Konten dari Pengguna

Hiperlaktasi Dipumping Aja!

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hiperlaktasi Dipumping Aja!

Bisa di bilang saya salah satu ibu dengan kondisi hiperlaktasi, dimana tubuh saya lebih banyak memproduksi ASI di banding dengan kebutuhan si bayi. Hiperlaktasi jika tidak di tangani dengan baik bisa beresiko masitis, bengkak, dan ASI tersumbat.

ASI saya mulai keluar sejak UK 16week, awal mula cuma setetes, makin besar UK ASI nya makin banyak yang keluar sampai tembus ke baju. Selama hamil saya selalu pake breastpad kalo lupa baju basah kuyup buat tidak PEDE aplg kondisi masih ngantor. Selama hamil saya berteman baik dengan warna gelap dan motif.

Setelah selesai proses SC baju sudah banjir ASI sampai ke perut2 saking derasnya. Bidan dan dokter datang untuk check, mereka pada heran dengan ASI yang membasahi tubuh saya. Karna saya tidak bawa breastpad ke RS akhirnya bidan menyarankan saya make pembalut agar ASI nya tidak merembes kemana-mana. Dan dokter laktasi mengajari saya untuk menyusui dengan pelekatan yang tepat, dokter pun menyarankan untuk rutin di pumping 2 jam sekali sebelum dan sesudah menyusui agar tidak mengalami resiko mastitis, bengkak dan ASI tersumbat.

Pertama kali pumping di RS saya dapat 30-50ml dan kuantitas ASI semakin meningkat dengan rajin pumping, sekali pumping kanan kiri di minggu awal bisa dpt 260ml. Frezer sampai full tank sedangkan saya mengutamakan DBF. ASIP buat stok selama saya kerja nanti, karna freezer full akhirnya saya titipkan di kulkas mama pada akhirnya saya juga beli freezer khusus ASI.

Hiperlaktasi juga bisa membuat bayi tersedak karna aliran ASI yang sangat deras. Selain itu hiperlaktasi juga bisa menimbulkan masalah pada ibu:

1. Kurang tidur

Karna payudara cepat penuh jadi walaupun bayi tidak menyusu kita tetap harus mengeluarkan ASI dengan pumping 2 jam sekali.

2. Tidak Nyaman

Ketika payudara penuh tapi bayi tidak mau menyusu di situ sakit bukan main. Kalo tidak buru2 di keluarkan ASInya akan keluar sendiri dan buat baju basah kuyup.

3. Ketergantungan mesin pumping

Selain harus rajin DBF juga harus rajin pumping itu mesin pumping selalu deket dan di bawa kemana pun saya pergi. Check up pun bawa alat pumping. DBF dan pumping dimana pun.

Hiperlaktasi memang membuat saya repot, harus rajin-rajin pumping dan baju jadi basah terus karena ASI tidak berhenti keluar. Namun di sisi lain saya harus banyak banyak bersyukur karena diberikan berkah dalam bentuk ASI yang berlebih. Sombong sekali jika saya membenci diberikan ASI banyak seperti ini, sedangkan siapa yang akan menjamin pasokan ASI saya bisa seperti ini terus.