Pendidikan di Indonesia: Mimpi Besar di Tengah Tantangan Nyata

Mahasiswa Universitas Katolik Santo Thomas Medan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Samuel hot martua butar butar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pendidikan selalu disebut sebagai jembatan menuju masa depan. Namun di Indonesia, jembatan itu masih berlubang di banyak sisi. Tidak semua anak memiliki akses yang sama untuk belajar, berkembang, dan meraih cita-cita.
Fakta di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan pendidikan yang cukup serius antara kota dan desa, antara barat dan timur Indonesia. Di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal), sekolah rusak, guru kurang, bahkan murid harus berjalan jauh hanya untuk mengeja huruf.

Menurut data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, lebih dari 20 ribu sekolah dasar di Indonesia kekurangan guru, dan banyak dari mereka tidak mendapatkan pelatihan pedagogi yang memadai.
Di sisi lain, anak-anak di perkotaan mulai akrab dengan coding dan robotik, sementara di pelosok masih harus berbagi satu buku untuk lima siswa. Ini bukan hanya masalah teknis, tapi juga masalah keadilan sosial.
Angka partisipasi sekolah memang meningkat, tapi mutu dan relevansi pendidikan menjadi tantangan berikutnya. Kurikulum masih terlalu padat teori dan minim keterampilan hidup. Banyak siswa lulus tanpa kesiapan kerja atau kemampuan kritis yang mumpuni.
Lebih parah, masih banyak anak yang putus sekolah karena tekanan ekonomi keluarga. Kemiskinan dan pendidikan adalah lingkaran yang saling mengunci.
Meski begitu, harapan belum padam. Banyak komunitas, yayasan, hingga inisiatif warga yang membantu pendidikan secara langsung: dari kelas belajar gratis, perpustakaan keliling, hingga guru relawan. Gerakan kecil ini membuktikan bahwa perubahan bisa datang dari bawah.
Pemerintah juga terus mendorong digitalisasi dan bantuan seperti KIP, BOS, dan Merdeka Belajar. Tapi upaya ini harus lebih merata dan menyentuh kebutuhan nyata di lapangan.
Pendidikan tidak boleh jadi hak istimewa. Ia harus menjadi hak dasar yang dapat diakses siapa pun, di mana pun. Indonesia tidak akan benar-benar maju jika masih ada anak-anak yang belajar dalam ketimpangan.
Andre siregar, mahasiswa fakultas ilmu komputer universitas katolik santo thomas medan.
