Konten dari Pengguna

Anakku Trauma Sendok

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Halo Moms, di sini saya mau sharing tentang pengalaman saya memberikan MPASI pada anak pertama saya. Baby C, merupakan bayi dengan riwayat dermatitis atopic yang cukup parah, sehingga waktu MPASI, pilihan menunya pun sangat sangat terbatas. Apalagi sebagai ibu baru, pengetahuan saya tentang MPASI dan menu-menu anak alergi juga masih sangat minim. Alhasil, Baby C pun tak terhindarkan dari yang namanya GTM (Gerakan Tutup Mulut).

Awal-awalnya saya masih menghadapinya dengan santai, tapi lama kelamaan saya kebingungan dibuatnya. Untuk menghabiskan bubur 3 sdm saja anak saya bisa memerlukan waktu 1 jam. Mulutnya seringkali terkunci rapat dan menolak makanan yang saya sajikan. Tak kurang akal, saat itu saya dan pengasuhnya berusaha membuat baby C tertawa dengan bermain cilukba atau mengayun-ngayunkannya. Saat ia tertawa terbahak-bahak, maka kami akan memasukkan makanan ke dalam mulutnya, HAPP!! Beberapa kali cara ini berhasil. Tetapi besok-besoknya Baby C sudah mengerti cara ini dan menutup mulutnya rapat-rapat. Saya pun akhirnya frustasi, dan memarahinya.

Hasilnya, bukannya mengerti dan mau makan, GTM anak saya semakin menjadi. Setiap melihat sendok, ia langsung memalingkan wajah, dan menangis meraung-raung. Saya semakin stres dan bingung. Apalagi yang harus saya lakukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya? Sudah makanannya terbatas, sekarang malah menolak untuk makan.

Saya pun hampir menyerah saat itu tidak mengerti apa lagi yang harus dilakukan untuk membuat baby C mau makan. Akhirnya, saat membaca-baca artikel tentang pemberian MPASI, saya akhirnya menemukan sebabnya: anak saya trauma sendok! Ternyata tanpa saya tahu, mengajak anak bermain cilukba, membuatnya tertawa-tawa atau memasukkan makanan ke mulutnya dengan cara "tipu-tipu" sedikit itu sudah  termasuk pemaksaan dan berakibat menimbulkan trauma pada anak. Anak seharusnya makan dan membuka mulutnya dengan suka rela, tanpa adanya paksaan, atau tipuan apapun.

Sungguh, saya sangat sedih saat mengetahui hal ini. Karena tanpa sadar dan meskipun untuk tujuan yang baik,  saya membuat anak saya sendiri mengalami trauma. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak lagi memaksanya dan fokus untuk memperbaiki psikologisnya.

Berikut beberapa hal yang saya lakukan untuk mengatasi trauma sendok pada baby C:

  1. Setiap malam, saya berkali-kali meminta maaf setulus hati kepada baby C. Saya percaya, sekalipun ia masih bayi, tapi ia bisa mengerti ucapan kita. Dan itu juga membantu mengurangi perasaan bersalah dalam diri saya.
  2. Tidak lagi memaksanya untuk makan. Jika ia tidak mau makan ya sudah, tidak dipaksa. Nanti tunggu 30 menit-1 jam untuk menawarkan kembali makanan kepada anak. Buang jauh-jauh kekhawatiran anak tidak makan, tidak ada asupan nutrisi. Toh, anak di bawah 1 tahun, nutrisinya mostly dapat dipenuhi dari ASI. Namanya saja MPASI: Makanan Pendamping ASI. Jadi ASI masih merupakan sumber nutrisi utama untuk anak di bawah 1 tahun. Lagipula, saya meyakinkan diri saya, bahwa ini tidak akan berlangsung selamanya. Yang penting fokus untuk sembuhkan traumanya terlebih dahulu.
  3. Ciptakan suasana makan yang menyenangkan dengan mengajak anak bermain, bernyanyi-nyanyi atau membaca.
  4. Mengganti suasana makan anak. Karena baby C tidak mau makan dengan sendok, saya coba suapi dengan tangan, berhasil! Saat itu saya juga membelikannya peralatan makan baru yang lucu-lucu dengan gambar-gambar kesukaannya. Terkadang saya juga mencoba menerapkan sistem BLW dan membebaskan baby C untuk bereksplorasi dengan makanannya sendiri. Meskipun harus benar-benar sabar ya Moms, karena awalnya pasti lebih banyak makanan yang berceceran daripada yang dimakan.
  5. Berusaha membuat menu makanan yang enak, dan bervariasi. Bayi juga sama seperti kita Moms, mungkin ada kalanya ia tidak suka pada menu makanannya, atau bosan bila makanannya itu-itu saja. Jadi saya berusaha untuk lebih variatif dan berani mencoba menu-menu makanan lainnya. Saya juga banyak membaca tentang makanan dan gizi untuk anak. Katakanlah anak cuma makan sedikit, tapi makanannya at least harus benar-benar kaya akan nutrisi.
  6. Batasi jam makan anak. 30 menit tidak habis, ya sudah. Saya harus tega membuang makanan itu dan mengakhiri sesi makan. Karena bila anak makan berjam-jam, apakah Moms pernah berpikir betapa kasihannya mereka? Hampir semua waktunya bisa dihabiskan hanya untuk makan makan dan makan? Bukankah ia juga butuh waktu untuk bermain, tidur, bereksplorasi dan hal-hal lainnya?

Setelah saya terapkan ini, puji Tuhan, tidak sampai 1 bulan, trauma Baby C mulai teratasi. Ia mulai mau makan lagi, bahkan nafsu makannya bisa dibilang sangat baik. Dan yang terpenting, ia makan dengan gembira. Sesi makan kini tidak lagi menjadi momok menakutkan baginya.

Pesan saya, bagi para Mommy, jangan pernah memaksakan anak untuk makan apalagi memarahinya. Karena akan memiliki dampak yang panjang di kemudian hari. Bersabarlah menghadapi masa-masa MPASI dan GTM yang memang penuh tantangan, karena hampir semua Ibu mengalaminya. Kuncinya cuma 1: sabar dan tetap yakin bahwa badai GTM pasti akan berlalu.

Semoga bermanfaat.

By: Feny Yuvita

Copyright by Babyologist