Konten dari Pengguna

Ih, Kok ASI-nya Begitu, sih?

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ih, Kok ASI-nya Begitu, sih?

"ASInya kok sedikit banget?"

"ASInya kok bening, harusnya kan kuning?"

"Kok encer sih? Saudaramu kentel banget lho."

"Anaknya nangis terus tuh, laper kayaknya. Kurang kali ASImu."

Dan sebagainya. Dan sebagainya.

Hai, Moms! Sering mendengar ucapan seperti di atas? Pernah mengalaminya sendiri? Tenang, kalau Moms pernah mendengar ucapan sejenis di atas yang ditujukan untuk Moms, Moms tidak sendirian hehe. Saya juga mengalaminya, dan terjadi pada bulan-bulan pertama pasca melahirkan. Setelah kelelahan melewati proses melahirkan, rupanya perjuangan seorang ibu tidak berhenti sampai di sana ya Moms. Tantangan berikutnya adalah bagaimana memastikan bahwa gizi anak tercukupi dengan baik, setidaknya di 6 bulan pertama (dan kalau bisa sampai 2 tahun malahan) melalui ASI.

Pada hari ketika saya mau pulang dari rumah sakit, rupanya baby Nimo sedikit kuning sehingga harus difototerapi. Agar lebih cepat naik bilirubinnya, dokter menyarankan anak saya dibiarkan di dalam inkubator tanpa dikeluarkan sedikit-sedikit, yang artinya harus disusui melalui media lain dan bukan pelekatan langsung. Itu adalah hari pertama saya memompa ASI, dan hari di mana saya mendapati ASI saya hanya membasahi pantat botol saja. Mulailah berbagai pikiran lalu lalang di pikiran saya dan rasa bersalah serta ketakutan ASI saya tidak mencukupi. Ketika akhirnya saya dan anak saya diperbolehkan pulang, saya pun mulai belajar pelekatan dengan benar dan secara konsisten memompa ASI saya sehari setidaknya 6 sampai 8 kali demi meningkatkan produksi. Sebulan telah terlewati, alhamdulillah ASI saya sudah tidak membasahi pantat botol lagi. Setiap memerah setidaknya saya bisa dapatkan 50 sampai 60 ml per sesi pompa. Rasa percaya diri saya muncul kembali dan ketakutan ASI tidak cukup itu menghilang, berganti dengan keyakinan bahwa saya pasti bisa menyusui hingga dua tahun lamanya. Dengan pede, saya pompa ASI saya di mana pun saya berada (hehe), dan saat nenek saya melihatnya, dia berkata: "ASImu kok sedikit? Encer sekali, saudaramu itu dulu kentel makanya anaknya gemuk... pantas sering menangis anakmu, kurang ASImu barangkali." DHUARRRRR. Runtuh sudah semua kepercayaan diri saya.

Sejak itu saya takut jika hasil pompaan saya terlihat oleh orang lain, bahkan saya takut menyusui di dekat orang lain. Takut jika baby Nimo menangis dan saya di-judge kekurangan ASI sehingga anak saya menangis karena kelaparan. Produksi ASI hingga bulan kedua dan ketiga tidak bertambah, berada di kisaran 60 sampai 80 ml saja, padahal baby Nimo sudah mulai minum 100 ml dan sebentar lagi saya masuk kerja. Duh!

Nah, ini merupakan permasalahan yang sering dialami terutama bagi ibu baru, Moms. Sering kali lingkungan tidak menyadari bahwa hal sesederhana itu dapat mempengaruhi produksi ASI. Mengapa? Kalimat-kalimat tersebut merupakan salah satu bentuk Mom-shaming yang tidak disadari Moms. Bahkan tidak dimaksudkan, karena mungkin sesungguhnya hanya ingin memberi masukan. Tapi kita para ibu baru dengan perubahan hormon dadakan pasca melahirkan jelas menjadi lebih sensitif. Perkataan sesederhana "kok ASInya begitu sih?" bisa menjadi momok, dan semakin dipikirkan semakin membuat Moms stres dan akhirnya menghambat produksi ASI. ASI diproduksi dengan melepaskan hormon oxytocin, yang harus dipicu dengan perasaan bahagia. Semakin happy Moms, semakin lancar ASInya. Tetapi, bagaimana ya jika kita menghadapi Mom-shaming tersebut? Setidaknya, poin-poin di bawah ini adalah langkah yang saya lakukan untuk melewati masa-masa tersebut:

  • Komunikasikan kegundahan hati Moms kepada siapa saja yang Moms percaya, seperti misalnya suami atau saudara kandung, atau teman dekat. Lebih baik lagi jika ia juga merupakan seorang ibu baru yang sudah melewati fase seperti ini, jadi Moms bisa mendapatkan pencerahan dari pengalaman mereka.
  • Mintalah bantuan suami untuk menjelaskan kepada seluruh keluarga bahwa Moms masih dalam tahap belajar, sehingga perlu support yang positif dari seluruh keluarga. Kenapa suami? Agar penjelasan ini tidak penuh dengan derai air mata Moms! hahahaha
  • Perbanyak literasi dan fokus kepada peningkatan produksi ASI, bekali diri dengan ilmu sebanyak mungkin dan jangan membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Percayalah bahwa Moms dan ASI Moms bagaimanapun rupa dan jumlahnya merupakan yang terbaik yang dimiliki baby Moms, dan itulah yang mereka butuhkan.

Apakah Mom-shaming tersebut langsung hilang? Tentu tidak, Moms! Tetapi, langkah-langkah tersebut dapat membantu Moms untuk lebih positif menghadapi ujaran-ujaran yang tidak mengenakkan, dan terutama meyakinkan Moms bahwa kita tidak sendirian. Jalani hari-hari menyusui dengan pikiran yang lebih positif, happy, dan ASI yang lebih lancar. This is new for us, This is new for our baby. And this is new for everyone around usSo, all of us are on this learning journey together!