Konten dari Pengguna

Baby Blues atau Depresi Pasca Melahirkan yang Aku Alami

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Baby Blues atau Depresi Pasca Melahirkan yang Aku Alami

Pada awal kelahiran anakku tepatnya 3 bulan yang lalu, aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa waktu melihat bayiku untuk pertama kalinya. Sampai akhirnya aku bisa membawa anakku pulang ke rumah untuk pertama kalinya, ternyata anakku memiliki bilirubin yang tinggi sehingga aku harus membawa anakku kembali ke rumah sakit untuk disinar. Dokter bilang kalau bayi yang memiliki bilirubin tinggi harus diberi susu yang banyak, di situ aku mulai stres karena ASIku bisa dibilang seret dan belum banyak, alhasil aku hanya berhasil membawakan 20 ml x 4 kantong untuk 1 hari.

Bayiku selesai disinar dan akhirnya bisa pulang, yay! Aku dan suami sangat senang, tapi ternyata perjuangan baru dimulai. Bayiku menyusu tiap jam, menangis setiap saat, aku mulai tertekan. Setiap bayiku menangis, aku ikut menangis. Setiap malam aku sering dihantui rasa takut, apa anakku akan tidur cukup? Apa anakku menyusu dengan cukup? Kenapa anakku selalu minta menyusu, apa ASIku cukup? Selalu muncul pertanyaan dan menambah rasa stres karena merasa tidak pernah cukup.

Tiga minggu berlalu, aku pikir semua membaik, ternyata bayiku mengalami growth spurt membuat aku semakin stres. Setiap hari aku menangis, ketakutan, dan selalu mengganggu suamiku bekerja dengan minta dia pulang karena aku takut berduaan dengan bayiku saja.

Dari situ aku sharing dengan teman-temanku yang baru punya baby juga, dan mereka bilang mereka merasakan pengalaman yang sama. Jujur, sharing dengan teman-teman membuatku lebih lega dan lebih tenang. Menangis jadi lebih berkurang (walaupun pasti ada adegan menangis).

Seiring berjalannya waktu sekarang aku sudah mulai terbiasa dengan rutinitas, dan kegiatan aku yang berubah 360 derajat setelah memiliki anak. Pentingnya dukungan suami, keluarga dan teman di sekitar membuat kita para new Mom jadi merasa lebih baik. Percayalah badai pasti berlalu, tapi tugas menjadi seorang ibu itu selamanya. Tidak ada istirahat, melepaskan masa-masa single sangat berat. Kehilangan teman-teman untuk bersenang senang adalah hal yang wajar, semua itu akan terbayar begitu melihat bayi kita tumbuh bahagia dan tersenyum kepada kita seolah mengerti cara berterima kasih kepada kita karena menyayangi mereka.

Masa-masa yang luar biasa menjadi seorang ibu dan memiliki bayi adalah pengalaman yang luar biasa. Jadi para new Mom jika mengalami baby blues atau depresi pasca melahirkan, cari dukungan orang sekitar kalian. Sharing ke teman-teman, jika itu tidak membantu please cari bantuan ke dokter.