Konten dari Pengguna

Dampak Kekerasan Verbal pada Anak

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dampak Kekerasan Verbal pada Anak
zoom-in-whitePerbesar

Kekerasan verbal adalah kekerasan terhadap perasaan dengan menggunakan kata-kata yang kasar tanpa menyentuh fisiknya. Dan ini bs berdampak pada kondisi emosional anak. Pelaku Kekerasan Verbal Pada Anak biasanya adalah orang dewasa

Sebenernya kekerasan verbal kebanyakan dilakukan bukan karena niat jahat, melainkan tujuannya baik, untuk mendidik anak, hanya pemilihan katanya yang berbau negatif, contohnya: " Kok bego amat sih jadi anak!! Punya otak gak sih? Tuh liat si dedek saja lebih pintar, masa kamu gak bisa ngerjainnya. Kamu emang gak bisa dipercaya ya? "

Ada beberapa bentuk kekerasan verbal, yaitu ucapan-ucapan yang bersifat:

Intimidasi

Memaki

Menghina atau Merendahkan

Menggertak atau Mengancam

Meneriaki

Fitnah

Menakut-nakuti

Labeling

Dan masih banyak lagi contoh-contoh kata2 negatif yang merupakan kekerasan verbal. Baik sengaja ataupun tidak, ini tetap masuk kategori kekerasan verbal karena biasanya akan berdampak pada perkembangan emosional anak

Beberapa dampak kekerasan verbal yang bisa terjadi pada anak:

Tidak Percaya Diri

Anti Sosial

Prestasi Menurun

Pendendam

Membangkang

Prestasi Menurun

Selalu cemas

Murung & Sering merasa depresi

Agresif

Mudah Stress

Terjadi Gangguan Mental

Selain itu masih banyak lagi dampak negatif lainnya dan ini akan berpengaruh buruh terhadap tumbuh kembangnya. Oleh karena itu, sebagai orang tua, kita harus berhati-hati dalam berbicara dan juga harus bisa mengontrol emosi

Untuk menghadapi anak yang sdh terlanjur mengalami dampaknya, usahakan untuk lakukan pendekatan dan beri perhatian dan bicara dari hati ke hati, jika tidak berhasil, dapat dikonsultasikan pada dokter anak atau psikolog.

Semoga bermanfaat.

By: Felicia Denisa