Konten dari Pengguna

Mengapa Pembelajaran yang Menyenangkan Lebih Efektif untuk Siswa?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Agam Praminsya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi belajar yang menyenangkan (pexels.com/Yan Krukau)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi belajar yang menyenangkan (pexels.com/Yan Krukau)

Hai teman-teman! Pernah nggak sih, merasa bosan atau jenuh saat belajar? Kalau iya, jangan khawatir, kamu nggak sendirian. Ternyata, belajar itu nggak harus selalu serius dan penuh tekanan. Justru, pembelajaran yang menyenangkan bisa bikin proses belajar jadi lebih efektif, lho! Nah, yuk kita bahas kenapa bisa begitu.

Belajar adalah proses atau usaha yang dilakukan oleh setiap individu untuk mencapai perubahan tingkah laku baik berupa pengetahuan, keterampilan, maupun sikap dan nilai positif sebagai pengalaman dari berbagai materi yang dipelajari. Dengan belajar, kita dapat meningkatkan kognitif menjadi lebih baik dan kompleks. Untuk lebih detail nya, simak ulasan berikut baik-baik, ya!

Meningkatkan Motivasi dan Minat untuk Belajar

ilustrasi kartu literasi (dok. Pribadi)

Saat belajar dengan cara yang menyenangkan, seperti bermain game edukatif atau belajar di luar kelas, motivasi belajar siswa jadi meningkat. Ketika siswa merasa senang dan tertarik dengan materi yang dipelajari, mereka lebih termotivasi untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Misalnya, ketika pelajaran Bahasa Indonesia dikemas dalam bentuk permainan kartu literasi, siswa lebih antusias menyelesaikan soal-soal tersebut dibandingkan dengan metode ceramah biasa. Dengan meningkatnya minat ini, siswa jadi lebih tekun dan rajin mengikuti pelajaran tanpa merasa terbebani.

Memperkuat Ingatan dan Pemahaman

ilustrasi siswa yang ingatan dan pemahamannya mulai meningkat (unsplash.com/sean Kong)

Belajar sambil bermain atau melalui kegiatan yang interaktif bisa membantu siswa lebih mudah mengingat materi. Misalnya, belajar matematika dengan menggunakan alat peraga atau eksperimen sains sederhana di rumah. Hasil penelitian dari Universitas Gadjah Mada menunjukkan bahwa emosi positif dapat memperkuat pembentukan ingatan jangka panjang. Ini berarti bahwa pengalaman belajar yang menyenangkan tidak hanya membuat siswa lebih mudah mengingat informasi dalam jangka pendek, tetapi juga meningkatkan daya ingat jangka panjang mereka. Ketika siswa belajar dengan cara yang menyenangkan, mereka lebih cenderung mengingat informasi penting yang diajarkan dan mampu mengaplikasikannya dalam berbagai situasi.

Mengurangi Stres dan Kecemasan

ilustrasi belajar sambil bermain di luar ruangan (unsplash.com/Marisa Howenstine)

Terakhir, belajar dengan cara yang menyenangkan bisa mengurangi stres dan kecemasan yang sering muncul saat menghadapi pelajaran. Saat suasana belajar rileks dan penuh tawa, otak pun jadi lebih mudah menyerap informasi. Suasana belajar yang positif dapat mengurangi tingkat stres dan meningkatkan kesejahteraan emosional siswa. Dengan menurunkan tingkat stres, siswa dapat lebih fokus dan berkonsentrasi pada materi yang diajarkan, sehingga hasil belajarnya pun meningkat. Misalnya, ketika siswa diajak belajar sambil bermain di luar ruangan, mereka merasa lebih santai dan bebas dari tekanan, yang pada akhirnya meningkatkan efektivitas belajar mereka.

Jadi, jelas kan, kenapa pembelajaran yang menyenangkan itu lebih efektif? Yuk, mulai sekarang ciptakan suasana belajar yang seru dan menyenangkan, baik di rumah maupun di sekolah. Selamat belajar!

Referensi:

https://www.unpad.ac.id/2024/02/permainan-kartu-sastra-untuk-menguatkan-literasi-berbahasa-indonesia/

https://media.neliti.com/media/publications/339550-meningkatkan-motivasi-dan-hasil-belajar-c98b602b.pdf

https://media.neliti.com/media/publications/354623-analisis-penerapan-metode-games-educatio-8fed296f.pdf

https://prospek.unram.ac.id/index.php/JTPD/article/download/1057/279/2952

https://jurnal.ugm.ac.id/buletinpsikologi/article/download/7378/5745

https://ejournal.unp.ac.id/index.php/psikologi/article/download/122927/108001

https://ejournal.unib.ac.id/index.php/jpmr/article/view/7524