Konten dari Pengguna

Baby Blues Setelah Melahirkan Anak Kedua

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

To be truth, I know nothing about baby blues or postpartum syndrome. Nah, pertama sekali aku denger tentang baby blues ketika pertemuan keduaku dengan midwife (waktu itu hamil anak pertama si Brisbane). Midwife (bahasa kerennya BIDAN) memberi aku beberapa brosur dan booklet untuk dibaca di rumah. Setelah itu Midwife ajak aku ngobrol. Dia tanya-tanya seputar daily routine, apakah ada bantuan setelah baby lahir, apakah ada kecemasan dalam diriku, yahh basically dia mau tau apakah aku siap. Setelah sesi sharing selesai, dia menjelaskan sedikit tentang baby blues dan juga mengingatkanku untuk membaca brosur dan bookletnya di rumah. Aku baca-baca deh tuh brosur dan booklet. Di situ tertulis juga hotline dan lokasi terdekat jika aku mau berkunjung untuk mengatasi baby blues. Dalam hati aku berpikir, "emang ada ya orang yang depresi abis melahirkan? bukannya harusnya terharu dan bahagia?"

Ya memang setelah melahirkan anak yang pertama, aku merasa capek banget tetapi bahagia. Terus aku juga lihat orang-orang di sekeliling aku yang habis melahirkan juga 'fine fine aja tuh'.

Tiga tahun kemudian, July 2018, tiga atau empat hari setelah lahiran anak kedua, BAM!! IT APPEARS. THAT BABY BLUES COMES TO MY LIFE.

Tanda tandanya gimana? Ini yang terjadi padaku:

  • Aku takut jika malam tiba. Takut berduaan dengan baby aja.
  • Aku ada pikiran menyesal dan merasa belum siap punya anak kedua. Aku ngomong ke suami bahwa aku masih mau menjaga anak pertamaku. Masih ingin mencurahkan kasih sayang dan perhatian ke anak pertama.
  • Tidak ada rasa pengen meluk atau cium baby. Rasanya cuma yaaa gitu aja, datar.
  • Kangen sama si sulung pas dia nggak ada (karena ketika sore dia udah dijemput neneknya untuk tidur di rumah neneknya), nah pas si sulung di rumah dan mau disayang-sayang sama aku malah aku marah-marah ke dia. Marahnya itu berbeda, marah yang sampai aku tuh nggak pengen lihat mukanya lagi tapi kalau dia nggak di rumah, kangen. Aneh.
  • Otakku seperti nggak bekerja, aku nggak bisa berpikir rasional. Yang bekerja itu selalu hati. Selalu baper (bawa perasaan).
  • Nangis, nangis, nangis.

Wah, pahit dan berat sekali menjalani hari demi hari rasanya. Lucunya, ketika si bungsu berumur sebulan, baby blues itu seakan-akan hilang. Beneran deh. Otakku sepertinya sudah mulai bekerja lagi dan berpikir kok aku bisa gitu ya? Kok nangis-nangis sih, apa yang salah? Intinya aku udah mulai bisa merasa sedikit bahagia dan tidak terlalu sensitif lagi.

Nah, ini tips dari aku buat menghadapi baby blues:

  1. Jangan mengelak. Jujur saja dan MINTA PERTOLONGAN, baik itu dari suami, keluarga terdekat atau sahabat. 
  2. Jalani saja. Badai pasti berlalu. Kalau lagi sendirian dan bawaannya sudah baper, cepat-cepat ajak suami atau siapa pun untuk menemani. Nggak harus ngobrol kok, dengan ditemani kita merasa lebih secure.

TIPS UTAMA buat kamu yang menemani si ibu yang lagi baby blues:

  • Tawarkan bantuan. Contoh: lihat si ibu capek gendong baby, tawarkan kamu yang gendong. 
  • JANGAN CERAMAH. Serius deh, bukan saatnya ngomong, "kamu seharusnya bersyukur anak kamu lahirnya sehat," "apa sih yang disedihkan, bla bla bla." Nggak bakal didenger karena seperti yang saya alami, ketika lagi baby blues, perasaan lagi sangat sensitif. Jadi, jaga perasaan si ibu. Kalau tidak bisa menyemangati, setidaknya diam.

Ternyata cukup banyak loh ibu-ibu yang terkena baby blues dan jika tidak ditangani dengan baik malah jadi terpendam terus dan bisa makin depresi. Maka dari itu, ayo sama-sama semangat dan menyemangati karena mengurus bayi baru lahir itu setelah sakitnya habis melahirkan (baik normal ataupun caesar) sangatlah berat.

 

Semoga bermanfaat.

By: Livinia Alawiyin via Babyologist