kalori.
Ketiga, UPF dituduh menyebabkan kerusakan sosial, budaya, dan lingkungan. Karena sifatnya yang praktis, UPF dikatakan menggeser hidangan yang dimasak di rumah, melemahkan pengalaman bersama dalam menyiapkan dan menikmati makanan. Hal ini mengikis tradisi kuliner lokal dan nasional, digantikan oleh kebiasaan konsumsi yang seragam yang didorong oleh perusahaan transnasional. Dari sisi lingkungan, kemasan UPF menghasilkan limbah dalam jumlah besar, dan produksinya sering kali bergantung pada monokultur tanaman intensif yang merusak keanekaragaman hayati (Monteiro et al., 2017).
Terakhir, salah satu bahaya yang paling ditekankan adalah motif keuntungan sebagai pendorong utama. UPF dirancang untuk menjadi "produk yang sangat menguntungkan (bahan baku murah)" (Monteiro et al., 2019). Hal ini menimbulkan pertanyaan fundamental:
Disebutkan bahaya UPF salah satunya terkait dengan ''highly profitable products'''. Apa salahnya?
Dari perspektif NOVA, masalahnya adalah bahwa pengejaran keuntungan ini mengarah pada formulasi produk yang memprioritaskan umur simpan, palatabilitas, dan biaya rendah di atas nilai gizi, yang pada akhirnya merugikan kesehatan masyarakat. Dengan demikian, klasifikasi NOVA bukan sekadar alat ilmiah; ia adalah sebuah manifesto sosio-politik yang mengkritik dampak sistem pangan kapitalis global terhadap kesehatan manusia dan planet.
Meluruskan Sistem Klasifikasi NOVA
Kritik paling mendasar terhadap sistem NOVA adalah asumsinya bahwa Grup 4 merupakan kategori yang berisi pangan yang seragam dan tidak sehat. Bukti-bukti ilmiah yang terus berkembang menunjukkan bahwa kategori ini sangat heterogen, mencakup produk-produk dengan dampak kesehatan yang sangat berbeda, dan bahkan dapat secara keliru mengklasifikasikan pangan yang bermanfaat sebagai "berbahaya".
Paradoks UPF: Bukti Adanya Kaitan dengan Hasil Kesehatan yang Bermanfaat
Pernyataan bahwa semua UPF "secara intrinsik tidak sehat" (Monteiro et al., 2019) secara langsung ditantang oleh bukti empiris. Sebuah studi kohort prospektif berskala besar yang dipublikasikan dalam artikel Chen et al. (2023) menemukan hasil yang mengejutkan. Meskipun asupan total UPF secara keseluruhan berkorelasi dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2, analisis sub kelompok mengungkapkan gambaran yang jauh lebih kompleks. Studi tersebut menemukan bahwa beberapa subkelompok UPF justru berkaitan dengan penurunan risiko diabetes. Subkelompok ini termasuk sereal ultra-olahan, roti gandum hitam dan roti gandum utuh ultra-olahan, camilan manis dan gurih dalam kemasan, produk berbasis buah, serta yogurt dan makanan penutup berbasis susu.
Temuan ini merupakan sebuah paradoks yang meruntuhkan pondasi argumen NOVA. Jika beberapa jenis UPF dapat dikaitkan dengan hasil kesehatan yang positif, tingkat pengolahan itu sendiri bukanlah prediktor yang andal untuk menentukan apakah suatu pangan itu sehat atau tidak. Hal ini menunjukkan bahwa generalisasi yang luas terhadap seluruh kategori UPF tidak hanya terlalu menyederhanakan, tetapi juga berpotensi menyesatkan karena mengabaikan komposisi nutrisi dan matriks pangan yang spesifik dari setiap produk.
Rekonsiliasi UPF dengan Pola Makan Berkualitas Tinggi
Argumen lain yang melemahkan validitas NOVA sebagai panduan kesehatan adalah kemampuannya untuk selaras dengan pola makan sehat yang sudah mapan. Dalam sebuah studi proof-of-concept yang inovatif, Hess et al. (2023) berhasil menyusun menu makanan selama tujuh hari yang sepenuhnya sesuai dengan "Recommended Healthy Diets in the Dietary Guidelines for Americans" (DGA). Yang luar biasa, menu ini memperoleh 91% energinya dari pangan yang diklasifikasikan sebagai UPF oleh NOVA.
Meskipun didominasi oleh UPF, menu ini berhasil mencapai skor kualitas diet yang tinggi, yaitu 86 dari 100 pada Healthy Eating Index-2015 (HEI-2015), dan menyediakan jumlah makro dan mikronutrien yang memadai. Skor ini jauh lebih tinggi daripada skor rata-rata diet orang Amerika pada umumnya, yaitu 59. Studi ini secara efektif menunjukkan bahwa klasifikasi NOVA bukanlah indikator yang dapat diandalkan untuk mutu diet. Pangan padat gizi yang sesuai dengan pedoman diet dapat dengan mudah "dimasukkan" secara keliru ke dalam Grup 4. Anjuran untuk menghindari semua pangan Grup 4, seperti yang disarankan oleh para pendukung NOVA, dapat secara tidak sengaja menghilangkan jenis pangan padat gizi yang penting untuk memenuhi rekomendasi diet.
Masalah "Salah karena Asosiasi": Kasus Alternatif Berbasis Tumbuhan
Salah satu kelemahan paling signifikan dari kerangka kerja generalisasi NOVA adalah kecenderungannya untuk mengklasifikasikan dan menstigmatisasi inovasi pangan yang bermanfaat. Kasus alternatif daging dan susu berbasis tumbuhan adalah contoh utamanya. Menurut Lee et al. (2024) dan Messina dan Messina (2025), klasifikasi produk-produk ini sebagai UPF adalah sebuah kesalahan fundamental.
Kerangka kerja NOVA, yang dikembangkan dengan mengamati tren pangan industri abad ke-20 (seperti camilan murah dan daging rekonstitusi), secara otomatis menganggap bahan-bahan seperti isolat protein dan pengemulsi sebagai penanda "ultra-olahan". Namun, teknologi pangan modern kini menggunakan bahan dan proses yang sama untuk menciptakan pangan inovatif dengan tujuan kesehatan dan keberlanjutan yang eksplisit. Karena definisi NOVA terpaku pada karakteristik UPF generasi lama, ia secara otomatis mengkategorikan inovasi baru yang bermanfaat ini sebagai "buruk".
Klasifikasi ini bermasalah karena beberapa alasan:
Mengabaikan Kualitas Gizi Unggul: Banyak alternatif daging dan susu nabati memiliki profil nutrisi yang lebih baik daripada produk hewani yang digantikannya, seperti kandungan lemak jenuh yang lebih rendah dan tidak adanya kolesterol, sambil tetap menyediakan protein berkualitas tinggi (Messina dan Messina, 2025).
Mengabaikan Manfaat Keberlanjutan: Produk-produk ini memiliki jejak lingkungan yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan peternakan hewan, menjadikannya komponen penting dalam sistem pangan yang berkelanjutan (Lee et al., 2024).
Menciptakan Persepsi Negatif: Dengan melabeli produk-produk ini sebagai UPF yang berkonotasi buruk, klasifikasi NOVA berpotensi menghalangi konsumen untuk mengadopsi pola makan yang lebih sehat dan ramah lingkungan. Ini adalah bentuk "demonizing food processing" yang mengabaikan konteks dan manfaat (Messina dan Messina, 2025).
Sistem ini tidak memiliki fleksibilitas untuk menilai sebuah produk pangan berdasarkan hasil nutrisi dan fungsionalnya yang sebenarnya, melainkan menghakiminya semata-mata berdasarkan metode pembuatannya. Hal ini menjadikan NOVA sebagai penghalang bagi kemajuan ilmu pangan yang bertujuan menciptakan solusi pangan yang lebih baik.
Dekonstruksi Arsitektur Sistem: Kelemahan Metodologis Dasar
Selain kritik terhadap hasil klasifikasinya, arsitektur sistem NOVA itu sendiri dibangun di atas pondasi yang inkonsisten dan ambigu. Analisis mendalam terhadap metodologinya mengungkapkan kelemahan fundamental yang mempertanyakan validitas dan fungsionalitasnya sebagai alat ilmiah atau kebijakan.
Krisis Kejelasan: Apakah NOVA Merupakan Sistem yang Fungsional?
Salah satu syarat utama dari setiap sistem klasifikasi yang andal adalah kemampuannya untuk diterapkan secara konsisten. Dalam hal ini, NOVA gagal secara signifikan. Sebuah studi oleh Braesco et al. (2022) menguji seberapa konsisten para ahli pangan dan gizi dalam menerapkan kriteria NOVA pada serangkaian produk pangan. Hasilnya menunjukkan tingkat keandalan antar-penilai yang rendah.
Studi tersebut menemukan bahwa bahkan para ahli pun tidak dapat secara konsisten mengelompokkan pangan ke dalam kategori NOVA yang sama. Secara mengejutkan, 25% dari produk pangan yang diuji ditempatkan di keempat kategori yang berbeda oleh para ahli yang berbeda. Jika para ahli saja merasa sistem ini ambigu dan membingungkan, sistem ini sama sekali tidak cocok untuk digunakan dalam panduan kesehatan masyarakat atau untuk edukasi konsumen karena sangat mungkin untuk disalahartikan dan diterapkan secara keliru. Sistem yang deskriptif dan tidak memiliki pohon keputusan yang jelas ini membuka ruang bagi interpretasi subjektif yang luas sehingga merusak objektivitasnya.
Sistem Formulasi, Bukan Pengolahan
Kritik yang paling mendasar adalah bahwa NOVA, terlepas dari namanya, sebenarnya bukanlah sistem yang mengukur tingkat pengolahan. Seperti yang diuraikan dalam artikel Ahrne et al. (2025), klasifikasi NOVA lebih didasarkan pada formulasi—yaitu, jenis bahan yang digunakan—daripada intensitas atau sifat proses fisik dan kimia yang sebenarnya.
Hal ini menimbulkan banyak inkonsistensi yang membingungkan. Misalnya, muncul pertanyaan:
Minyak bukan UPF? Padahal bikin minyak prosesnya sangat panjang. Kenapa cuma ada di kategori 2?
Minyak nabati, yang memerlukan proses ekstraksi, pemurnian, dan pemutihan yang ekstensif, ditempatkan di Grup 2 (bahan masak olahan). Sebaliknya, roti yang hanya ditambahkan satu pengemulsi—sebuah perubahan formulasi minor—langsung diklasifikasikan ke Grup 4 (UPF). Hal ini menggarisbawahi bahwa fokus NOVA bukanlah pada kompleksitas proses, melainkan pada ada atau tidaknya bahan-bahan tertentu yang dianggap "industri".
Inkonsistensi ini semakin terlihat dalam pernyataan seperti: "Industrial breads made only from wheat flour, water, salt and yeast are processed foods, while those whose lists of ingredients also include emulsifiers or colours are ultraprocessed." Pertanyaan yang muncul adalah:
Masa cuma ditambah bahan bisa jadi ultra-processed food?
Logika ini menunjukkan bahwa klasifikasi tersebut tidak didasarkan pada transformasi fisik atau kimia yang signifikan, melainkan pada daftar bahan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa klasifikasi NOVA yang dibuat Monteiro lebih banyak membahas bahan dan tidak detail menjelaskan tentang proses pengolahan untuk membuat 4 kategori pangan tersebut. Sistem ini secara keliru menyamakan "formulasi industri" dengan "pengolahan tingkat tinggi", padahal keduanya adalah konsep yang berbeda.
Ketiadaan Kerangka Penilaian Risiko yang Kuat
Klaim bahwa UPF berbahaya bagi kesehatan tidak didukung oleh kerangka penilaian risiko ilmiah yang kuat, yang umumnya terdiri dari empat langkah. Sistem NOVA gagal memenuhi standar ini di tingkat yang paling dasar. Dua di antaranya adalah identifikasi bahaya dan karakterisasi bahaya.
Identifikasi Bahaya (Hazard Identification): Langkah pertama dalam penilaian risiko adalah mengidentifikasi bahaya spesifik. Namun, NOVA tidak pernah secara jelas mendefinisikan bahaya universal yang melekat pada semua pangan Grup 4. Apakah bahayanya terletak pada gula, garam, dan lemak? Ataukah pada bahan-bahan seperti kasein, whey, gluten, atau minyak terhidrogenasi? Apakah karena adanya zat aditif? Atau, seperti yang tersirat, apakah bahayanya terletak pada fakta bahwa produk tersebut bermerek, praktis, atau dikemas secara menarik? Tanpa identifikasi bahaya yang konsisten dan spesifik, klaim risiko menjadi tidak berdasar.
Karakterisasi Bahaya (Hazard Characterization): Langkah ini melibatkan pemahaman tentang bagaimana bahaya tersebut menyebabkan efek kesehatan yang merugikan. Di sinilah stigma negatif NOVA terhadap pengolahan pangan perlu diluruskan. Pengolahan pangan bukanlah bahaya, melainkan penghubung penting antara sisi produksi dan konsumsi dalam sistem pangan. Pengolahan mengubah bahan baku pertanian menjadi makanan yang aman, bergizi, fungsional, terjangkau, dan dapat diterima secara sosial dan budaya. Peran krusialnya meliputi:
Menjamin Keamanan Pangan: Menghilangkan patogen dan memperpanjang umur simpan.
Meningkatkan Nilai Ekonomi dan Keberlanjutan: Mengurangi kehilangan dan pemborosan pangan (food loss and waste) serta meningkatkan efisiensi proses.
Mempromosikan Diversifikasi: Menciptakan variasi produk yang memenuhi kebutuhan diet yang beragam.
Dengan memberikan stigma negatif pada "pengolahan", NOVA mengabaikan peran vital ini dan secara keliru mengkarakterisasi sebuah proses esensial sebagai bahaya inheren. Upaya NOVA untuk menciptakan sebuah heuristik sederhana—"hindari UPF"—untuk masalah yang kompleks telah mengorbankan akurasi ilmiah demi kemudahan komunikasi. Meskipun ini menjadikannya alat ajakan yang kuat, hal itu juga menjadikannya alat yang lemah untuk sains dan kebijakan yang berbasis bukti.
Penutup: Jalan ke Depan untuk Pendekatan Klasifikasi Pangan Berbasis Sains
Klasifikasi pangan NOVA telah menjadi katalisator penting, memicu dialog global yang sangat dibutuhkan mengenai dampak sistem pangan industri terhadap kesehatan masyarakat. Namun, setelah dianalisis secara kritis, kerangka kerja ini terbukti merupakan instrumen yang cacat, didasarkan pada penyederhanaan yang berlebihan, definisi yang ambigu, dan bias yang melekat. Jalan ke depan menuntut pendekatan yang lebih bernuansa, berbasis bukti, dan tidak menghakimi.
Sistem Klasfiiksi NOVA: Katalisator Penting, Instrumen Kurang Andal
Tinjauan ini telah menunjukkan bahwa kategori Pangan Ultra-Olahan (UPF) atau Grup 4 dalam sistem NOVA cenderung heterogen dan menggeneralisasi. Klasifikasi ini secara keliru mengelompokkan produk-produk yang bermanfaat bagi kesehatan—seperti beberapa jenis sereal gandum utuh, yogurt, dan alternatif daging berbasis tumbuhan—bersama dengan produk-produk yang bernilai gizi rendah. Bukti menunjukkan bahwa pola makan sehat sesuai pedoman diet dapat mencakup sebagian besar energi dari pangan Grup 4 tanpa mengorbankan kualitas diet (Hess et al., 2023). Oleh karena itu, anjuran untuk menghindari semua pangan Grup 4 secara total tidak hanya tidak didukung oleh bukti ilmiah, tetapi juga berpotensi berbahaya karena dapat menghilangkan sumber-sumber nutrien penting dari diet. Meskipun NOVA berhasil memulai percakapan penting, dalam bentuknya saat ini, ia tidak layak untuk dijadikan dasar panduan diet atau kebijakan publik.
Melampaui Stigmatisasi Pengolahan Pangan
Salah satu dampak negatif yang lebih luas dari popularitas NOVA adalah persepsi negatif yang merembet pada pengolahan pangan secara umum. Stigmatisasi ini menciptakan pandangan yang salah kaprah terhadap proses yang sebenarnya krusial untuk sistem pangan yang berkelanjutan. Pengolahan pangan memegang peranan sangat penting dalam:
Meningkatkan keamanan pangan dengan menghilangkan patogen dan racun.
Memperpanjang umur simpan, yang secara langsung mengurangi pemborosan pangan.
Meningkatkan ketersediaan pangan, memungkinkan distribusi ke wilayah yang jauh dan sepanjang tahun.
Meningkatkan nilai gizi melalui fortifikasi atau peningkatan bioavailabilitas.
Menciptakan variasi produk untuk memenuhi kebutuhan diet dan preferensi konsumen yang beragam.
Meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya dengan mengoptimalkan pemanfaatan bahan baku.
Fokus pembahasan seharusnya tidak pada apakah suatu pangan "diolah", melainkan pada hasil akhir dari pengolahan tersebut—yaitu, profil nutrisi, keamanan, dan peran produk tersebut dalam pola makan yang seimbang.
Seruan untuk Kerangka Kerja yang Lebih Bernuansa dan Berbasis Bukti
Untuk bergerak maju, komunitas ilmiah dan pembuat kebijakan perlu mengadopsi pendekatan yang lebih canggih dan berbasis sains. Sistem klasifikasi pangan di masa depan harus direvisi atau dikembangkan dengan prinsip-prinsip berikut:
Revisi untuk Nuansa: Terminologi dan definisi Grup 4 NOVA perlu ditinjau ulang secara fundamental untuk lebih mencerminkan keragaman produk pangan, nilai gizinya, potensi dampak kesehatannya, dan perannya dalam aspek-aspek penting lainnya seperti ketahanan pangan dan keberlanjutan.
Pengakuan Peran Krusial Pengolahan Pangan: Setiap sistem klasifikasi harus secara eksplisit mengakui dan mengintegrasikan peran positif pengolahan pangan dalam mencapai sistem pangan yang berkelanjutan.
Berdasarkan Sains, Bukan Ideologi: Klasifikasi harus dibangun di atas kriteria yang objektif, dapat diukur, dan dapat diterapkan secara konsisten, meninggalkan sifat subjektif dan ambigu dari sistem NOVA saat ini.
Integrasi dengan Ilmu Gizi: Sistem baru tidak boleh menggantikan, melainkan harus melengkapi, puluhan tahun penelitian dalam ilmu gizi. Faktor-faktor seperti kepadatan nutrien, efek matriks pangan, dan konteks pola makan secara keseluruhan harus menjadi pertimbangan utama.
Dengan mengadopsi pendekatan yang lebih holistik dan berbasis bukti, kita dapat mengembangkan panduan yang benar-benar membantu konsumen membuat pilihan yang lebih sehat tanpa secara tidak adil menstigmatisasi teknologi dan inovasi yang sangat penting untuk memberi makan populasi dunia yang terus bertambah secara aman dan berkelanjutan.
Referensi:
Ahrné L, Chen H, Henry CJ, Kim HS, Schneeman B, Windhab EJ. 2025. Defining the role of processing in food classification systems—the IUFoST formulation & processing approach. NPJ Sci Food. 9(1). doi:10.1038/s41538-025-00395-x.
Braesco V, Souchon I, Sauvant P, Haurogné T, Maillot M, Féart C, Darmon N. 2022. Ultra-processed foods: how functional is the NOVA system? Eur J Clin Nutr. 76(9):1245–1253. doi:10.1038/s41430-022-01099-1.
Chen Z, Khandpur N, Desjardins C, Wang L, Monteiro CA, Rossato SL, Fung TT, Manson JE, Willett WC, Rimm EB, et al. 2023. Ultra-Processed Food Consumption and Risk of Type 2 Diabetes: Three Large Prospective U.S. Cohort Studies. Diabetes Care. 46(7):1335–1344. doi:10.2337/dc22-1993.
Hess JM, Comeau ME, Casperson S, Slavin JL, Johnson GH, Messina M, Raatz S, Scheett AJ, Bodensteiner A, Palmer DG. 2023. Dietary Guidelines Meet NOVA: Developing a Menu for A Healthy Dietary Pattern Using Ultra-Processed Foods. Journal of Nutrition. 153(8):2472–2481. doi:10.1016/j.tjnut.2023.06.028.
Lee SY, Lee DY, Hur SJ. 2024. Future perspectives: Current trends and controversies of meat alternatives classified as ultra-processed foods. J Food Sci. 89(11):7022–7033. doi:10.1111/1750-3841.17355.
Messina M, Messina V. 2025. Nova fails to appreciate the value of plant-based meat and dairy alternatives in the diet. J Food Sci. 90(2). doi:10.1111/1750-3841.70039.
Monteiro CA. 2009. Nutrition and health. The issue is not food, nor nutrients, so much as processing. Public Health Nutr. 12(5):729–731. doi:10.1017/S1368980009005291.
Monteiro CA, Cannon G, Levy RB, Moubarac JC, Louzada MLC, Rauber F, Khandpur N, Cediel G, Neri D, Martinez-Steele E, et al. 2019. Ultra-processed foods: What they are and how to identify them. Public Health Nutr. 22(5):936–941. doi:10.1017/S1368980018003762.
Monteiro CA, Cannon G, Moubarac JC, Levy RB, Louzada MLC, Jaime PC. 2018. The un Decade of Nutrition, the NOVA food classification and the trouble with ultra-processing. Public Health Nutr. 21(1):5–17. doi:10.1017/S1368980017000234.
