Anak Jatuh Salah Siapa?

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!
Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika memiliki buah hati, saya merasakan bahwa dunia kita seketika hanya terfokus untuknya. Segala yang kita lakukan tercurah padanya. Penjagaan ketat dilakukan sebisa mungkin demi melindungi dirinya.
Namun, apa yang terjadi ketika kita lengah kemudian Si Kecil terjatuh? Beragam perasaan berkecamuk dalam pikiran kita. Belum lagi kekhawatiran mendengar komentar tak bermanfaat dan tak benar dari orang sekitar mengenai pengawasan kita saat menjaga anak.
Saya mengalaminya ketika Zikri berusia 6 bulan, masa di mana ia tengah aktif mengguling-gulingkan badannya namun belum mengerti arti kewaspadaan terhadap tempat tinggi, maka ketika saya tinggal, terjadilah. Ia jatuh pada ketinggian kasur sekitar 70 cm dengan posisi terlentang. Jelas saya tidak melihat apa yang kena lantai terlebih dahulu, seketika saya langsung menggendong Zikri yang menangis histeris.
Pada posisi seperti ini, siapa yang salah?
Mom pasti berkali-kali menyalahkan diri sendiri, lalai karena meninggalkan anak tanpa pengawasan. Namun, tentu tak ada yang menginginkan kejadian seperti ini. Tentu semua hal terjadi karena maksud tertentu.Â
Berhentilah menyalahkan diri sendiri, jadikan pembelajaran seraya terus meningkatkan pengawasan dalam menjaga anak. Jika Si Kecil telah aktif berguling-guling maka tentu kita tidak meninggalkannya di tempat yang tinggi. Lain cerita jika anak kita sudah beranjak balita.
Kekhawatiran kita yang berlebihan hingga ingin menjaganya dengan ketat seringkali membuat kita menjadi ketakutan anak terjatuh dan melarangnya pergi kesana kemari. Namun, hal itu justru akan merampas kesempatan belajar yang berharga bagi Si Kecil. Cukup memberikan kepercayaan, maka ia akan mengeksplorasi sekitar peluang bagi pembelajarannya.
Jika ia terjatuh ketika berlarian padahal kita ada disana, maka ini salah siapa?
Tidak ada yang salah.
Terjatuh karena keseimbangan Si Kecil belum maksimal adalah hal yang wajar. Sampaikanlah bahwa ia harus lebih hati-hati ketika berjalan. Jangan menyelahkan diri sendiri atau orang lain, mari berhenti mencari kambing hitam.Â
Bukankah jatuh dan bangun dalam kehidupan itu hal yang biasa?
Dari terjatuh dia mengetahui arti berhati-hati dan rasa sakit. Jika ia terluka maka diharapkan ada hal yang ia petik agar kelak menjadi anak yang lebih kuat dan penuh perhitungan dalam melangkah. Karena setiap pengalaman di masa kecil merupakan kesempatan berharga untuk proses pembentukan diri anak.
Semoga bermanfaat.
By: Chriesty Anggraeni.
