Konten dari Pengguna

Cerita Mom Gina ketika Janinnya Terlilit Tali Pusar

Babyologist
The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!
22 Maret 2019 18:20 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Setiap ibu hamil pasti akan selalu menjaga agar bayinya sehat sampai hari persalinan tiba. Namun terkadang, masalah datang menghampiri, contohnya ketika si janin terlilit tali pusar.
ADVERTISEMENT
Saya sendiri sempat mengalaminya ketika hamil Sofia kemarin. Sewaktu usia kehamilan sudah 32 minggu, bayi saya memiliki dua lilitan tali pusar di bagian leher. Kata dokter, lilitan tersebut longgar sehingga tidak mencekik leher Sofia. Aliran darah dari plasenta pun tidak terganggu sehingga anak saya tetap bisa mendapat oksigen dan makanan.

Apa penyebabnya?

ADVERTISEMENT

Adakah tanda-tandanya?

Tergantung, kalau tali pusar yang melilit leher janin bersifat longgar, mungkin Moms tidak merasa ada perbedaan sama sekali, seperti yang saya rasakan.
Jadi, janin saya tetap bergerak dan menendang-nendang ketika diajak ngobrol atau didengarkan musik klasik. Tapi kalau lilitannya kencang, mungkin gerakan si bayi akan berkurang meski sudah distimulasi.

Apa yang harus dilakukan?

Waktu itu sih saya diminta untuk sering melakukan gerakan sujud, mengelola emosi sembari membisikkan kalimat positif agar si bayi perlahan-lahan bisa melepas tali pusar dengan sendirinya.
Tapi hingga hari persalinan tiba, tali pusar masih melilit leher Sofia. Namun saya tetap bisa melakukan persalinan normal, karena lilitannya memang bersifat longgar sehingga dapat dilepas dokter kandungan begitu kepala si bayi keluar.
ADVERTISEMENT
Namun kalau lilitan tali pusar itu ketat, maka operasi caesar adalah jalan terbaik untuk menyelamatkannya. 
 
Semoga bermanfaat.
By: Regina Nabila Fiardini
Copyright by Babyologist