Konten dari Pengguna

Jarak Usia yang Dekat Ternyata Membuat si Kakak Jauh Lebih Mandiri

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apakah Mommy termasuk orang tua yang setuju memiliki anak dengan jarak usia yang dekat? Atau malah sebaliknya? Memiliki anak dengan jarak usia yang dekat mungkin akan berdampak baik ataupun sebaliknya, ada lebih dan kurangnya, tetapi saya sendiri memilih untuk mengatur usia anak pertama dan anak kedua dengan jarak usia yang cukup dekat, karena beberapa pertimbangan.

Anak pertama dan kedua saya jarak usianya 18 bulan. Cukup dekat ya, di mana saat anak pertama usianya masih 9 bulan, saya hamil anak kedua. Ini pun dengan perencanaan, memang saya merencakan kehamilan kedua saya ini. 

Sebagian besar orang tua lebih memilih mengatur jarak usia anak setidaknya 3 atau 4 tahun. Dengan alasan, jarak dekat hanya bisa membuat anak pertama tidak terurus dan mulai dihiraukan karena sibuk mengurus si baby. Sementara jika anak pertama masih kecil otomatis segala sesuatunya masih harus dibantu dan belum bisa melakukan semuanya sendiri. 

Sebagian orang tua juga memilih untuk memiliki anak dengan jarak usia yang dekat biar sekali repot, mengurusnya bisa bersamaan, biar bisa punya teman main, biar rumah ramai. Dan saya sendiri memilih untuk memiliki anak dengan usia jarak dekat. Awalnya memang ragu, apa bisa? Mengurus keduanya bersamaan, rasanya jika dibayangkan memang cukup sulit, apalagi dengan kondisi saya hanya tinggal berempat bersama suami dan kedua anak saya di rumah, jadi segala sesuatunya harus saya yang turun tangan, mulai dari memasak, mencuci, mandiin anak, membereskan rumah, nyuapin anak, semuanya saya lakukan sendiri, kadang saat hari libur suami pun turut membantu mengurus anak-anak. 

Banyak sisi positif yang bisa saya dapatkan dan rasakan dengan memiliki anak dengan jarak usia yang dekat. Dan saya bisa melihat perbandingannya dengan anak dengan usia yang sama tetapi masih menjadi anak tunggal. Menurut saya sangat banyak dampak positifnya. Si kakak yang usianya belum cukup 3 tahun, sudah menjadi anak yang sangat mandiri, pengertian, penyayang, dia mampu berbagi dan bersosialisasi. Si kakak sudah jauh lebih mandiri dibanding teman-teman seusianya. Dia tidak manja, dan sangat pengertian. Ini dampak yang secara tidak langsung terbentuk pada karakter anak saya, saya tidak pernah sengaja untuk mengajarkannya mandiri dan tidak manja. Saya tetap melakukan hal yang sama seperti waktu anak masih satu. Tetap memberikan perhatian yang sama. Hanya saja dengan mempunyai adik, dia mulai belajar untuk berbagi, walaupun mungkin awalnya terkadang ada rasa cemburu dan iri di hatinya, tapi sebisa mungkin saya menjelaskan dan menanamkan rasa kasih sayang kepada adiknya. Saya memberikan pengertian bahwa "dulu waktu kecil kakak juga seperti ini, seperti adik."

Lambat laun kakak pun terlihat menjadi pengertian dan penyanyang, terkadang malah meminta untuk melakukannya sendiri, karena melihat adiknya lebih membutuhkan, dan terkadang meminta si ayah untuk membantu membuatkan susu atau menemani main. Berbeda dengan teman sebayanya dengan status masih anak tunggal yang kadang terkesan manja, setiap punya keinginan harus dituruti. Hal ini dapat dikatakan normal karena memang kondisinya yang selalu sendiri, dan perhatian penuh hanya kepadanya saja. Tapi ini tergantung lagi pada pola didik orang tua ya Moms. Saya hanya mengamati dari beberapa anak dengan status anak tunggal.

Jadi, jangan takut untuk memiliki anak dengan jarak usia yang dekat, karena banyak sisi positif yang bisa Moms lihat dan akan Moms rasakan. Anak akan jauh lebih mandiri, pengertian, penyanyang, dan tidak egois, dan yang pasti si kakak dan adik akan senang karena punya teman untuk bermain dan berbagi.

 

Semoga bermanfaat.

By: Azizah Idris

Copyright by Babyologist