4 Pemeriksaan Penting Saat Hamil Trimester Akhir

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!
Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
4 Pemeriksaan Penting Saat Hamil Trimester Akhir
Trimester ketiga merupakan tahap kehamilan yang paling ditunggu-tunggu ayah dan ibu. Karena setelah lama menanti, akhirnya waktu bertemu buah hati hanya tinggal menghitung hari.
Namun sudahkah Moms mempersiapkan diri baik dari segi fisik maupun materi. Lantaran kalau usia kehamilan sudah trimester akhir ada beberapa rangkaian pemeriksaan yang harus dilakukan, apa saja itu?
Pemeriksaan yang harus dilakukan memasuki trimester ketiga:
1. USG
Kalau sudah trimester ketiga, biasanya frekuensi kontrol menjadi lebih sering dari yang awalnya sebulan kali sekarang naik jadi dua minggu sekali atau bahkan seminggu sekali (biasanya setelah 36 weeks) karena banyak sekali yang harus dikontrol, apa saja itu?
• Berat badan janin
BB janin ideal untuk melahirkan secara normal ialah 3,5 kg. Lebih dari itu dikhawatirkan Moms akan mengalami kesulitan, apalagi jika ini merupakan kehamilan pertama.
• Posisi janin
Di dalam kandungan bayi tuh suka berpindah-pindah posisi. Biasanya kalau sudah 34 week ke atas janin sudah mulai masuk ke panggul dan 'ngunci' alias sulit untuk muter lagi karena rahim mulai sempit.
• Lingkar kepala
Penting untuk dokter mengukur lingkar kepala janin, apakah bisa melewati panggul ibu, apakah diameter kepalanya sudah mencapai ukuran rata-rata atau tidak.
• Letak plasenta dan air ketuban
Jika ingin melahirkan secara normal, tentu posisi plasenta tidak boleh menutupi jalan lahir. Jumlah air ketuban juga perlu diperhatikan, terkadang menjelang HPL ibu hamil suka tidak sadar jika air ketuban sudah merembes. Nah dulu saya pernah disarankan untuk rutin mengonsumsi enam butir kurma sejak hamil 7 bulan supaya air ketuban tetap cukup hingga persalinan.
• Kesehatan ibu
Beberapa bumil terkadang mengalami peningkatan tekanan darah saat trimester akhir. Contohnya aku, dulu pas 34 weeks pernah tensinya naik jadi 150/90 gara-gara cemas memikirkan persalinan. Hal-hal kaya gini kalau tidak segera ditangani bisa berujung pre eklampsia.
2. Cek VT (Vaginal Touch)
Beberapa dokter terkadang perlu melakukan cek VT kepada pasiennya, biasanya dimulai saat 37 weeks ke atas. Tapi ini tergantung pada kondisi masing-masing pasien, apakah sudah mengalami tanda-tanda kontraksi palsu atau belum.
3. CTG (Cardiotography)
Tes ini biasanya dilakukan untuk mengukur kontraksi palsu dan mengantisipasi kontraksi asli kepada ibu hamil yang usia kehamilannya sudah matang, namun belum ada tanda-tanda akan melahirkan.
4. Suntik TT (Tetanus Toxoid)
Beberapa ibu hamil terkadang melewati suntik TT karena dianggap tidak perlu. Padahal vaksin ini penting untuk mencegah terjadinya infeksi tetanus pada ibu dan bayi baru lahir. Yang namanya melahirkan itu kan tidak bisa diprediksi, kalau bersalin di rumah sakit tentu ruangannya sudah pasti higienis. Tapi kalau ternyata terpaksa melahirkan saat perjalanan menuju rumah sakit? Duh kita kan tidak tahu kebersihan di tempat tersebut, jadi daripada mengabaikan suntik TT mending dilakukan saja untuk jaga-jaga.
