Konten dari Pengguna

Bahaya Konsumsi Jamu Saat Hamil

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bahaya Konsumsi Jamu Saat Hamil
zoom-in-whitePerbesar

Jamu atau ramuan herbal adalah kumpulan dari berbagai ramuan yang komposisinya diracik oleh ahli dengan takaran yang sesuai dan aman dikonsumsi oleh tubuh untuk membantu menjaga dan mengobati stamina badan kita. Beberapa orang terutama di negara Indonesia, pasti punya kepercayaan pada beberapa ramuan jamu yang dirasa berkhasiat mengobati keluhan di tubuhnya. Begitu pula saya.

Hampir setiap minggu saya konsumsi jamu untuk menjaga stamina saya tetap fit. Saya mengonsumsi jamu tradisional dari sejak gadis. Saya pun punya merek jamu andalan dalam bentuk ekstrak yang sudah sangat terkenal di Indonesia, yang saya rasa manjur khasiatnya di badan saya. Namun beda cerita kalau jamu tersebut dikonsumsi pada saat kondisi hamil. Di sini saya ingin berbagi pengalaman buat para ibu muda yang masih galau atau ragu-ragu apakah benar jamu berkhasiat dikonsumsi saat kehamilan.

Di awal usia pernikahan, saya sangat bersyukur karena langsung dikaruniai keturunan, saya hamil anak pertama saya, waktu itu usia saya 25 tahun. Saya masih sangat awam masalah kehamilan meskipun telah berusaha banyak membaca mengenai hal ini dari berbagai sumber. Saya juga sering melihat anjuran untuk tidak mengonsumsi jamu pada saat kehamilan.

Namun, entah saya lupa atau saking begitu meriangnya pada saat itu, di usia 8-9 bulan kehamilan saya sering masuk angin. Karena tidak ingin makan obat warung tablet terlalu banyak, akhirnya saya memilih mengonsumsi jamu ekstrak herbal langganan saya sewaktu belum menikah, tanpa membaca 'warning' di bungkus bagian belakangnya  bahwa "dilarang dikonsumsi ibu hamil".

Saya terus meminumnya tiap merasa sakit badan, sampai saat itu saya tersadar saat hendak membuang bungkusnya. Saya sempat punya perasaan kuat untuk membaca tulisan komposisi bahan herbal produk tersebut dan menemukan tulisan 'warning' itu. Saya langsung kaget dan panik, karena saya telah meminum beberapa bungkus di usia trimester ketiga kehamilan saya.

Saya memang tidak merasa ada yang janggal dari kondisi detak jantung janin bayi di perut saya waktu itu karena setiap cek ke bidan semua aman. Saat USG terakhir di usia 7 bulan kehamilan pun hasilnya aman. Saya terus berdoa semoga ketidaktahuan saya, kekhilafan saya mengonsumsi jamu herbal ekstrak itu tidak menyebabkan hal serius yang mengganggu janin.

Namun sayangnya, saya sadar efek samping mengonsumsi jamu herbal ekstrak tersebut pada saat proses melahirkan kontraksinya sangat lambat. Saya merasa kontraksi di usia 9 bulan lewat 2 Minggu. Di hari Sabtu sore mulai mulas namun di cek bidan belum ada pembukaan 1, sampai Minggu pagi baru bukaan 1. Minggu malam baru bukaan 3 sampai Senin dini hari bukaan 7.

Saya sudah hampir habis tenaga, saya dibantu selang oksigen dan infus, sampai Senin jam 6 pagi akhirnya saya dirujuk ke RS karena bidan memeriksa denyut jantung janin mulai melemah susah di deteksi. Perjalanan dari bidan ke RS kurang lebih 45 menit, di dalam mobilpun saya masih dengan selang oksigen dan infus. Juga masih dengan sekuat tenaga merasakan mules yang sangat melelahkan, ternyata saat di cek di RS, saya kehabisan tenaga.

Saya dalam kondisi lemas karena proses yang cukup lama dari kontraksi Sabtu sore sampai hari Senin pagi. Awalnya pihak RS menganjurkan vakum kepala bayi karena sudah bukaan 10 kepala bayi sudah terlihat rambutnya, tapi bayi lama keluar. Saat dicek lebih lanjut, ketuban saya ternyata keruh dan berwarna hijau tua sekali.

Dokter spesialis kandungan tidak berani ambil risiko karena ditakutkan penyebab bayi kontraksi lama karena kadar oksigen dalam ketuban keruh tersebut yang membuat dia susah bernapas, bayi kehabisan tenaga dan meminum banyak ketuban keruh yang akan membahayakan nyawa bayi.

Maka, pihak RS meminta persetujuan suami saya yang langsung ditanda tangani berkas-berkas keperluan operasi SC pada proses kelahiran anak saya. Saya masih bersyukur anak saya lahir selamat dan lengkap jasmaninya. Saya melihat masih ada bekas warna hijau tua di bagian sela-sela jari kaki, dan bagian rambutnya tanda ketuban hijau keruh tadi. Saya pun mendapat teguran dari pihak RS untuk tidak mengonsumsi jamu tanpa anjuran dokter di masa kehamilan.

Dari kejadian ini, saya banyak belajar dari ketidak hati-hatian saya, kecerobohan saya pada saat kehamilan. Saya berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan lagi, dan berbagi cerita ini agar tidak ada yang mengalami hal yang sama. Sebaiknya, hindari jamu-jamuan herbal tradisional maupun yang bentuk ekstrak pada saat kehamilan demi keselamatan ibu dan bayi. Selamat merawat dan menjaga anak kita. Setiap ibu adalah super Mom buat anak-anaknya.

Semoga bermanfaat.

By: Iput Pujianti

Copyright by Babyologist