Konten dari Pengguna

Ketika Orang Tua Menjadi Orang Asing di Rumahnya Sendiri

Babay

Babay

Mahasiswa Unpam Fakultas Sastra

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babay tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi gambar keluarga, foto: pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi gambar keluarga, foto: pexels.com

Suatu hari nanti, kita akan merindukan suara yang hari ini sering kita abaikan. Suara ibu yang bertanya, "Sudah makan?" atau ayah yang menanyakan, "Pulang jam berapa?" Kalimat-kalimat sederhana itu sering kali terasa mengganggu ketika kita sedang sibuk bekerja atau asyik menatap layar telepon genggam. Tanpa disadari, semakin dewasa seseorang, semakin sedikit waktu yang ia berikan kepada orang tua. Ironisnya, pada saat anak-anak sibuk mengejar masa depan, orang tua justru sedang menghitung sisa waktu yang mereka miliki bersama keluarga. Rumah yang dahulu dipenuhi tawa perlahan berubah menjadi tempat yang sunyi, bukan karena tidak ada penghuni, melainkan karena setiap orang sibuk dengan dunianya masing-masing.

Fenomena ini bukan sekadar perasaan, tetapi juga tercermin dalam kondisi demografi Indonesia. Berdasarkan Statistik Penduduk Lanjut Usia 2024 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk lanjut usia terus meningkat seiring naiknya angka harapan hidup masyarakat Indonesia. Kondisi tersebut merupakan keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan, tetapi juga menjadi tantangan baru bagi keluarga Indonesia. Semakin banyak lansia berarti semakin besar pula kebutuhan akan dukungan emosional, perhatian, dan pendampingan dari anggota keluarga. Sayangnya, perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin individualistis membuat banyak orang tua menghabiskan hari-harinya dalam kesunyian, meskipun mereka masih tinggal serumah dengan anak-anaknya.

Kesepian pada lansia bukan hanya persoalan emosional. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa isolasi sosial dan kesepian dapat meningkatkan risiko depresi, penurunan fungsi kognitif, penyakit jantung, bahkan kematian dini. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa hubungan keluarga yang hangat berperan penting dalam menjaga kesehatan fisik maupun mental orang lanjut usia. Artinya, perhatian sederhana seperti mengajak berbicara, mendengarkan cerita mereka, atau meluangkan waktu makan bersama bukan sekadar bentuk kasih sayang, melainkan investasi bagi kualitas hidup orang tua. Kasih sayang yang diberikan keluarga sering kali menjadi "obat" yang tidak dapat digantikan oleh pelayanan kesehatan terbaik sekalipun.

Sayangnya, kehidupan modern telah mengubah cara kita memaknai kehadiran. Banyak anak merasa telah berbakti karena mampu memenuhi kebutuhan materi orang tuanya. Mereka mengirim uang setiap bulan, membelikan telepon pintar baru, atau merenovasi rumah. Semua itu tentu merupakan bentuk tanggung jawab yang patut diapresiasi. Namun, tidak sedikit orang tua yang sebenarnya lebih merindukan waktu dibandingkan uang. Mereka ingin ditemani minum teh di sore hari, mendengar cerita cucunya, atau sekadar berbincang tentang hal-hal sederhana. Bagi orang tua, perhatian yang tulus sering kali jauh lebih berharga daripada hadiah yang mahal.

Di sisi lain, kemajuan teknologi juga menghadirkan ironi. Kita dapat menghabiskan berjam-jam menonton video pendek atau membalas pesan di berbagai grup percakapan, tetapi merasa tidak memiliki waktu lima belas menit untuk menelepon ibu. Kita begitu mudah mengetahui kabar orang yang bahkan belum pernah ditemui, tetapi lupa menanyakan kesehatan ayah yang setiap hari menunggu kepulangan kita. Kesibukan memang tidak dapat dihindari, tetapi kesibukan tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan mereka yang telah mengorbankan hampir seluruh hidupnya demi masa depan kita. Tidak ada pekerjaan yang begitu penting hingga membuat seseorang kehilangan kesempatan menciptakan kenangan bersama orang tuanya.

Pada akhirnya, waktu adalah sesuatu yang tidak pernah bisa dibeli kembali. Kita dapat mengejar jabatan yang lebih tinggi, penghasilan yang lebih besar, atau rumah yang lebih megah, tetapi semua itu tidak akan mampu mengembalikan satu hari yang telah berlalu bersama orang tua. Karena itu, jangan menunggu hari raya untuk pulang atau menunggu penyesalan datang untuk menunjukkan kasih sayang. Selama mereka masih ada, luangkan waktu untuk memeluk, mendengar, dan menemani mereka. Sebab ketika kursi di ruang tamu itu suatu hari kosong untuk selamanya, yang tersisa hanyalah kenangan dan pertanyaan yang tak lagi memiliki kesempatan untuk dijawab: mengapa kita tidak lebih sering pulang?