Konten dari Pengguna

Bayi Menolak Dot? Bagaimana Ini?

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayi Menolak Dot? Bagaimana Ini?
zoom-in-whitePerbesar

Pemberian botol dot kepada bayi, banyak menjadi kekhawatiran banyak ibu karena adanya risiko bingung puting. Namun, ada juga ibu yang memilih untuk memberikan botol dot kepada bayinya, bukan karena tidak tahu mengenai risiko ini, tetapi banyak ibu yang karena bekerja harus menitipkan anaknya ke neneknya atau pengasuh.

Tentunya ketika kita menitipkan anak kita ke orang lain, kita akan sebisa mungkin mempermudah mereka untuk mengurus anak kita. Salah satunya adalah dengan memperbolehkan mereka memberi ASIP atau susu formula dengan botol.

Karena saya direct breastfeeding, saya mencoba banyak metode alternatif pemberian ASIP 1 bulan sebelum saya kembali bekerja, misalnya sendok, cup feeder, soft cup feeder Medela, dan pipet. Namun tidak ada yang berhasil karena lama sekali memberikannya, anak saya menangis dan anak saya sering sekali tersedak.

Saya juga sudah pergi ke konselor laktasi. Akhirnya, saya memutuskan untuk memperbolehkan anak saya diberikan ASIP dengan botol pada saat saya sudah masuk bekerja. Ternyata, anak saya menolak botol tersebut dan ini menjadi masalah karena anak saya baru berusia 2.5 bulan.

Saya juga sudah mencoba beberapa merek botol, misalnya Pigeon, Avent, Comotomo dan Medela Calma. Satu-satunya cara yang berhasil adalah bayi ditidurkan terlebih dahulu dan dot diberikan ketika bayi sudah drowsy atau setengah tertidur. ASIP selalu disiapkan 120 ml untuk sekali makan dan terkadang tidak habis karena bayi terbangun.

Selama saya tidak ada di rumah (kira-kira 10 jam), bayi saya hanya minum ASIP 3 kali. Hal ini sangat mengkhawatirkan saya, namun ketika saya berkonsultasi dengan dokter spesialis anak, beliau mengatakan bahwa hal tersebut tidak masalah. Selama bayi mengejar kebutuhan makanannya ketika saya di rumah dan berat badannya naik sesuai kurva maka tidak ada yang salah. 

Semenjak anak saya berusia 8 bulan dan MPASI mulai lancar, ternyata anak saya semakin menolak dot. Cara yang digunakan sebelumnya pun tidak dapat digunakan lagi. Akhirnya, saya memutuskan untuk tidak memaksakan pemberian dot dan ada dua alternatif yang saya gunakan:

<ul>

  • ASI diberikan dengan sendok atau dengan spout cup ketika jam makan MPASI. Dengan metode ini, bayi saya mau minum 20-30 ml saja.

  • ASI tidak diberikan dan bayi akan mengejar ketinggalan ASI ketika ibu di rumah.

Namun, terus pantau berat badan dan tinggi badan bayi ya, Moms agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Semoga bermanfaat.

By: Adelia Nataadmadja

Copyright by Babyologist