Hati-Hati dalam Memilih Teether Bayi!

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!
Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika gigi si Kecil mulai tumbuh, ia akan cenderung memasukkan macam-macam benda ke dalam mulutnya. Bayi melakukan hal tersebut untuk meredakan rasa gatal selama proses tumbuh gigi sedang berlangsung. Untuk mencegah si Kecil memasukkan benda berbahaya ke dalam mulutnya, orang tua umumnya akan memberikan teether pada sang anak. Namun, Mom juga harus berhati-hati dalam memilih teether, karena ternyata tidak semua teether aman bagi bayi.
Sebagian orang tua mungkin beranggapan bahwa teether yang berlabel “BPA-free” atau “non-toxic” sudah terjamin kualitasnya, namun nyatanya tidak. Kurunthachalam Kannan, ilmuwan peneliti di New York State Department of Health and the School of Public, membuktikan bahwa dari 90% teether berlabel “BPA-free” yang mereka teliti masih memiliki kandungan senyawa BPA (Bisphenol-A).
Mom harus berhati-hati dalam memilih teether, karena ternyata tidak semua teether aman bagi bayi.

Kurunthachalam Kannan melaksanakan penelitian terhadap 59 teethers (termasuk jenis yang padat, berisi gel, serta air), dan ia berhasil menemukan 26 zat yang mampu merusak sistem kerja endokrin. Kandungan tersebut juga nantinya mampu mengganggu keseimbangan hormonal serta berujung pada masalah pertumbuhan, reproduksi, neurologis/sistem saraf, sistem imun, bahkan meningkatnya risiko kanker.
Penelitian oleh Kannan dilakukan dengan cara meletakkan teether pada air, kemudian setelah beberapa jam ia menemukan adanya zat kimia yang luluh dari teether, seperti BPA, ragam parabens dan antimicrobials, termasuk triclosan dan triclocarban. Penelitian ini kemudian dipublikasikan oleh the American Chemical Society’s journal Environmental Science and Technology, dan mereka menyebutkan bahwa zat berbahaya tersebut juga ditemukan pada teether yang berlabel BPA-free/non-toxic.
Badan hukum di Amerika Serikat telah melarang penggunaan BPA, Parabens, dan antimicrobials pada produk bayi dan anak, karena mengonsumsi zat ini dalam takaran tertentu bisa mengakibatkan gangguan hormon dan masalah kesehatan lainnya. Sayangnya, peraturan serupa belum diterapkan sepenuhnya pada teether.
Perlu Mom ingat bahwa berbeda dari mainan biasa yang bersentuhan dengan kulit, teether akan bersentuhan langsung dengan rongga mulut bayi, sehingga zat kimia pada teether lebih mudah menyerang tubuh si Kecil.
Selain BPA, Mom juga harus mewaspadai kandungan seperti polyvinyl chloride (PVC) dan phthalates, kedua zat ini sering digunakan pada produk plastik termasuk teether, dan keduanya juga memiliki sifat karsinogen (dapat memicu kanker).
Mungkin Mom mulai berpendapat untuk segera mengganti teether yang memiliki bahan dasar lain, seperti karet. Teether karet memang lebih aman, namun teether karet ternyata bisa menyebabkan alergi latex karena adanya kandungan protein latex yang dimilikinya. Untuk itu, jika Mom ingin memberikan si Kecil teether karet, pilihlah yang berbahan dasar silikon. Bahan silikon tidak akan memicu reaksi alergi, bahkan yang medical-grade dikategorikan sebagai hypoallergenic/mencegah terjadinya alergi.

Teether akan bersentuhan langsung dengan rongga mulut bayi, sehingga zat kimia pada teether lebih mudah menyerang tubuh si Kecil.
Mom juga sebaiknya menghindarkan si Kecil dari teether yang berisi gel/cairan. Gigitan bayi mampu merobek teether dan mengakibatkan dirinya menelan cairan dari teether, sehingga berpotensi membuatnya tersedak atau bahkan menelan cairan yang telah terkontaminasi. Teether yang berisi gel/cairan memiliki pengawet seperti paraben, sehingga akan berbahaya jika tertelan.
Sangat penting bagi Mom untuk menghindarkan bayi dari paparan kandungan bahan kimia, termasuk dari teether pada awal-awal kehidupannya. Hal ini dikarenakan anak-anak yang terekspos bahan kimia berbahaya saat masih bayi bisa mendatangkan efek negatif di masa yang akan datang. Kontributor medis dari CBS News, Dr. Tara Narula menyebutkan adanya risiko kesehatan yang mungkin terjadi akibat paparan zat kimia saat usia muda, beberapa di antaranya ialah:
<ul>
Asma
Diabetes
Gangguan perkembangan saraf
Obesitas
Kelainan reproduksi
Jika Mom belum mendapatkan teether yang sesuai untuk si Kecil, Dr. Tara Narula merekomendasikan untuk sementara menggunakan bagel, wortel, ataupun washcloth yang dibekukan. Namun, salah satu dampak negatif dari makanan yang dibekukan ialah tidak dapat digunakan kembali, sehingga Mom harus rutin mempersiapkan teether sebelum digunakan.
Semoga bermanfaat.
By: Babyologist Editor
Copyright by Babyologist
Referensi:
