Konten dari Pengguna

Baby Blues Berulang yang Aku Alami di Kelahiran Anak Keduaku

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Baby Blues Berulang yang Aku Alami di Kelahiran Anak Keduaku

Kelahiran seorang anak adalah momen yang paling aku tunggu tunggu, setelah merasakan sakit luar biasa dan dengan proses yang tidak mudah, lahirlah putri kedua kami. 

Lega telah melahirkan dengan selamat, dan tidak ada gejala kelainan pada bayiku, tentu saja membuat perasaan bahagia. Tapi perasaan lega dan bahagia ini kemudian menjadi berubah setelah sehari kelahiran putri kedua kami. Tiap sedang menyendiri atau hanya bersama si kecil saya merasa sedih bahkan hingga nangis sesenggukan. Padahal saya melahirkan didampingi dengan suami tercinta dan ada mertua yang menginap di rumah kami untuk mengurus putri sulung saya. Tapi saat itu, saya merasakan hati ini hampa, sepi, dan perasaan yang berubah ubah.

Ditambah dengan luka jahitan pasca melahirkan normal yang cukup banyak karena bayi saya cukup besar. Yang membuat saya semakin tertekan adalah ASI saya yang belum keluar pasca sehari melahirkan, anak kedua saya menangis terus dan ditambah sang suami yang tidak full menemani karena mesti pulang untuk menengok si sulung saya.

Baby blues? Yap ternyata itulah yang saya alami selama ini, sebelum melahirkan bahkan saat sambil merawat anak pertama saya, saya sudah cukup lumayan memahami serta mengerti tentang sindrom ini. Tetapi ternyata lagi lagi saya terlalu Pede, dan sekali lagi saya terkena baby blues ini. Tidak cukup hanya pengalaman pertama baby blues, ternyata saya mengalami baby blues berulang. Dan sindrom yang saya alami ini cukup parah. 

Pada saat ASI saya tidak keluar, saya enggan menyusui si kecil, bahkan tidak bersemangat untuk mengurusnya. Hari berganti hari pun ternyata perasaan inipun tidak membaik. Mertua dan suami saya sibuk dengan kedua anak saya hingga saya merasa dicampakkan. Ketika saya emosi dan menangis, justru suami saya mendikte saya, bahwa itu hal wajar, seperti menganggap sepele atau saya di anggap mendramatisir keadaan. 

Perasaan saya semakin parah dan memuncak justru setelah ASI saya keluar. Perasaan ingin mengakhiri hidup pun pernah saya alami. Dituntut menjadi ibu sempurna dengan 2 orang anak, menambah tekanan dalam batin saya, terlebih para tetangga yang mencibir bahkan mendikte hingga mom shaming selalu menjadi makanan sehari hari saya. Hal ini terjadi sampai usia anak kedua kami memasuki usia 1 bulan, keadaan saya mulai membaik dan mulai bisa berpikir jernih. 

Nah moms, berikut gejala baby blues berulang yang saya alami:

1. Merasa sedih, menangis tanpa sebab yang jelas. 2. Merasa jengkel, kesal, dan merasakan luapan amarah. 3. Merasa lelah yang luar biasa4. Tidak percaya diri5. Mudah tersinggung dan menjadi lebih emosional dari biasanya. 6. Sulit tidur bahkan tidak bisa tidur sama sekali 7. Kehilangan nafsu makan 8. Enggan memperhatikan, mengurus bayi

Gejala ini mulai membuat suami saya berpikir dan mencari segala sumber, hingga Internet, kolega, dan juga berkonsultasi dengan dokter. Dan beliau menginformasikan suami saya bahwa saya terkena baby blues. Dan lagi baby blues berulang di anak kedua.

Faktor kelelahan 

Ya benar saja, dan lagi saya mengalami kelelahan yang bertumpuk dikarenakan mengurus anak pertama tanpa bantuan orang lain, karena mertua saya datang pada saat saya melahirkan saja, karena selebihnya saya dan suami yang mengurus si sulung, kemudian ditambah dengan pasca melahirkan yang prosesnya cukup panjang membuat saya sangat kelelahan. Inilah yang memicu saya terkena baby blues berulang. 

Pembengkakan payudara 

Saat ASI mulai di produksi inilah saat payudara saya sedang masa sakit sakitnya. Terlebih saat itu ASI belum keluar optimal dan juga si bayi yang agak sulit menyusu. Perasaan saya mulai tidak nyaman bahkan sulit terkontrol. 

Kesulitan beradaptasi 

Dikarenakan mengalami kondisi baru, yaitu bertambahnya tanggung jawab yang sekarang menjadi 2 orang, saya mengalami kebingungan hingga stres. Yang tadinya hanya mengurus si sulung saja, yang masih balita. Sekarang mengurus dan mengulang proses merawat bayi lagi. 

Hormon yang menurun

Pada saat hamil, lonjakan hormon begitu meningkat, namun pada saat melahirkan kita akan mengalami penurunan hormon secara drastis. Nah hal ini pula yang membuat mood seorang ibu pasca melahirkan menjadi naik turun. Begitu penuturan dokter kami. 

Perubahan fisik

Ada beberapa orang yang yang mengalami kenaikan berat badan drastis ada pula yang mengalami penurunan berat badan, seperti yang saya alami. Berat badan saya yang turun hingga 5 kg, hal ini membuat orang bergumam dan saya mengalami body shaming, beberapa menuturkan jikalau saya ASI nya kurang karena bertubuh kurus. Hal ini pula menyebabkan saya menjadi tersinggung dan tertekan, berpikir apakah ASI saya cukup untuk si kecil. 

Kemudian, berapa lamakah sindrom ini terjadi? 

Sindrom baby blues berulang yang saya alami ini terjadi pada minggu minggu kelahiran anak kedua saya. Dan memuncak antara 3-5 hari setelah kelahiran. Saya mengalaminya hingga si kecil berusia 1 bulan dan hingga berkonsultasi ke dokter. Nah moms,seperti pengalaman saya jika sindrom ini terjadi lebih dari 2 minggu. Moms harus benar2 berkonsultasi dengan dokter kepercayaan moms ya. Jika tidak akan sangat berdampak parah buat anak bahkan keluarga. 

Dan setelah berkonsultasi dengan dokter, saya berusaha mengatasinya dengan mencoba dan menenangkan diri sendiri, setiap hari saya berusaha untuk mencari cara cara mengatasi sindrom ini dari beberapa literatur, curhat dengan suami, orangtua bahkan sahabat saya. Dan ternyata setelah saya membaca dan berbagi ini tidak sedikit pula yang mengalaminya. Dan saya sadar saya tidak sendiri! Banyak support dari suami saya yang utama, kemudian mertua, orangtua saya, bahkan sahabat yang berkunjung ke rumah untuk menengok si kecil membuat perasaan saya semakin membaik. Dan moms, sangat amat penting bahwa saat moms mengalami sindrom baby blues, jangan merasa sendirian. Kepedulian suami untuk mendampingi tidak hanya membantu meringankan, hal ini penting dalam penyembuhan sindrom baby blues. Suami sayalah yang membuat saya mampu menghadapinya, dengan perhatiannya, itu membawa pengaruh yang sangat besar buat saya. 

Saran saya, kepada moms yang sedang hamil anak pertama maupun kedua agar tidak mengalami baby blues yang parah seperti saya, mulai sejak dini edukasi sangat penting terutama untuk para suami juga. Bahkan orang orang terdekat kita agar cepat dan tanggap apabila moms sudah menunjukkan gejala baby blues. Baby blues tidak hanya berdampak buruk kepada si ibu saja, bahkan bisa membahayakan nyawa moms, dan saya mengalaminya! 

Maka dari itu, walau kita masih dalam keadaan nifas, tetap dekatkan diri kepada  Tuhan, berdoalah agar kita senantiasa diberikan kesabaran dan mempercepat pemulihan. Jaga stamina anda dan cukup tidur, saat mengurus anak, jangan sungkan meminta bantuan kepada sanak saudara, dan tidak memaksakan diri sendiri ya moms. Untuk para suami tetap berikan perhatian lebih, bantulah ia saat mengurus si kecil, meringankan beban mengurus anak, akan mempercepat pemulihan baik batin maupun fisik si ibu. 

Saat ini saya sudah pulih sempurna dan siap merawat kedua anak saya berkat dukungan dari orang terdekat.