Kisahku Menjalani Kehamilan Pertama dengan Mioma

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!
Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bulan April 2017 adalah hari yang akan selalu saya ingat, karena pada hari itu untuk pertama kalinya saya dan suami memeriksakan kehamilan ke bidan. Ada dua hasil yang diterima saat itu. Pertama saya dinyatakan hamil dan usianya baru memasuki enam minggu dan kedua adalah kabar bahwa ada satu buah Mioma dengan diameter 4 sentimeter di dalam rahim saya.
Antara senang dan sedih, bingung apa yang harus dilakukan, terlebih ini adalah anak pertama bagi kami, dan akhirnya kami mencari second opinion, yaitu pergi ke SPOG di sebuah RS di Bekasi. Ternyata jawabannya pun sama, sang dokter pun men-judge bahwa saya harus melahirkan secara caesar jika memang bayi saya bisa bertahan dengan Mioma tersebut.
Tidak puas dengan pernyataan dokter tersebut, kami pun mencari opini lain dari dokter yang sangat santai menghadapi kehamilan dengan myoma. "Selama bisa melahirkan normal untuk apa tindakan caesar? Kalau Allah nanti kasih jalan melahirkan normal Insyaallah dilancarkan walaupun ada myom.”
Apa itu Mioma? Apa Penyebabnya?
Mioma sendiri adalah tumor jinak yang tumbuh di otot/jaringan ikat di bagian mana saja pada rahim wanita. Sampai sekarang penyebab pasti adanya Mioma belum diketahui. SPOG saya pun bilang seperti itu, tapi karena ini terjadi pada kehamilan pertama saya, bisa jadi karena faktor hormonal yang terjadi pada masa kehamilan, dan ini memang umum terjadi pada ibu hamil tanpa adanya tanda-tanda atau riwayat menstruasi yang sakit.
Lantas adakah pantangan makanan? Selama hamil saya hanya diminta pantang makan junk food, makanan pedas, asam, dan makanan mentah yang tidak dimasak sempurna. Tidak ada pantangan khusus sama seperti wanita hamil pada umumnya.
Berbekal kalimat penyemangat dari SPOG tersebut, saya pun selalu bersemangat menghadapi kehamilan saya. Selama 9 bulan ukuran myom saya pun bertambah hingga 11,5 sentimeter. Semakin besar kandungan semakin besar juga Miomanya. Ruang gerak bayi makin sempit, karena harus berbagi tempat dan makanan dengan Mioma.
Alhamdulillah pada 20 Desember 2017, bayi saya lahir dengan operasi caesar, normal tanpa kurang satu apa pun. Berat badannya 2.765 gram, tinggi badan 48 sentimeter. Saya melakukan operasi caesar dikarenakan baru pembukaan satu. Namun setelah diobservasi selama tiga jam detak jantung bayi saya terus melemah, hal itu dikarenakan kepala bayi tidak bisa turun lagi ke bawah karena ada myom di jalur lahir serta sempat terlilit tali pusar.
Memang hamil dengan Mioma itu berisiko, tetapi kita sebagai perempuan tidak boleh pantang menyerah begitu saja. Ibunya kuat pasti janin juga ikut kuat secara otomatis. Sebagai manusia kita hanya bisa berusaha, bersyukur, dan banyak berdoa kepada Yang Maha Kuasa.
Untuk Moms yang mengalami hal seperti ini, saya berpesan agar kalian tetap positive thinking, tenangkan hati kalian, dan berdoa. Moms juga bisa melakukan hal yang sama seperti saya, yaitu berkomunikasi dengan si kecil dan dengan lembut meminta agar tetap sehat, kuat, dan bertahan. Selain itu, Moms tentunya harus rutin memeriksa perkembangan janin ke dokter, ya.
Semangat Moms! Hingga saat ini, 12 Juni 2019, Mioma tersebut pun masih bersarang dengan manis dalam rahim saya. Anak kami, El Zhafran Abrisam (1 tahun 6 Bulan), tumbuh sehat, lincah, ceria, riang, dan normal seperti bayi-bayi lainnya.
