Jenis-jenis Alergi pada Si Kecil

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!
Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Alergi adalah kondisi kronis yang melibatkan reaksi abnormal terhadap zat asing yang disebut sebagai alergen. Pada anak-anak usia 0-15 tahun, biasanya akan terjadi reaksi alergi beruntun yang disebut dengan allergic march.

Pada balita, reaksi alergi yang paling umum terjadi adalah eksem dan juga alergi makanan. Tungau (kutu) merupakan salah satu pencetus alergi (eksem) dan asma pada anak yang utama. Biasanya tungau hidup dan dapat berkembang biak dengan baik pada lingkungan dengan suhu yang hangat dan lembap seperti bantal, kasur, karpet, dan barang berbulu seperti boneka. Selain tungau, ada beberapa partikel yang apabila terhirup akan memicu reaksi alergi: Serbuk sari tanaman, kecoak, serpihan kulit binatang, dan jamur.
Untuk alergi makanan, ada beberapa contoh makanan yang termasuk alergen (zat pencetus alergi):
Susu sapi
Kacang kedelai
Kacang-kacangan
Makanan laut (ikan, udang, kepiting, kerang)
Gandum
Telur
Selain dari makanan dan juga zat yang terhirup, reaksi alergi juga dapat terjadi karena faktor keturunan. Apabila kedua orang tua memiliki alergi, maka kemungkinan anak juga akan memiliki alergi adalah 40 sampai 60 persen, ini akan bertambah besar hingga 60 sampai 80 persen apabila kedua orang tua memiliki manifestasi alergi yang sama.
Ada beberapa faktor eksternal yang juga dapat memicu risiko alergi:
Merokok
Polusi udara
Kolonisasi flora normal usus
Kurangnya paparan sinar matahari
Pemberian makanan padat dini
Pemberian susu formula dini
Diet rendah serat, DHA, dan antioksidan
Defisiensi vitamin D
Untuk mencegah reaksi alergi pada si Kecil, Moms and Dads dapat memastikan si Kecil mendapatkan ASI lebih dari 6 bulan, memberikan probiotik dan prebiotik, serta Omega 3.
