Beberapa Alternatif Pengobatan Mutisme Selektif

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!
Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mutisme selektif (selective mutism) adalah sebuah gangguan kecemasan kanak-kanak yang sangat unik karena relatif cukup jarang terjadi dalam kehidupan seseorang. Menurut DSM-5, kondisi ini diderita oleh 0,03% hingga 1% tergantung pada situasi. Kondisi ini lebih cenderung muncul pada anak-anak daripada orang dewasa. Gangguan ini tampaknya tidak bervariasi berdasarkan jenis kelamin atau ras (etnis). Biasanya, gangguan ini mulai muncul dalam kehidupan anak sebelum lima tahun. Akan tetapi, banyak anak tidak didiagnosis sampai mereka masuk sekolah.
Pada dasarnya, mutisme selektif memiliki ciri-ciri ketidakmampuan untuk berbicara dan berkomunikasi secara efektif dalam situasi sosial. Anak-anak penderita mutisme selektif tidak menginisiasi percakapan dan hanya dapat berkomunikasi dengan jelas dan efektif ketika mereka merasa nyaman, aman, dan tenang. Maka dari itu, penderita sering hanya mau berbicara dengan orang tua, kerabat dekat, dan teman dekat.
Pengobatan mutisme selektif dapat melibatkan kombinasi psikoterapi dan pengobatan, meskipun psikoterapi umumnya merupakan rekomendasi pertama. Beberapa anak dengan mutisme selektif memiliki gangguan berbicara dan berbahasa yang terjadi bersamaan. Meskipun ini tidak selalu terjadi, adalah ide yang baik untuk mendapatkan hasil tes kemampuan berbicara dan berbahasa untuk mengesampingkan kemungkinan gangguan komunikasi.
Pengobatan mutisme selektif dapat melibatkan kombinasi psikoterapi dan pengobatan.
Strategi perilaku dan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) adalah perawatan terapeutik yang paling banyak didukung untuk mutisme selektif. Menggunakan berbagai macam strategi yang ditujukan untuk mengurangi kecemasan di bawah perilaku, intervensi terapeutik ini membantu anak-anak belajar untuk secara bertahap terlibat dalam perilaku berbicara lebih banyak.
Intervensi perilaku harus disesuaikan dengan anak tertentu, tetapi dapat mencakup hal berikut:
Manajemen kontingensi: Bantuan positif untuk perilaku verbal mulai dari berbisik dan menunjuk hingga verbalisasi dengan suara keras.
Shaping: Shaping atau membentuk perkiraan perilaku yang diinginkan.
Stimulus fading: Secara bertahap meningkatkan jumlah orang dan tempat di mana percakapan dihargai.
Desensitisasi: Anak-anak secara bertahap dipaparkan ke situasi yang menimbulkan kecemasan karena percakapan dibutuhkan tetapi diberikan dukungan emosional dan bimbingan dengan latihan relaksasi untuk membantu mereka mengatasi kecemasan tersebut.
Cognitive reframing: Anak-anak diajarkan untuk mengidentifikasi pola-pola kecemasan dan muncul dengan pemikiran-pemikiran alternatif yang positif.
Keterampilan sosial: Dalam pekerjaan kelompok dan individual, anak-anak dapat mempraktikkan keterampilan interaksi sosial untuk mengurangi kecemasan antisipatif terkait dengan keterlibatan dalam interaksi timbal balik. Termasuk masuk ke dalam dan keluar dari kelompok, memasuki grup saat bermain, dan menggunakan serta memahami komunikasi nonverbal (misalnya, kontak mata dan bahasa tubuh).
Membangun harga diri melalui terapi bicara dan terlibat dalam bidang yang diminati juga dapat bermanfaat bagi anak-anak dengan mutisme selektif. Penting untuk mengikuti arahan anak dan menemukan kelompok dan kelas yang menarik. Dengan melakukan hal ini, anak-anak akan merasa lebih nyaman di lingkungan yang baru.
Meskipun kadang-kadang terasa seperti perilaku anak-anak dengan mutisme selektif ini keras kepala, perawatan dini dapat membantu anak-anak dengan mutisme selektif belajar untuk berbicara lebih sering dan meningkatkan hasil akademik dan sosial mereka sebagai hasilnya.
Semoga bermanfaat.
By: Babyologist Editor.
