Konten dari Pengguna

Apa yang Harus Dilakukan Saat Anak Berbuat Salah?

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apa yang Harus Dilakukan Saat Anak Berbuat Salah?
zoom-in-whitePerbesar

Berbuat salah adalah hal yang wajar. Kesalahan adalah pengalaman dan guru dalam kehidupan kita, baik bagi orang dewasa maupun bagi anak-anak.

Kemampuan untuk mengatasi kesalahan dan perasaan negatif lainnya seperti rasa malu dan merasa kalah bersaing perlu melalui proses belajar. Kemampuan ini tidak datang sendiri tapi perlu dilatih. Tentunya kita semua berharap agar anak-anak kita memiliki kemampuan ini agar mereka kelak menjadi individu yang tangguh dan tidak mudah menyerah.

Apa Saja yang Dapat Dilakukan Orangtua Saat Anak Berbuat Salah?

Tidak Bereaksi BerlebihanTerkadang orangtua kerap bereaksi berlebihan saat anak berbuat salah. Misalnya saat anak memecahkan gelas. Coba cek dulu apa kita sudah pernah membahas soal peralatan makan yang boleh digunakan oleh anak? Setelah saya mengalami peristiwa ini, saya baru membahas mengenai peralatan makan yang boleh digunakan oleh anak saya. Saya hanya memperbolehkannya menggunakan piring dan gelas plastik kepunyaannya.

Kenali Penyebab KesalahanPenyebab kesalahan yang berbeda akan membutuhkan respon yang berbeda. Mungkin anak memang belum tahu bahwa apa yang ia lakukan itu salah, karena pengalaman dan kemampuan berpikirnya masih terbatas. Saya masih ingat saat anak saya mau memasukkan ikan peliharaannya ke dalam air sabun, menurutnya ikan tersebut mau dimandikan. Kalau mandi ya pakai sabun katanya. Untuk hal-hal seperti ini, kita perlu memberikan penjelasan pada mereka mengapa hal tersebut salah.

Biarkan Anak Menerima KonsekuensiJika kesalahan yang dilakukannya secara sengaja maka anak perlu diberi konsekuensi, tidak perlu merasa kasihan atau tidak tega Moms, karena konsekuensi yang kita berikan bertujuan untuk melatihnya menjadi pribadi yang lebih baik. Misalnya saat anak saya bermain sepeda, terkadang dengan sengaja ia menabrak seseorang atau benda di sekitarnya. Konsekuensi yang saya berikan menghentikannya bermain sepeda, sepedanya disita sampai esok hari. Konsekuensi yang diberikan berfokus pada tindakannya, bukan pribadinya. Karena itu saya tidak memberikan konsekuensi berupa pukulan, hukuman fisik atau makian. Karena hukuman seperti itu tidak akan membuat anak belajar dari kesalahannya.

Bantu Anak Memperbaiki KesalahannyaSetelah kita mengetahui penyebab kesalahan dan memberikan konsekuensi jika diperlukan, berikutnya adalah membantu anak memperbaiki kesalahannya. Pada tahap ini diperlukan komunikasi dua arah antara orangtua dan anak.

ReminderTerakhir yang perlu kita lakukan adalah, mengingatkannya. Mungkin anak sudah diajarkan, tetapi lupa karena belum jadi bagian dari kebiasaan sehari-hari. Wajar ya, kita pun sebagai orang dewasa masih ada kesalahan berulang yang dilakukan, betul tidak? Jadi yang diperlukan apa? Reminder!

Moms, salah itu biasa. Selalu ada hal yang dapat kita pelajari dari sebuah kesalahan.

Semoga bermanfaat.

By: Nike Iswandi