Konten dari Pengguna

Anak Nakal Haruskah Dihukum?

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anak Nakal Haruskah Dihukum?

Seringkali kita pusing dengan kelakuan anak kita yang masih berusia balita. Anak balita memang sedang aktif-aktifnya mengeksplor apapun yang dia mau, yang dia lihat, dan itu seringkali membuat emosi kita naik karena rumah berantakan, atau bahkan dia mendekati barang-barang yang membahayakan dirinya. Belum lagi jika dia sedang tantrum karena tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Seakan kepala kita bisa pecah ya, Mom, menghadapi itu semua. Tapi sebenarnya bisa kok kita menghadapi anak yang 'nakal' tanpa emosi, tanpa hukuman. Semakin kita keras kepada anak, maka percaya atau tidak anak semakin terasa 'nakal'. 

Apa sih yang bisa kita lakukan untuk menghadapi anak  kita yang 'nakal' ?

1. Jangan Dihukum

Lebih baik cari tahu apa penyebab dia bertingkah laku yang tidak masuk akal. Menurut Bonnie Harris, M.S.ED., seorang konsultan parenting dan direktur Connective Parenting, hukuman itu seperti taktik manipulatif yang membuat anak-anak melakukan apa yang kita inginkan. Hukuman akan mematikan karakter anak. Tidak ada yang bias dipelajari oleh anak ketika dia merasa ketakutan dan mendapatkan kekerasan. Jadi orang tua harus tahu apa sebabnya si anak ini nakal, lalu mencari solusinya.

2. Ajak Anak Bicara

Hentikan pelan-pelan anak yang sedang bertingkah laku luar biasa, atau biarkan anak tenang dahulu ketika dia tantrum. Setelah tenang dan bisa dikendalikan, peluk dia, ajak duduk bersama, tanyakan pelan-pelan apa masalah dan kesulitannya. Pancing dia untuk mengatakan apa yang dia mau. Jika dia sudah luluh dan mau mengatakan apa masalahnya, ajaklah diskusi bagaimana mencari solusinya. Tentu dengan bahasa dan istilah yang bisa dia mengerti ya, Mom, sesuaikan dengan umurnya.

3. Sesekali Biarkan Anak Merasakan Konsekuensi Perbuatannya

Jika anak balita kita masih susah diatur, tidak menunjukkan perubahan yang baik setelah kita ajak bicara. Sekali lagi jangan buru-buru menghukum, Mom. Biarkan saja dia mendapatkan konsekuensi alami, atau merasakan akibat atas apa yang dilakukannya. Misal, ketika dia lari-lari, lalu sudah kita ingatkan untuk tidak berlarian, dan tidak digubrisnya, maka ketika dia jatuh biarkan saja dulu sesaat dia merasakan sakitnya. Atau ketika dia sedang membuat rumah berantakan, biarkan saja mainannya hilang dan merasakan kesedihan atas hilangnya mainan tersebut. Baru, kita masuk untuk memberi tahu itu adalah akibatnya jika dia tidak mendengarkan apa kata kita.

4. Berikan Perhatian Kepada Anak

Tentu sebagai orang tua kita sangat sibuk, apalagi jika kita juga bekerja di kantor. Waktu bermain dengan anak sudah pasti sangat berkurang. Bisa jadi kenakalannya merupakan cara untuk mendapatkan perhatian kita, Mom. Maka cobalah untuk selalu memberi perhatian penuh untuk si kecil sesibuk apapun kita. Temanilah dia bermain, atau bacakan cerita, atau sekedar dengarkan celotehannya, hal itu sudah menentramkan hati si kecil. Cobalah untuk melihat dari sudut pandang si kecil, bahwa dia ingin sekali menghabiskan waktu bersama ibunya.

Perhatian-perhatian yang kita berikan kepada anak akan berdampak sangat positif kepadanya, akan membuat anak menjadi lebih kooperatif karena dia merasa aman dan jauh dari ketakutan. Pernahkah kita berpikir bahwa ketika kita marah, dan anak kita semakin nakal, itu adalah ekspresi dari rasa takutnya? Ketika dia nakal, lalu kita marah, maka dia tidak akan berani mendekat karena takut kita marahi.

Yuk, Mom, kita coba ubah pola pikir kita dengan tidak memaksa anak mengikuti apa yang kita mau, tetapi kita lah yang harus memahami apa maunya si kecil. Anyway, si kecil itu peniru ulung lho, Mom, jika kita mengasuhnya dengan kelembutan maka dia juga akan menjadi anak yang lembut dan penuh kasih sayang, begitupun sebaliknya.