Konten dari Pengguna

Etika dan Tips Saat Bertemu Bayi Orang Lain

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Etika dan Tips Saat Bertemu Bayi Orang Lain

Seringkali kita menemui dan melihat fakta bahwa banyak orang dewasa (read : kita) yang tidak tahu etika saat bertemu dengan bayi orang lain. Menurut saya, hal ini sangat menjengkelkan, Moms. Padahal, bayi masih rentan terhadap kuman, bakteri, dan virus yang tanpa kita sadari telah terbawa karena kita melakukan banyak aktifitas dan bersentuhan dengan berbagai benda yang berpotensi membawa bibit penyakit. 

1. Tidak sembarangan menyentuh bayi

Kita sering kali tidak mau memahami bahwa tangan kita membawa kuman, bakteri, bibit penyakit yang bisa jadi berbahaya untuk bayi. Kemudian kita menyentuh pipi, lengan, kaki, kepala dan bagian tubuh lain dari bayi. Seharusnya, kita memiliki rasa segan dan menyadari bahwa tubuh kita kotor karena menyentuh berbagai macam benda sebelum menyentuh bayi, misalnya handphone. Seperti yang kita tahu, handphone merupakan salah satu benda yang paling banyak membawa kuman dan bakteri. Jika kita ingin menyentuh bayi, hindarilah area wajah terutama bibir karena sangat rentan dan gunakanlah hand sanitizer

2. Meminta ijin jika ingin menyentuh, mencium atau menggendong 

Satu hal ini sangat diperlukan tapi jarang dilakukan. Seringkali saya menemui orang yang sembarangan menyentuh area wajah, dan ini saya alami sendiri. Mereka dengan tenang dan santai menyentuh atau mencium bayi saya, tanpa memikirkan perasaan saya. Selama ini, saya beberapa kali berhasil menggagalkan usaha mereka untuk mencium bayi saya. 

3. Tidak melakukan baby-shaming 

Hal ini sepertinya akan sangat sulit dilakukan. Pelaku baby-shaming bukan hanya dari orang yang tidak dikenal, teman, tetangga, kerabat, namun juga keluarga dekat. Bayi saya bahkan mengalami baby-shaming dari Ibu Mertua saya yang mengatakan bayi saya hitam, rambut tipis merah jelek, jidat selebar lapangan bola, bahkan dipanggil dengan sebutan "tuyul". Sangat menyakitkan bahkan jika kata-kata tersebut dimaksudkan untuk bercanda. Seharusnya bayi tidak perlu mendengar dan mendapatkan kata-kata yang tidak baik. Kondisi seperti inilah yang harus dipahami oleh kita sebagai orang dewasa. Kita harus mampu menjaga pernyataan, pertanyaan, dan juga sikap supaya tidak menyakiti Ibu dan juga bayi. 

Tiga (3) poin diatas adalah 3 (tiga) hal dasar yang harus diperhatikan, dipahami, dan tentu saja dilakukan. Kita tidak pernah tahu akibat apa yang timbul karena ketidakpedulian kita. Nah, setelah mengetahui 3 (tiga) hal dasar tersebut,

ada beberapa tips yang bisa kita lakukan dilihat dari 2 (dua) sudut pandang, yaitu:

1. Sebagai Ibu 

Hal-hal yang dapat dilakukan adalah;

- Selalu menyediakan hand sanitizer dan tisu basah di tas

- Bersikap tegas namun tetap sopan terhadap orang yang ingin menyentuh bayi

- Berani melarang untuk tidak mencium area wajah terutama bibir

- Berani menyampaikan pendapat kepada siapapun

- Bersikap tegas dengan pelaku baby-shaming

- Memperbanyak senyum

- Jika tidak mampu menolak, segera tinggalkan tempat

2. Sebagai Orang Lain 

Hal-hal yang dapat dilakukan adalah;

- Menyadari bahwa kita adalah orang lain yang tidak memiliki hak apapun atas si bayi

- Selalu menjaga kebersihan tubuh terutama tangan

- Usahakan untuk mencuci tangan dan membersihkan mulut sebelum menyentuh dan mencium bayi

- Tidak menyentuh dan mencium area vital bayi

- Sediakan dan gunakan hand sanitizer jika memungkinkan

- Jaga ucapan dan sikap agar tidak melakukan baby-shaming 

- Hargai dan hormati perasaan dan hak orang tua si bayi

- Pahami jika orang tua si bayi melarang kita untuk menyentuh dan mencium