Konten dari Pengguna

Bahayakah Jika Muncul Tahi Lalat pada Bayi?

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bahayakah Jika Muncul Tahi Lalat pada Bayi?
zoom-in-whitePerbesar

Beberapa hari yang lalu saya melihat ada yang aneh di betis anak saya. Tiba-tiba ada tahi lalat yang sebelumnya belum pernah ada sama sekali, jujur sebenarnya saya sendiri juga tidak yakin pasti kapan munculnya, yang jelas saat baru lahir itu tidak ada. Bentuknya sih biasa saja, bulat, rata, tidak menonjol dan warnanya hitam.

Biasanya memang tahi lalat tumbuh semasa anak berusia 6-12 bulan, karena dulu ponakan saya juga di usia sekitar 9 bulan dan menjadi lebih jelas lagi saat dia bertumbuh besar. Di masa tua, biasanya tahi lalat memudar. Hanya sekitar 1 persen bayi yang dilahirkan sudah mempunyai tahi lalat (jadi tidak semua bayi harus sudah bertahi lalat ya Moms).

Tahi lalat biasanya juga dikenal dengan nama nevus atau moles, umumnya tidak berbahaya. Bentuknya bisa datar atau timbul, besar atau kecil, oval atau bundar, belang atau berwarna yang disebabkan oleh timbunan pigmen yang dilakukan oleh sel melanosit. Tahi lalat bisa muncul di mana saja pada kulit dengan warna dari coklat hingga merah muda, sawo matang, atau hitam. Tidak semua tahi lalat harus ada sejak lahir, bisa saja timbul di kemudian hari. Sekitar 1 dari 100 bayi lahir dengan tahi lalat.

Tahi lalat bisa berubah seiring berjalannya waktu. Tahi lalat umumnya melewati siklus perubahan bertahap sekitar 50 tahun. Biasanya berawal dari bentuk datar dan seperti bintik, lalu lama-lama melebar. Umumnya tahi lalat menjadi lebih gelap selama 10 tahun, selama hamil dan pada paparan cahaya. Beberapa ada yang berambut dan lebih timbul atau lebih terang warnanya. Tahi lalat paling mungkin berkembang pada 20 tahun pertama kehidupan.

Sebenarnya wajar saja tahi lalat itu muncul, tetapi saya bertanya-tanya, apakah mungkin di kemudian hari akan muncul tahi lalat baru lagi? Apakah tahi lalat itu berbahaya? Haruskah segera dihilangkan?

Pada umumnya tahi lalat memang tidak berbahaya, lalu bagaimana ciri-ciri khusus tahi lalat yang berbahaya dan yang tidak?

Saya sendiri punya lumayan banyak tahi lalat di sekujur tubuh, kadang kasihan kalau bisa menurun ke anak, tetapi ternyata tidak bisa menurun. Muncul atau tidaknya tahi lalat ini tidak ditentukan dari faktor keturunan. Tidak ada batasan maksimal berapa tahi lalat yang akan muncul di tubuh dan juga bisa muncul di usia berapa pun. Serta tahi lalat bisa berkembang seiring waktu atau muncul tiba-tiba. Yang perlu diperhatikan, apakah tahi lalat yang muncul tersebut berbahaya atau tidak. Karena ada beberapa tahi lalat yang dapat menyebabkan kanker kulit.

Membedakan tahi lalat yang berbahaya atau tidak, bisa dilihat dari bentuk tahi lalat tersebut dan apakah ada efek setelah tahi lalat itu muncul. Sebelum ke dokter mungkin Moms bisa memperhatikan ciri-ciri tahi lalat yang berbahaya yang akan saya bahas di sini.

Ciri-ciri Tahi Lalat yang Berbahaya

Untuk memudahkan, saya akan memberi istilah ABCDE pada ciri-ciri tahi lalat yang berbahaya.

<ul>

  • A untuk Asymmetry (Asimetri)Perhatikan bentuknya, apakah setengah bagian dari tahi lalat tidak sama dengan bagian setengah lainnya.

<ul>

  • B untuk Border (Pinggiran)Jika pinggir tahi lalat bergerigi, atau tidak jelas. Tepian tahi lalat normal akan memiliki batasan yang terdefinisi, terpisah jelas mana warna kulit berakhir dan di mana pigmentasi warna akibat tahi lalat dimulai.

<ul>

  • C untuk Color (Warna)Perhatikan warnanya, jika tahi lalat bercampur warna coklat, hitam, dan sawo matang, bukan sekadar satu warna utuh keseluruhan. Tahi lalat yang berbahaya akan berbentuk seperti bercak yang memiliki corak nuansa berbeda dari satu famili warna. Misalnya, di tengah berwarna merah muda yang berangsur menggelap kemerahan di pinggirannya, atau kebalikannya. Karena tahi lalat yang normal warnanya tetap solid, sama rata di segala sisi.

<ul>

  • D untuk DiameterPerhatikan ukurannya, jika tahi lalat lebih besar dari penghapus pada pensil (sekitar 6 mm).

<ul>

  • E untuk Evolving (Perubahan) Tahi lalat berubah warna, ukuran, bentuk sehingga terlihat sangat berbeda dibandingkan dengan semua tahi lalat lain pada kulit.

Bahayakah Jika Muncul Tahi Lalat pada Bayi? (1)
zoom-in-whitePerbesar

Dari ciri ABCDE di atas, perhatikan pula rasanya, jika tahi lalat terasa gatal, berdarah, bersisik, keluar nanah, pembengkakan di luar tepian tahi lalat, nyeri, atau sakit saat disentuh.

Selain itu, Moms juga perlu perhatikan tiga karakteristik di bawah ini:

  • Ada lebih dari 100 tahi lalat di tubuh.

  • Kebanyakan ukurannya lebih dari 8 mm

  • Kebanyakan berbentuk atipikal.

Bila Moms menemukan salah satu ciri tersebut, segeralah bawa anak ke dokter spesialis kulit agar bisa dianalisa lebih lanjut.

Jika ingin menghilangkan tahi lalat karena merasa tahi lalat tersebut mengganggu, sebaiknya Moms berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter spesialis kulit. Saya juga pernah menghilangkan beberapa tahi lalat yang saya rasa itu mengganggu, tetapi tentunya saya berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter spesialis kulit. Biasanya dokter akan melakukan tindakan di-cauter atau dibakar/dilaser yang sebelumnya dianestesi terlebih dahulu.

 

Semoga bermanfaat.

By: Paramitha Dwi wulandari

Copyrighty by Babyologist