Anakku Berjalan di Usia 15 Bulan

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!
Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Anakku Berjalan di Usia 15 Bulan
Saat menginjak usia 1 tahun adalah saat yang cukup menegangkan bagiku. Mengapa? Karena biasanya jika sudah mulai memasuki 1 tahun kehidupan, lingkungan sekitar mulai memperhatikan apakah si kecil sudah dapat berjalan atau belum.
Setiap berpapasan dengan orang lain (misalnya saat vaksin di rumah sakit), pasti yang ditanyakan apakah si kecil sudah bisa berjalan saat mereka tahu umur OA sudah masuk 12 bulan. Lalu setelah mengetahui bahwa OA belum bisa berjalan sendiri dengan baik, mulailah orang-orang itu bercerita bahwa entah cucunya, anaknya atau bahkan keponakannya sudah berjalan lancar bahkan dari sebelum masuk usia 1 tahun.
Miris memang mendengarnya, sampai membuat hati down. Tapi memang itulah kenyataan kehidupan. Orang tanpa sadar berbicara tentang kelebihan si kecil mereka tanpa sadar bahwa itu menyakiti kita yang mendengarnya. Namun kemudian, aku jadi mencari tahu lebih dalam apakah memang benar OA yang belum bisa berjalan di usia 12 bulan termasuk terlambat berjalan?
Setelah banyak mencari tahu dari berbagai sumber serta pengalaman teman-teman sesama ibu, ternyata tumbuh kembang OA masih on track. Biasanya anak akan mulai belajar berjalan dalam rentang usia 9-18 bulan. Bila hingga akhir usia 18 bulannya si kecil masih belum bisa berjalan tanpa dipegangi, barulah sebaiknya kita konsultasikan kepada ahlinya seperti ke dokter tumbuh kembang untuk ditindaklanjuti. Jadi, red flag (batas akhir) nya si kecil harus sudah bisa berjalan adalah 18 bulan. Sudah bisa berjalan yang dimaksud adalah berjalan mandiri tanpa perlu dipegangi lagi ya moms. Seringkali kita salah kaprah, anak-anak yang bisa berjalan sambil dipegangi misalnya, dikatakan sudah dapat berjalan, bahkan dibangga-banggakan anak/cucunya ke orang-orang kalau si kecil sudah bisa berjalan. Padahal ini merupakan bagian dari tahapan belajar jalan, bukan sudah bisa berjalan.
Aku pun lega mengetahui fakta ini saat OA 12 bulan dan belum bisa berjalan. Kala itu, OA sudah dapat berdiri dan merambat dengan tembok. Satu hal yang aku sadar selama mengamati fase berjalan OA adalah ia sangat tidak suka dititah saat berjalan. Ketika aku atau papanya menopangnya dengan memegang bagian ketiak kedua tangannya untuk membantunya berjalan tanpa ia harus merambat dengan tembok, OA selalu menepisnya. Mungkin ini juga yang menjadi faktor agak lambat perkembangannya. Seriously, OA sama sekali tidak mau dibantu, maunya eksplor sendiri sampai akhirnya bisa berjalan mandiri.
So, moms tidak perlu kuatir apabila si kecil belum dapat berjalan mandiri saat memasuki 12 bulan.
Adapun tips yang bisa kusampaikan berdasarkan pengalaman :
1. Kenali karakter si kecil saat belajar jalan.
Seiring proses si kecil belajar berjalan, perhatikan cara belajarnya, apa yang disukai dan tidak disukai lalu pikirkan metode yang tepat untuk mensupport belajar jalannya. Seperti OA yang aku lihat sangat ingin semua dieksplor sendiri tanpa dibantu, sehingga metode mentitah tidak akan bisa diberikan padanya, jadi aku skip total metode itu.
2. Siapkan alat bantu sesuai dengan metode belajar jalan yang ingin diterapkan.
Nah, aku pribadi sangat tertolong memakai beberapa alat bantu, lalu juga bisa dibuat variasi supaya belajar jalan lebih menyenangkan. Misalnya dengan menggunakan bangku 'baso'. OA mendorong-dorongnya sepanjang ruangan. Yang aku kontrol adalah bangkunya supaya aman karena OA sama sekali gak mau disentuh. Bangku 'baso' sama fungsinya seperti push walker. Lalu fence, baiknya apabila moms memang mau concern banget dari awal stimulasi belajar jalan, investasi fence sangat penting. Bisa dengan membeli atau menyewa. Dulu aku gak pakai fence karena faktor kurang efektif dengan OA yang sudah pintar manjat-manjat. Malahan ngeri jatuh kalau dipakaikan fence saat ia berusaha keluar. OA anak yang sangat pantang menyerah moms, udah jatuh nangis masih gak kapok wkwk..Jadi aku lebih banyak membuat suasana rumah yang ada rak atau box supaya bisa dipegangi OA untuk berdiri dan berjalan. Raknya kebanyakan dikosongkan biar aman. Memang realitanya ini capek banget moms untuk memperhatikan full gerak-geriknya tapi karena anaknya lebih suka seperti itu, aku coba ikuti ritmenya.
3. Perbanyak stimulasi jalan outdoor.
Ini juga membantu aku banget untuk OA lebih semangat belajar jalannya. OA yang sangat suka eksplor sendiri sangat cocok dibawa jalan-jalan keluar menikmati suasana berbeda. Di kota kami terdapat banyak wisata alam. Saat ke pantai mengkondisikan OA menginjak pasir. Saat ke taman, OA menginjak rumput. Semua dengan telanjang kaki ya moms agar si kecil bisa merasakan tekstur berbeda serta dapat menstimulasi perkembangan motorik lainnya.
Oh iya, bila si kecil sudah mulai memperlihatkan fase berdiri dan mau belajar jalan, sebaiknya kurangi penggunaan kaos kaki. Perbanyak waktunya telanjang kaki di rumah agar otot-otot kaki si kecil lebih peka saat menyentuh lantai.
Akhirnya, OA bisa berjalan di saat usianya 15 bulan. Dari kebiasaannya yang kalau berdiri perlu bantuan memegang sesuatu, tiba-tiba suatu hari OA bangun dari duduk tanpa bantuan apapun. OA langsung posisi berdiri, lalu melancarkan langkah pertama hingga beberapa langkah kakinya tanpa memegang apapun. Yeay!
Honestly, aku thanks to diriku sendiri yang tidak lantas down terus-terusan saat melihat anak-anak seumur OA yang sudah lancar berjalan. Aku mencoba menstimulasi sesuai kenyamanan OA dan tetap sabar. Lagipula masih ada waktu sampai red flag di 18 bulan untuk bisa berjalan. Aku terus mengingatkan diriku bahwa menstimulasi bukan memaksa. Jadi, jangan sampai kelewat batas dalam menstimulasi karena bisa jadi itu akan berubah menjadi memaksa namanya apabila dilakukan secara berlebihan. Aku juga terus remind diriku kalau setiap anak berbeda dan punya keistimewaannya masing-masing. Jadi, aku tidak stress lagi membandingkan dalam pikiranku mengapa OA belum bisa berjalan padahal anak lain yang seumuran sudah bisa. Ya itu karena timing setiap anak-anak memang berbeda.
