Konten dari Pengguna

Ketika Frenotomi Menjadi Solusi Lip Tie & Tongue Tie pada Bayi Kecilku

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika Frenotomi Menjadi Solusi Lip Tie & Tongue Tie pada Bayi Kecilku

Terdengar asing mungkin istilah frenotomi di kalangan kita. Awalnya Saya juga tidak mengetahui istilah tersebut. Kejadian ini berawal dari pengalaman Saya, saat Hamiz didiagnosa lip tie (LT) serta tongue tie (TT) dan disarankan dilakukan frenotomi.

Dalam pemahaman Saya, yang disebut tongue tie adalah struktur frenulum yang relatif pendek, tebal, dan ketat sehingga membatasi gerakan lidah yang bertaut pada dasar mulut. Frenulum sendiri merupakan  lipatan sempit dari membran mukosa yang menghubungkan bagian yang bergerak yaitu lidah kita dan tidak bergerak yaitu dasar lidah. Frenulum ini dapat menstabilkan dasar lidah, tetapi tidak mengganggu gerakan ujung lidah. Sedangkan lip tie yaitu adanya jaringan lunak yang menghubungkan bagian dalam bibir atas dengan gusi di bagian atas, letaknya di tengah.

Sejak Hamiz berusia satu bulan, dokter anak yang menanganinya mengatakan jika penambahan berat badan Hamiz masih kurang banyak. Padahal frekuensi menyusui sangat sering meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama saat menyusu, buang air kecil juga lebih dari 6x dan buang air besar juga cukup. Sehingga saya merasa jika asi saya sebenarnya cukup untuk si kecil.

Tetapi saat diobservasi dan dilihat perlekatan (latch on) baru terlihat jika Hamiz terlihat kepayahan saat menyusu di payudara (PD) sebelah kiri, Hamiz tidak mampu mempertahankan hisapan dalam waktu yang lama sehingga PD mudah lepas. Mulut bagian atas juga sering melipat kedalam saat menyusui sehingga terkadang terasa menyakitkan saat menyusui.  Dari hasil pemeriksaan awal dan observasi tersebut Hamiz diduga mengalami TT.  Akhirnya kami disarankan untuk bertemu salah satu dokter anak yang juga sebagai konselor laktasi.

Senang bisa bertemu dengan salah satu dokter spesialis anak sekaligus sebagai konselor laktasi yang sudah mempunyai sertifikat internasional (IBCLC). Singkatnya, setelah melakukan pemeriksaan ulang dan observasi cara menyusu serta melihat kondisi frenulumnya,  Hamiz didiagnosa tongue tie dan lip tie grade 4 dimana frenum melekat pada papila dan memanjang hingga ke bagian dalam gusi. Ini adalah kelas terberat dan paling banyak menyebabkan gangguan pada bayi untuk mempertahankan perlekatan menyusu yang benar. Oleh karena itu, kami disarankan untuk dilakuan insisi pada frenulum atau bisa disebut frenotomi.  Saya dan suami menyetujui tindakan tersebut, karena kami ingin yang terbaik buat Hamiz dan ini salah satu bentuk ikhtiar kami.

Tindakan frenotomi yang dilakukan berlangsung hanya sebentar,  tidak kurang dari 10 menit dan dipastikan saat sebelum melakukan frenotomi kondisi bayi tidak dalam keadaan kenyang agar bisa dilihat pengaruhnya saat di susuin nantinya. Sesaat setelah dilakukan frenotomi Hamiz langsung menangis kencang dan terlihat darah di bibirnya,  sebagai orang tua tentu rasanya sedih melihat anaknya menangis saat tindakan dilakukan tetapi beruntung itu hanya sebentar dan Saya langsung diminta untuk segera menyusuinya karena obat nya setelah tindakan frenotomi agar darah tidak keluar adalah dengan cara menyusuinya. Jika dilihat, prevalensi kejadian LT TT ini lebih banyak ditemukan pada bayi laki-laki dibandingkan dengan perempuan.

Agar kejadian tersebut tidak terulang kembali kami harus komitmen melakukan senam lidah setiap harinya sebanyak 5 kali selama satu minggu, kemudian 3kali sehari selama dua minggu dan rutin melakukan kontrol kepada konselor laktasi. Dan setelahnya Kawa harus belajar relaktasi kembali.

Proses relaktasi ini membutuhkan kesabaran dan komitmen tinggi, karena setelah tindakan frenotomi si kecil seperti terlahir kembali dengan kondisi lidah baru nya. Sehingga harus belajar untuk melakukan perlekatan, proses adaptasi pada bayi bisa berbeda-beda waktunya beruntung Hamiz mudah beradaptasi dan sekarang sudah pintar menyusunya.

Saya yakin setiap usaha yang diniatin dengan iktikad baik pasti akan membuahkan hasil yang baik pula,  bersyukur perlahan tapi pasti si kecil menunjukkan peningkatan berat badan yang cukup signifikan, dan proses menyusuipun menjadi sangat nyaman serta menyenangkan. Buat ibu ibu yang menemui kendala dalam menyusui secara eksklusif, saran Saya untuk segera mencari bantuan. Selalu ada jalan keluar untuk tiap masalah menyusui salah satunya dengan berkonsultasi dengan konselor laktasi. Dukungan keluarga terdekat dan suami juga diperlukan dalam proses menyusui. Teruslah semangat dalam mengASIhi ya Moms!