Konten dari Pengguna

Bau Tangan

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bau Tangan
zoom-in-whitePerbesar

Istilah bau tangan pun pertama kali saya dengar dari ibu salah seorang teman, saat menjenguk saya sehabis melahirkan. Kala itu, saya pikir bau tangan itu artinya tangan saya bau atau kotor, sehingga tidak boleh menggendong bayi. Ternyata artinya bukan begitu. Jadi, istilah bau tangan artinya tidak boleh terus-terusan digendong, karena nanti bayinya bisa manja. Saya bisa kerepotan, karena bayi minta digendong terus. 

Sebagai ibu yang baru saja melahirkan anak, pastinya saya sangat senang bayi dalam perut sudah keluar. Jadi, maunya menggendong terus saking gemasnya. Namun setelah mendengar orang ngomong begitu, rasanya bikin hati runtuh. Si Koko baru saja berumur hitungan jam, masa saya mesti cuek-cuek saja saat ia minta dipeluk. 

Malahan saya disuruh untuk jangan terlalu sering menggendong bayi. Gendong seperlunya, misalnya saat bayi lapar saja untuk menyusu. Selebihnya, ia menyuruh untuk menaruh bayi di ranjang saja, biar nanti besarnya tidak manja dan rewel.

Meski saat itu saya tidak mengerti apa-apa, saya tidak menelan mentah-mentah juga omongan orang lain. Hampir terhasut, bahkan pernah dijalani juga. Namun saya pribadi tidak tega mendengar suara anak menangis, jadi ya tetap saya gendong.

Saat itu, saya juga belum mencari tahu tentang kebenaran dari istilah bau tangan itu sendiri. Saya termasuk orang yang hanya mendengar pengalaman beberapa teman saja. Lagi pula saya pikir, anak saya saat itu masih sangat kecil. Namanya anak kan tidak selamanya jadi bayi terus, pasti berkembang.

Sekarang, saya sudah punya bayi lagi. Si Koko baik-baik saja tuh, tidak ada rewel dan manja yang berlebihan juga. Padahal, dari kecil ia sudah sangat sering saya gendong. Malahan si Koko lebih nempel ke saya ketimbang nempel ke papanya. 

Sampai ada salah satu artikel yang mempelajari tentang baby wearing, pengetahuan saya jadi bertambah. Saya pun menemukan beberapa alasan untuk menangkal mitos seputar bau tangan, yang masih dianut oleh orang-orang yang mengadaptasi tradisi jaman dulu.

Selain takut kehilangan momen kebersamaan, ternyata manfaat menggendong bayi sangat banyak, seperti:

Bayi lebih happy saat digendong, tidur lebih nyenyak dan cepat terlelap, serta tidak mudah tantrum (it's true, saya sangat merasakan hal ini).

Bayi lebih sehat. Karena saat digendong, bayi merasakan detak jantung, ritme napas, dan gerakan tubuh ibunya. Jadi, menggendong membantu bayi meregulasi tubuhnya sendiri, seperti suhu badan, dan mengatur pernapasan menjadi lebih baik.

Membangun komunikasi antara orang tua dan anak melalui bahasa tubuh, gerakan, dan ekspresi wajah.

Menggendong membangun kedekatan anak dan orangtua, serta meningkatkan hubungan batin.

Bahkan jika menggendong dengan gendongan yang tepat, orang tua lebih nyaman beraktivitas. Jadi sambil menggendong bayi, Moms tetap bisa mengasuh dan merawat anak.

 

Semoga bermanfaat.

By: Meiliyanti Tjioe.