Ketika Adat Menguji Cinta: Keteguhan Jiwa dalam Tragedi Van Der Wijck

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
ยทwaktu baca 5 menit
Tulisan dari Nisrina Ismah Rafifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita melintasi masa lalu seseorang dan menyadari bahwa di balik senyum tenang atau pencapaian besarnya, tersimpan luka yang pernah menghancurkan hidupnya? Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali terlalu cepat menyimpulkan penderitaan seseorang hanya dari luar saja. Ketika mendengar nama novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Buya Hamka, sebagian besar dari kita mungkin langsung terbayang sebuah kisah asmara tragis yang klise atau drama romantis tentang dua sejoli yang tidak direstui. Namun, ketika saya membaca kembali karya legendaris sastra Indonesia ini, saya menemukan bahwa novel ini menyimpan kedalaman makna yang jauh lebih luas dari sekadar nasib malang dua insan yang dimabuk asmara. Hamka tidak hanya mengajak pembaca untuk meratapi kesedihan, melainkan membuka mata kita tentang bagaimana tradisi, status sosial, dan ketidakadilan lingkungan sanggup mengubah jalan hidup seseorang.
Kisah dalam novel ini berpusat pada sosok Zainuddin, seorang pemuda yang harus menanggung beban identitas sejak lahir. Sebagai anak dari pernikahan beda suku antara ayah berdarah Minangkabau dan ibu asal Bugis, Zainuddin tumbuh tanpa dekapan hangat kedua orang tuanya yang meninggal sewaktu ia masih kecil. Berbekal kerinduan akan tanah kelahiran sang ayah, ia memberanikan diri merantau ke Batipuh, Minangkabau. Niatnya sangat mulia dan sederhana, yaitu untuk belajar agama, mengenal akar budayanya, serta menjalin silaturahmi dengan kerabat lamanya. Namun, kenyataan pahit langsung menyambutnya ketika masyarakat setempat memandangnya dengan sebelah mata. Sistem kekerabatan Minangkabau yang mengikat garis keturunan dari pihak ibu membuat Zainuddin dianggap sebagai orang asing yang tidak berhak mengaku sebagai anak suku di tanah bangsanya sendiri.
Di tengah perasaan terasing dan penolakan yang membekukan hatinya, Zainuddin menemukan sedikit kehangatan saat mengenal Hayati, seorang gadis bangsawan Minang yang santun dan berhati lembut. Benih-benih cinta di antara mereka tumbuh secara alami melalui bait-bait surat yang ditulis dengan tutur kata nan indah. Namun, jalinan kasih tersebut segera berbenturan dengan benteng adat yang teramat kokoh. Lamaran Zainuddin ditolak mentah-mentah oleh keluarga Hayati semata-mata karena status sosial dan keturunannya yang dianggap tidak murni. Sebaliknya, Hayati dipaksa menikah dengan Aziz, seorang pemuda kaya-raya murni Minang yang berpendidikan modern, tetapi memiliki perangai buruk dan gemar berfoya-foya. Penolakan ini memukul jiwa Zainuddin hingga ia jatuh sakit parah dan kehilangan arah hidup.
Saat berada di titik terendah dalam hidupnya, Zainuddin beruntung memiliki sahabat sejati bernama Muluk yang terus mendampingi dan memberinya dorongan moral. Zainuddin memutuskan untuk bangkit dan menata kembali puing-puing harapannya dengan merantau ke Pulau Jawa. Di Surabaya, ia mengalihkan seluruh kepedihan, keputusasaan, dan rasa sakit hatinya menjadi karya tulisan yang menyentuh jiwa. Lewat ketekunan dan bakatnya, Zainuddin bertransformasi menjadi seorang penulis ternama yang sukses, kaya, dan sangat disegani. Takdir kemudian mempertemukannya kembali dengan Hayati dan Aziz dalam kondisi roda kehidupan yang telah berputar balik. Rumah tangga Aziz hancur berantakan akibat gaya hidupnya sendiri hingga akhirnya ia memilih mengakhiri hidupnya, meninggalkan Hayati dalam kemiskinan dan penyesalan.
Puncak pergolakan batin yang paling menguras emosi terjadi ketika Zainuddin, yang masih menyimpan luka mendalam akibat penolakan masa lalu, bersikap dingin dan menolak menerima kembali cinta Hayati. Ia memilih untuk memulangkan Hayati ke Batipuh dengan menaiki kapal mewah bernama Van Der Wijck. Keputusan tersebut berujung pada penderitaan yang tak terbayangkan ketika kapal tersebut mengalami musibah dan tenggelam di perairan Lamongan. Peristiwa tragis ini tidak hanya merenggut nyawa Hayati, tetapi juga menyisakan penyesalan mendalam dan rasa duka abadi bagi Zainuddin hingga akhir hayatnya.
Menurut saya, daya tarik utama dari novel ini terletak pada keberanian Buya Hamka dalam menyampaikan kritik sosial yang sangat tajam pada zamannya. Melalui nasib yang dialami Zainuddin, pembaca diajak untuk menyadari betapa aturan adat yang diterapkan secara kaku dan berlebihan dapat merusak hak-hak kemanusiaan serta menghancurkan masa depan seseorang. Menurut saya, cerita ini dengan sangat baik memperlihatkan keprihatinan atas sebuah sistem masyarakat yang lebih menghargai status kelahiran atau tebalnya kantong, ketimbang melihat ketulusan hati, akhlak, dan kebaikan seseorang.
Perubahan karakter Zainuddin dari seorang pemuda terbuang menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri. Menurut saya, bagian tersebut merupakan yang paling menginspirasi dari keseluruhan kisah ini. Sering kali kita merasa hancur dan ingin menyerah ketika impian atau perasaan kita ditolak oleh keadaan. Namun, perjalanan hidup Zainuddin mengajarkan bahwa penderitaan tidak seharusnya membuat kita menjadi pendendam atau kehilangan arah. Ia berhasil mengubah rasa sakit hati menjadi energi kreatif untuk menghasilkan karya yang bermanfaat bagi orang banyak. Keberhasilan Zainuddin membuktikan bahwa kehormatan seseorang tidak ditentukan oleh garis keturunan atau tempat ia dilahirkan, melainkan oleh karya, kontribusi, dan nilai kepribadian yang ia tunjukkan.
Selain pesan moralnya yang mendalam, menurut saya, gaya penceritaan Buya Hamka yang menggunakan bahasa puitis membuat kisah ini terasa begitu indah dan menyentuh perasaan. Walaupun gaya bahasanya membutuhkan sedikit penyesuaian bagi pembaca modern, tutur kata yang digunakannya tidak pernah terasa membosankan karena sangat kaya akan emosi dan estetika sastra. Kutipan surat-menyurat di antara para tokoh mampu menyampaikan perasaaan cinta dan kerinduan secara elegan tanpa harus terasa berlebihan. Melalui novel ini, kita memperoleh pelajaran berharga bahwa cinta sejati memang memerlukan pengorbanan, tetapi keadilan dan kehangatan rasa kemanusiaan tidak boleh dikorbankan demi keangkuhan sebuah tradisi.
Pada akhirnya, novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck mengajak kita untuk memandang arti keteguhan hidup dan penghargaan terhadap sesama dari sudut pandang yang lebih luas. Kita sering kali tergoda untuk menilai seseorang hanya dari label sosial atau latar belakang keluarganya tanpa pernah mau mengenal perjuangan batin yang telah dilaluinya. Menurut saya, karya klasik ini bukan sekadar warisan sastra masa lalu, melainkan sebuah cermin zaman yang akan selalu relevan untuk mengingatkan kita agar senantiasa menempatkan nilai kemanusiaan dan empati di atas segala bentuk aturan yang mengekang.
DAFTAR PUSTAKA
Hamka. (2018). Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Gema Insani.
